Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

HIJRAHMORFOSIS

BASE 1.5 Cahaya mentari pagi telah mengetuk kelopak mata yang sempat terpejam semalam, begitu menyilaukan sampai membuat mataku agak perih ketika dibuka, "mm.." punggung ku, terasa berat dan ngilu ketika digerakan, "loh, kok aku ada dilantai?" dengan segenap tenaga yang ala kadarnya, aku bangkitkan tubuh ini dari atas lantai untuk duduk sejenak, "mm... rasa-rasanya kok malah dingin banget, ini beneran udah masuk musim panas kan, tapi kok dinginnya nusuk banget kebadan, huachuu! haa.. kayanya aku demam" ku terus menggerutu, "oh iya perempuan kemarin" ku coba bangkit dengan kesadaran yang masih belum utuh untuk memastikan perempuan itu, oh.. ternyata dia masih tak sadarkan diri, yaa... pastinya dia butuh banyak istirahat sih, lebih baik ku siapkan sarapan dulu, lanjut ku melangkah menuju dapur. Dengan agak linglung aku terus menabrak benda disekitar ruangan, kok sekarang kepala juga ikutan berat, jangan-jangan aku beneran kena demam, aduuuh, ke...

HIJRAHMORFOSIS

BASE 1 Kala itu hujan turun begitu deras, deru angin berhembus begitu cepat, namun tetap saja berbeda rasanya dengan tanah kelahiran ku yang ada di seberang sana, disini hujannya terasa begitu dingin, ntah karena disini diisi dengan empat musim atau yang lainnya aku tak begitu peduli. Di tepian jalan orang-orang sudah jarang terlihat, mereka berhamburan memasuki berbagai tempat guna meneduh ditengah hujan lebat, hanya segelintir orang  yang mampu menerjangnya dengan nekat, begitupun di sampng ku, kini sudah banyak orang bersandar didinding, sepertinya mereka sama seperti ku, lupa membawa payung hehe, tapi biarlah, toh mereka juga tak begitu peduli. Beberapa menit telah terlewati, namun banyak dari orang-orang disini tetap mimilih untuk berdiam diri, aku pun awalnya berpikiran untuk tetap menetap seperti ini, tapi mau sampai kapan? tumpukan tugas sudah ku lewati, ini waktu yang tepat untuk memanjakan diri sejenak dari jeratan pikiran yang sudah mulai penat, ahh ku lanjut jalan s...
LENTERA Kegelapan menyadarkan semua tentang buta. Tabrak orang juga benda. Jatuh terluka menggumam derita. Bagaimana wujud sebuah masa? Apakah dia akan menyapa dengan senyum ramah? Atau dengan wajah berurat memperlihatkan kecewa? Berkelana dibawah cahaya jingga. Terus dihantui lilitan karma. Ntah menjelma seperti apa. Membuat diri sulit merasa bahagia. Dibuat takut oleh makna yang tiba-tiba sirna. Karena akal ini tak sanggup menghianati asa. Didepan pemandangan yang kabur didekaplah kedua lutut. Menatap bulan sedang berselimut kabut. Membiarkan urat nadi yang kencang terus berdenyut. Bintang yang menggantung. Apa kalian masih bersenandung? "Berjalanlah lagi" "Terjanglah jalan yang berduri" "Walaupun air mata terlajur menyusuri pipi" "Tetaplah berjalan lagi" "Karena kau tak sendiri" Telapak-telapak tangan yang melukis di langit menyimpang. Seperti kembang yang mekar memberi tanda musim semi telah tiba. Seumpama ...
DUA SEJOLI Dalam balutan kasih cinta yang suci, seorang isteri menatap canggung wajah sang suami yang baru saja kembali, umur pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari, dan mereka pun berusaha saling membiasakan diri. Terlihat bahwa sang isteri bergelagat tidak biasa, dia merasa bahwa dikepala isterinya sudah dipenuhi tanda tanya, sang suami memberanikan diri untuk menyapa pertama, "kamu kenapa?", namun sang isteri hanya menggelengkan kepala tanpa berkata-kata, "kalau ada yang ingin kamu tanya yuk sama-sama kita berbincang bersama disana", sang isteri akhirnya menyetujui ajakannya. Keadaan sunyi tak bersuara, mereka terdiam sama-sama menunggu kalimat pertama, namun gejolak dalam dada sudah tak bisa ditahan lama-lama sehingga sang isterilah yang akhirnya memulai langkah perdana, dalam canggung dan bingung dia mulai bertanya. "mas, kenapa mau menikah dengan saya?" "hmm... karena kamu jodoh saya" "tapi kan saya cuma sarjana, sedangka...
BALADA PENTAS KERA Tak bisa jujur dengan apa yang dikatakan, sulit bertemu dengan maksud yang diharapkan, selalu menatap heran dengan banyak kejadian, hanya terpaut dengan masa lalu yang terus dikenang tanpa ada itikad untuk bisa melaju kencang. Merasa iri tanpa pernah mengoreksi, terus mengemis seperti telah terlucuti, kelakuannya sangat tak tau diri, perkataannya penuh dengan dalih sehingga sulit dimengerti, berharap bisa mengasihi tapi ujungnya dikasihani. Hidupnya seperti panggung pentas, apa yang dianggap kurang pas langsung saja dilibas, tak mau ikut duduk untuk sekedar membahas, karena hatinya telah terlepas sehingga tak mempunyai lagi ciri khas. Dari bilik jendela bagian atas dia melirik ke arah teras, melihat orang tunggang langgang bekerja keras seperti keringat sedang diperas, tapi niat belum juga mau untuk menetas, bahkan tinta saja belum tergores diatas kertas, tubuhnya terlalu malas untuk bergegas mengarungi hiruk pikuk arus kehidupan yang begitu deras, nyalinya kecil...
LUPUT Terasa dekat bahkan sampai terlihat, dengan tangan terlipat bisa sangat mudah didapat, memang tidak saling merapat tapi tidak ada sekat yang terlihat, rasa-rasanya masih sempat untuk bisa terangkat, tak ada tangga apa boleh buat, ku cari saja tongkat yang kuat dan ku genggam dengan erat, "siapa tau dengan begitu aku bisa jadi tambah cepat". Dalam daya yang sedang berusaha ku sadar bahwa ada sesuatu yang terikat, "apa ini yang membuat beban tambah berat?", ku lakukan apa yang bisa ku buat, sedangkan semua sudah melewati garis start, "aduh, kalo begini mana sempat", terdengar suara langkah yang mendekat, di tersenyum sambil menyapa dengan hangat, "jika tekad sudah bulat, jangan ragu lagi, langsung aja sikat, masalah beban yang berat itu karena kamu lihat itu berat, ubahlah yang berat menjadi tak terlihat". Terguran tadi telah berhasil membakar diri dalam semangat, sering ku berdebat namun tetap sulit mencapai mufakat, saran yang dia buat ...
KSATRIA Banyak yang terusik dengan keberadaannya, mahluk terabaikan namun paling tegar perawakannya. Sentuhan lembut mampu membuatnya terbunuh, apalagi jika diinjak dengan kekuatan penuh. Kaki kecil yang terlihat rapuh menghujam ke bumi tanda mereka sudah siap bertaruh. Kenapa lah harus bertaruh jika hasilnya pun tidak mencapai separuh?. Kita tidak saling bertegur sapa, apalagi bertukar cerita, hanya senyap yang berhasil meyela tanpa kami beri kabar berita. "Buat apa mereka mengembara? sudah sana kembali saja, karena kalian bisa saja binasa jika aku tidak sengaja", akan tetapi lenggok langkah kecil merayap cepat seperti ninja membuat mata terus menatap kearahnya. Ternyata dalam langkah sudah terlapis asa, yang menguatkan jika harap tak mencapai rasa. Berkorban nyawa demi sesama, terjalin lingkar hidup tenggang rasa, membuat keyakinan mereka sulit sekali runtuh, walaupun sering sekali mencicipi yang namanya jatuh, mungkin itu sebabnya mereka tidak bisa merasa angkuh. Hid...
BUKA TUTUP Dari awal terasa amat galak, seperti kemerdekaan diri sudah berada dibawah telapak dan terus menerus dipijak, menganggap sudah paling bijak padahal cuma ingin menang banyak, berdalih untk mulai melanjak tapi malah jadinya di cap pembajak, ku hawatir jika ini akan rusak jadi ku putuskan untuk merangkak tidak peduli jika lutut terluka dan membengkak, sedang pandangan terus memperhatikan jarak walau tau bahwa garis finish tidak akan pernah bergerak, dan otak malah sibuk memikirkan sajak, seperti terjebak dalam sebuah kotak dan tak mampu untuk tetap menapak. katanya roda akan terus berputar dan menggilas siapa saja yang tidak pernah sadar, menarik mereka kedalam dasar supaya tetap belajar walau itu terasa amat sukar, karena ilmu yang tumbuh besar sudah pasti memiliki akar, layaknya jangkar yang mampu menahan perahu besar agar  tidak sembarangan berlayar. Berhentilah merasa kekar jika berjalan saja masih belum benar, karena hasil yang tergambar bisa-bisa menjadi hambar da...
PULANGNYA JIWA Keluar rumah tanpa mengatakan apapun sambil berlari. Namun aku malah sampai ditempat seperti ini. Bersama dengan mentari yang hendak pergi, aku mulai tak ingin kembali. Ketika ku sudah putus asa dan tangis tak lagi menjadi wacana. Kota dengan langit senja telah memberi tanda. Burung kakatua berkata bahwa aku sudah terlalu jauh berkelana. Bayangan tubuh ku yang memanjang dijalan. Menarik lengan bajuku untuk segera kembali pulang. Bau ikan bakar, ini bau wangi makan malam. Cacing dalam perut sudah terlalu lama berendam. Aku sudah lelah menjadi keras kepala. Sekarang juga ku harus minta maaf dan menyesali semuanya. Ah, aku ingin segera kembali kerumah. Dihadapan ku muncul anak kecil yang sedang berlari menjauh. Dia terisak dan tersedu-sedu. Tanpa melihat kanan dan kiri dia berlari menjauh seperti tak mau tau. Punggungnya lenyap dalam kegelapan. Seperti diri ku dikala harapan tak kunjung berpapasan. Ku berlari kembali sambil mengusap air mata. Mengejar b...
STRATA ASA Banyak hal yang ingin ku tiru darinya, dari hal yang paling sederhana hingga yang tak terlihat oleh kasat mata, tapi tak kunjung juga ku bisa beriringan dengannya, bahkan dari jalan saja ku tak bisa mengimbanginya. Penilaian orang terhadapnya menembus batas logika, padahal citranya dibangun apa adanya, lantas ko bisa? berperawakan sederhana namun berefek hiperbola, ku makin takjub dibuatnya. Pandangannya menembus zaman, membuat ku terus merasa heran, apakan hanya sekedar tebak-tebakan atau memang melalui panjangnya perhitungan. Jarang ku berselisih pendapat dengannya, mencari tau asas logikanya dan jawaban yang ku terima "memang ku berbeda level dengannya", seperti langit yang tak bertiang, bertabur gemerlap gugusan bintang, walau berperawakan sedang namun pemikirannya begitu panjang melintang. Ibu pernah berkata "jadilah sepertinya", tapi bagaimana caranya jika waktu saja sulit negonya, "ajaklah bicara, kamu akan temukan cerita dibalik senyuma...
CAKRAWALA Sewaktu semua berjalan dalam koridor yang nyaman, hampir segala hal terasa amat mudah digapai dengan usaha yang bisa dibilang kurang maksimal, paling tidak begitu pikir ku waktu itu. Terkadang diri ini heran mengapa terasa amat begitu mudah menggapai keinginan padahal waktu itu kondisi tidak amat buruk untuk memulai langkah baru lagi, seperti dinina bobokan oleh keadaan yang sudah terlajur tinggi. Beberapa kali datang teguran dari ibu dan ayah untuk melihat ke sekeliling diri agar bisa melunakan hati dan segera melakukan gerakan antisipasi sejak dini agar berguna bagi agama, bangsa negara, lingkungan, serta keluarga sendiri. Amat disayangi, itu hanya berfrekuensi kecil jadi tidak sampai bertegur sapa dengan gendang telinga sebelah kiri. Sampailah pada waktu remaja, dengan gejolak yang selalu membara dan menyala-nyala. Banyak sekat pada diri sejak usia dini, membuat pribadi haus akan informasi juga perkembangan teknologi yang erat berdampingan dengan inovasi, memang belum ...