Langsung ke konten utama

HIJRAHMORFOSIS

BASE 1.5

Cahaya mentari pagi telah mengetuk kelopak mata yang sempat terpejam semalam, begitu menyilaukan sampai membuat mataku agak perih ketika dibuka, "mm.." punggung ku, terasa berat dan ngilu ketika digerakan, "loh, kok aku ada dilantai?" dengan segenap tenaga yang ala kadarnya, aku bangkitkan tubuh ini dari atas lantai untuk duduk sejenak, "mm... rasa-rasanya kok malah dingin banget, ini beneran udah masuk musim panas kan, tapi kok dinginnya nusuk banget kebadan, huachuu! haa.. kayanya aku demam" ku terus menggerutu, "oh iya perempuan kemarin" ku coba bangkit dengan kesadaran yang masih belum utuh untuk memastikan perempuan itu, oh.. ternyata dia masih tak sadarkan diri, yaa... pastinya dia butuh banyak istirahat sih, lebih baik ku siapkan sarapan dulu, lanjut ku melangkah menuju dapur.

Dengan agak linglung aku terus menabrak benda disekitar ruangan, kok sekarang kepala juga ikutan berat, jangan-jangan aku beneran kena demam, aduuuh, kenapa malah pas begini kena demamnya, kayaknya kemarin aku ga ..., gawat! aku belum mandi dari hujan-hujanan semalam, argh... kenapa hal sesepele itu aku selalu lupa, haaah~ mau ngeluh tapi ga nyelesain masalah, mau marah juga ga tau mau dilampiasin kemana, dari pada makin runyam mending mikirin mau sarapan apa yang gampang, mana nasi juga blom dibuat, mm... masak telor? digoreng? direbus? apa bikin bubur? ga deh, bakalan lama kayaknya, mm.. ah, roti kemaren kan masih ada, selainya juga masih banyak, tapi.. aku taruh dimana waktu itu? ... di lemari ga ada, di meja makan juga ga ada, aduh ini kepala rasanya udah mau pecah, bikin kopi dulu aja deh.

Mata yang sayup-sayup terus mengedarkan pandangan guna mencari toples kopi, aku terus merogoh seisi lemari dan laci di dapur tapi tak kunjung juga ketemu, sedangkan sisa tenaga ini terus menerus terkuras, padahal cuma mencari ketiga benda itu saja, tapi sesulit ini jika sakit sudah merasuk ke dalam tubuh. Pasrah, aku menyerah mencarinya, sarapan sederhana sudah tinggal angan, dengan perut yang sudah perih dan kepala juga ikutan pusing, tak ada pilihan lain selain masak bahan-bahan mentah yang ada di dalam kulkas, hadeeeh... membayangkannya saja sudah membuat ku kelelahan, tapi apa boleh buat.

Dengan berat hati ku buka pintu kulkas untuk mencari bahan-bahan yang mudah dimasak, dan ternyata di dalam sana justru aku malah menemukan roti, selai cokelat, dan toples kopi, "mikir apa aku waktu masukin ini ke kulkas? ah!" aku pun mengeluarkan ketiga benda itu sambil mengerutkan dahi. Roti dan selai ku padukan bersama, sampai semua sisi roti sudah tertutup selai, lalu aku segera menyantapnya, di dalam gigitan pertama "bushet, dingin amat ya kalo udah masuk mulut" begitulah komentar singkat atas makanan yang ku olah sendiri, biarpun begitu, perut ini masih perih karena terlalu kosong belum terisi, yaa apa boleh buat, ku nikmati saja sambil menyiapkan kopi sebagai pelengkapnya, "haaduuh, berat banget ini kepala" sambil bergumam begitu aku menunggu air mendidih.

Waktu terasa bergulir terlalu lama, aku sempat ingin meinggalkan dapur untuk berbaring diatas sofa, tapi pintu kaca yang berhadapan dengan dapur memperingatkan bahwa pagi telah tiba, sebelumnya aku memang sudah sadar bahwa sekarang ini sudah pagi, tapi didalam dada terasa ada yang kurang, "aduh iya! aku belum sholat subuh" bergegaslah aku ke kamar mandi dengan sempoyongan mangambil wudhu lalu menggelar sajadah di ruang tengah untuk melaksanakan sholat subuh yang terlambat, demam ini menyulitkan ku bergerak, namun biarpun begitu aku tetap menjaga agar khusyuk walau kepala ini terasa ingin membentur lantai karena sudah sangat berat digerakan.

Selesailah menunaikan kewajiban pertama, dan pas pula air yang mendidih sudah terdengar suaranya, tak perlu lagi ku menunggu, kopi yang sudah sedari tadi ku siapkan didalam gelas, ku siram dengan air panas sebagai tahap akhir penyelesaian proses pembuatannya. Asap  yang keluar dari dalam gelas seolah menggoda untuk segara menyantapnya, tapi! ada hal penting lain yang aku lupa lakukan dari tadi, aku lupa memastikan keadaan perempuan itu apakah dia masih hidup atau sudah mati, siiaall!! gara-gara demam ini  aku jadi tidak menyeluruh ketika mengeceknya, semoga, semoga, semoga aja dia masih hidup!

Ku berlari dan membuka pintu kamar dengan keras, aku sudah tidak bisa mengontrol tubuh ku lagi, penglihatan ku mulai samar-samar menangkapnya, gawat! demam ini kayanya udah mulai parah, sambil sempoyongan ku kerahkan segenap tenaga yang tersisa ke arahnya.

Disamping kasur aku melihat jasad perempuan itu masih terbujur lemas diatas tempat tidur, perlahan ku raba lagi pergelangan tangannya dan alhamdulillah denyut nadinya masih ada, hal itu membuat ku sedikit lega, itu tergambar pada bibir ku yang tersenyum tipis sebelum aku terkapar disebelahnya. Pagi hari yang berat telah terlewat dengan aktifitas yang begitu singkat, mungkin ini salah jika harus terbaring di sebelahnya, tapi tubuh ini sudah tak mampu lagi ku gerakan, sedangkan keringat juga terus menerus keluar membasahi tubuh yang sudah terkapar lemas, aku menduga saat ini pasti demamku sudah sangat tinggi, karena aku bisa merasakan sekujur tubuh ini mulai memanas, nafas yang juga sudah tidak beraturan, dan kepala terus memberat, dalam lirih ku berucap kepadanya "maaf, untuk sementara ini aku ga bisa bergerak lagi, semoga kamu bisa bertahan ya"

---<o0o>---

"mm... jam berapa sekarang?" aku melihat lampu kamar yang masih menyala dari kemarin malam, dan posisi ku yang terbaring di atas lantai lagi. "uhuk uhuk, aduuh, tenggorokan ku sakit, minum, aku mau minum" begitu pinta ku, namun... aku tersadar bahwa sekarang ini aku tidak lagi tinggal di apartemen teman kampus, jadi wajar saja jika tidak ada yang menyaut pinta ku tadi, ahh~ ternyata ga enak kalau sakit sendirian.

Aku berusaha membangunkan tubuh ku yang sudah limbung, terlihat pula sosok perempuan itu yang masih terkapar diatas kasur, kali ini aku benar-benar mengecek denyut nadinya, agak sedikit mendebarkan memang tapi alhamdulillah aku masih bisa merasakan denyut nadinya walau lemah,  rasa lega ini tidak berlama-lama menyapa ku hari ini, karena ketika ku lihat wajahnya, nampak bibirnya sudah kering dan pucat. Ahh iya! dia belum makan dan minum apa-apa dari kemarin, pastinya dia sudah sangat lapar dan haus, tapi sayang tubuhnya tidak mengizinkannya untuk berucap demikian. Tubuh ku semakin terasa berat, seperti pusat grafitasi berada di bawah telapak kaki yang menarik seluruh tubuh ini kebawah, nafas ku juga semakin tak beraturan, aku bisa melihat kunang-kunang beterbangan dihadapan ku, ahh sepertinya demam ini sudah mulai parah. Ku balikan badan kearah pintu, tak ku hiraukan rasa pusing ini, tapi sayang kaki ku tak mampu menopang badan ini dan lagi-lagi aku terjatuh, "argh!, duuh, pas jatoh tadi kepala jadi makin sakit" begitu keluh ku saat itu, ingin ku berhenti tapi tiba-tiba muncul kalimat dikepala.

pembunuh 
pembunuh
pembunuh

"hah! hah! hah!" sontak aku pun terkejut, perlahan rasa takut mulai meraba dari telapak kaki dan terus mendaki hingga ujung kepala, kini keringat yang keluar bukan lah karena rasa sakit, tapi karena rasa takut ku yang mulai membesar, "aah! ayo gerak! row! ayo paksa gerak!!" dengan tertatih ku paksa tubuh ini merayap menuju dapur.

Untunglah pintu kamar tidak tertutup setelah ku buka dengan keras tadi, jadi sisa tenaga ini aku kerahkan untuk terus menuju dapur. "hah, hah, hah" nafas ku masih terasa berat, ingin ku berhenti merayap tapi sosok perempuan itu selalu muncul jika aku memejamkan mata sejenak, "sebentar lagi sampe, ayo, sebentar lagi" dari jarak yang tidak jauh aku melihat pintu kulkas juga masih terbuka, alhamdulillah, hal itu sedikit menyemangati perjuangan ini, hingga sampai di depannya aku terkapar sejenak untuk mengembalikan nafas yang mulai tak beraturan, "hah, hah, hah, alhamdulillah nyampe juga", dalam kondisi yang masih kualahan, ku balikan badan ku menghadap ke atas sambil memeriksa apa saja yang tersisa di dalam kulkas. Mungkin ini efek dari demam yang ku paksakan sehingga pandangan ku mulai buram tak karuan, semakin ku coba paksakan untuk memfokuskan pandangan justru kepala ku semakin sakit nyut-nyutan.

"ehh.. itu kayanya sayuran, itu buah, telur, cokelat, daging ayam, dan ini ... kayanya air dingin"

dengan suara yang serak, aku menggambil air dingin dengan sedikit berharap kalau ini bisa mengurangi rasa sakit di tenggorokan ku dan juga memberi tenaga lebih, itu alasan kerennya yang aku buat, sedangkan alasan yang sebenarnya adalah karena cuma itu saja yang bisa ku gapai saat ini. Dengan menacapkan lubang botol itu kemulut, "bismillah" ku meneguknya dengan cepat, perlahan tapi pasti aku mulai merasa lebih segar dan sedikit bertenaga dari sebelumnya, "alhamdulillah" kata ku sedikit sambil menuai senyum.

Kembalinya tenaga yang tak seberapa, ku paksa lagi untuk bisa berdiri dengan menekuk kedua lutut dan menekannya dengan tangan agar tubuh ini mendapat dorongan ke atas dan memudahkan ku berdiri, hap! "yesss aku berhasil berdiri!", terlihat diaas meja masih ada kopi dan roti yang belum selesai ku santap, ku raih kopi yang sudah dingin, tak tercium lagi aromanya dari dalam gelas, selain itu pintu kaca dihadapan ku menunjukan langit yang sudah kembali gelap, "sekarang udah malem lagi", hmm... sambil mengangkat kopi untuk disantap sejenak, tapi... gedebruuuk!! tubuh ini kembali ambruk, lagi-lagi aku terkapar diatas lantai, mungkin ini akibat dari terlalu memaksakan diri, ntah kejadian ini harus berapa kali ku ulangi, semoga seseorang bisa membantu ku dari masalah ini.

Mata ku terus terpaku menatap pintu kamar, tubuh ku sudah tak mampu lagi ku gunakan, sepertinya tenaga ini telah pergi berjauhan dari badan ku, "ya Allah, tolong kami" dengan suara lirih kalimat itu terucap sebagai kalimat terakhir sebelum mata ku terpejam.

                                                                         ---<o0o>---

"hah!!"
"alhamdulillah udah bangun"
"loh kok? ini dimana?"
"dimana lagi kalo bukan dikamar?"
"hee!!?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan