Langsung ke konten utama

HIJRAHMORFOSIS

BASE 1

Kala itu hujan turun begitu deras, deru angin berhembus begitu cepat, namun tetap saja berbeda rasanya dengan tanah kelahiran ku yang ada di seberang sana, disini hujannya terasa begitu dingin, ntah karena disini diisi dengan empat musim atau yang lainnya aku tak begitu peduli. Di tepian jalan orang-orang sudah jarang terlihat, mereka berhamburan memasuki berbagai tempat guna meneduh ditengah hujan lebat, hanya segelintir orang  yang mampu menerjangnya dengan nekat, begitupun di sampng ku, kini sudah banyak orang bersandar didinding, sepertinya mereka sama seperti ku, lupa membawa payung hehe, tapi biarlah, toh mereka juga tak begitu peduli.

Beberapa menit telah terlewati, namun banyak dari orang-orang disini tetap mimilih untuk berdiam diri, aku pun awalnya berpikiran untuk tetap menetap seperti ini, tapi mau sampai kapan? tumpukan tugas sudah ku lewati, ini waktu yang tepat untuk memanjakan diri sejenak dari jeratan pikiran yang sudah mulai penat, ahh ku lanjut jalan saja menerobos hujan, toh di tanah air ku dulu hal seperti ini telah menjadi hobi dan rutinitas dimasa lalu, paling meriang-meriang sedikit tak apa laah~, kan bisa langsung mandi dan lanjut rebahan nanti, yup! ga perlu banyak basa-basi lagi, langsung ambil langkah dan bergegas pergi dengan kecepatan tinggi supaya hal seperti ini ga terlalu membebani.

Langkah cepat terus ku ulangi, "mau apa pun yang terjadi pokoknya lewatin aja, ga usah peduli" begitulah gumam ku kala melewati jalan sempit dan gelap, tapi sangat disayangi, gumaman ku tadi tak berhasil menguatkan gejolak hati ini, bagaimana bisa? tepat dihadapan ku sudah tergeletak seorang perempuan dengan pakaian yang sudah terkoyak dan hampir telanjang! ditambah lagi ada beberapa luka ditubuhnya. "waaaaaa!!" sambil berteriak ku terjatuh, "mayat!! mayat!!", terkejut, takut, pikiran ku mulai kalut, degup jantung seolah berhenti melihat sosok itu, ini pertama kalinya ku melihat pemandangan seperti ini. Dengan tubuh yang masih gemetar ku mencoba bangkit sambil menahan mual, tak ku sangka hari istirahat ku akan dihantui dengan pikiran semacam ini, ku putuskan untuk berbalik badan dan berjalan perlahan meninggalkannya, derap langkah terasa amat berat ku lakukan, lutut ini terasa begitu lemas ketika dipaksakan, tapi kalau tak segera ku mejauh dari sini bisa jadi perkara besar karena nanti aku akan dituduh membunuh perempuan itu, dengan langkah kecil yang terus ku lakukan, ku memegangi perut agar mampu menahan mual, ku sangat berharap supaya tidak ada hal aneh yang akan terjadi.

Berat hati ini melangkahkan kaki agar tetap maju, pakaian yang basah terasa sangat membebani ku, namun sudah tak ada pilihan lagi. Hujan terus mengguyur tanpa henti, sesekali terdengar bunyi petir dari langit yang membuat telinga sedikit berdenging karena kersanya bunyi itu, "uhuk" aku terdiam sejenak, "uhuk uhuk!" suara batuk terdengar beberapa kali, sedangkan ku tau pasti bahwa tidak ada orang disekitar sini kecuali aku dan ... mayat tadi, "uhuk uhuk" suara batuk itu terdengar lagi, aku balikan badan ku dan memastikan perempuan itu, ku pikir dia sudah mati, tapi ternyata masih belum! tak ambil pusing ku bergegas menghampirinya dan memastikan lagi, memang matanya terpejam, dan dia tak bergerak sama sekali, tapi ketika ku raba pergelangan tangannya, ternyata masih ada denyut di nadinya walaupun sangat lemah, dalam bahasa mereka ku mencoba berkata kepadanya "mm maaf, saya bawa kamu kerumah sakit ya" pinta ku sambil menggenggam pergelangan tangannya untuk tetap memastikan denyut urat nadinya. "bu..." katanya pelan, suara hujan sedikit menghalangi suaranya, "kenapa?" aku penasaran dengan suaranya, "bunuh" walau suara itu terdengar pelan dan lirih, tapi ntah mengapa gendang telinga ku mampu manangkap kata barusan dengan sangat jelas.

"bunuh"
"hah?!"
"bunuh aku"
"kamu gila ya? mana mungkin aku mau bunuh kamu"
"tolong, bunuh aku, aku ga punya tempat lagi di dunia ini"
"ga! pokoknya aku ga mau, udah kamu tenang aja, aku bakalan telpon ambulan untuk bawa kamu"
"tolong, kali ini saja, aku mohon sama kamu, tolong bunuh aku, aku udah ga kuat lagi"

Sontak aku terkejut dengan kalimat itu, bagaimana tidak, banyak memar dan luka gores ditubuhnya terlihat begitu jelas, pastinya dia sudah disiksa luar biasa oleh orang lain, tapi bagaimana? permintaannya begitu berat ku lakukan, membunuh? aku sama sekali tidak punya pengalaman membunuh, ini pilihan yang sulit, biar lah dia berkeinginan seperti itu, pokoknya aku akan tetap membawanya ke rumah sakit, tapi... melihat kondisinya yang seakan sudah diujung tanduk itu membuat ku juga semakin tak tega membuat dia manahan rasa sakitnya, ahh! bodo amat! telpon ambulan aja dulu, perkara nanti dipikir nanti aja!

Ku merogoh saku celana dan mengeluarkan handphone, ternyata kejutan kedua datang tiba-tiba, selamat!! hape ku baru saja mati karena terlalu lama bermain air di saku celana, tambah lagi aku tak tau dimana letak rumah sakit didekat sini, siiiaaaalllll!!! bagaimana ini?! apa aku harus ngikutin maunya dia buat ngebunuh dia? ga ga ga, itu pilihan yang ceroboh, aku pun juga ga akan mau jadi pembunuh di negeri orang, apa aku cari orang buat ngebunuh dia? tapi mana ada yang maaauuu!! argh!! gimana nih? oh iya, telpon pake telpon umum kan bisa, siip dah! tinggal uangnya... ku rogoh dompet ku dan mengeluarkannya, namun ternyata, bedebaaaah!! aku lupa uang recehnya udah kepake semua buat beli minum tadi, dan uang kertasnya juga ikutan baasaaaahh!! cih, ini mana bisa dipake! aduh gimana dong? apa aku tinggalin dia aja ya, siapa tau nanti ada orang yang nemuin dia dan bisa bantu dia, hmm..... oke lah, kayanya cuma itu jalan keluarnya. "mm maaf, aku ga bisa bunuh kamu dan bawa kamu ke rumah sakit, tapi kalo kamu sebegitunya mau mati, aku tinggal kamu disini aja ya" kalimat terakhir yang terucap kala aku meninggalkannya di sana seorang diri, aku terus berjalan keluar dari jalan itu, memang itu bukan jalan biasa yang sering ku lalui, dan aku pun tau jalan itu karena teman sebelah apartemen ku yang juga satu kampus dengan ku disini memberi tahu bahwa jalan ini adalah jalan pintas tercepat yang sering dia lalui.

Ku tarik nafas panjang guna menenangkan perjalanan ku ditengah hujan yang lebat, rasa bersalah ini terus bersemayam dalam hati, seperti sedang menggantung di dada, ku berfikir dan terus berpikir dengan tindakan ku barusan, sepertinya tindakan ku yang tadi tidak tepat, tapi aku tak punya pilihan lagi, itu jalan terbaik yang bisa ku lakukan saat ini, paling ketika di apartemen aku sudah bisa melupakan apa yang baru saja terjadi. Sudah ku putuskan untuk berlari ke apatemen sewaan ku yang murah dan seadanya, menyusuri koridor dan menaiki tangga hingga sampai dibibir pintu aku bergegas masuk dan berlari ke kamar mandi dengan pakaian yang terlajur basah, di depan pintu kamar mandi aku terhenti sesaat, dada ini terasa sesak, seperti jatung ini terasa ingin lepas dari tempatnya, "ga bisa, ini salah, aku tetep ga bisa ninggalin dia disana, bisa makin buruk kalo dia ga cepet-cepet ditolong, ah! siiaaalll!! kenapa harus aku coba yang ngalamin ini!!" gumam ku sambil berlari balik ke lokasi tadi dan berharap perempuan itu masih belum benar-benar mati.

Tanpa alas kaki ku berlari dengan pakaian yang ku kenakan tadi menuju jalan yang gelap, hujan ini sepertinya memberikan ku waktu lebih untuk merenungi setiap tindakan ku sedari tadi, dan mungkin ini adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk ku agar aku bisa menolongnya. Sampailah ditempat tadi, aku masih melihat dia dengan posisi yang tidak berubah sama sekali, ini menandakan bahwa belum ada orang yang menemukan dia disini, ku genggam pergelangannya, dan alhamdulillah denyut nadinya masih ada walaupun dia sudah tidak bersuara, "maaf, sepertinya aku masih belum bisa ngebiarin kamu mati begitu aja, jadi aku akan bawa kamu ke tempat aku ya" kata ku kepadanya yang ntah dia mendengar atau tidak, namun! sebelum ku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya itu, ada hal lain terus menghantui pikiran ku, pakaian sobek-sobek yang membuatnya hampir telanjang membuat perhatian ku jadi berantakan, "elaah, ini gimana lagi? hmm... apa boleh buat" ku lepaskan jaket dan mulai menutupi tubuhnya "maaf lagi ya, mungkin ini agak sedikit sakit, tapi tahan sedikit lagi oke, hup!" aku berhasil mengangkatnya dipunggung ku, ini memang terasa berat, tapi ntah kenapa hati ini bisa lebih tenang dari sebelumnya.

Sesampainya di apartemen, aku merebahkan tubuhnya diatas lantai, "kamu disini dulu, aku mau ambil baju ganti sama handuk buat ngeringin badan kamu" bergegaslah aku berlari ke kamar mandi dan ke lemari untuk mengambil segala yang ku butuhkan, hingga sampai semua sudah tersedia, rintangan baru akan segera dimuali, "gimana caranya ganti baju perempuan? mulai dari mana ya? hmm... ini gimana cara ngelepasnya coba? aduuuh, ribet banget daah, udah ah paksa cabut aja bodo amat!" rasa hawatir ku telah menundukan nafsu buas ini yang telah bersemayam dalam diri,  perlahan ku coba lepaskan dan alangkah terkejutnya aku mendapati luka yang banyak disekujur tubuhnya, tidak hanya di depan, di belakang pun juga sama, mungkin karena ini dia meminta untuk segera dibunuh, luka-luka yang sangat menyakitkan, bukan cuma pada tubuhnya, tapi sakit itu juga menyambar kepada ku walau aku hanya melihat sekilas.

Pakaian telah selesai ku ganti, di dalam prosesnya aku terus mengulang kata maaf sambil meneteskan air mata, sekejam apa dia telah disiksa? sampai aku berhasil mengusap mata yang sudah dari tadi berkaca-kaca, ku gendong dia memasuki kamar lalu membaringkannya di atas kasur dan menyelimutinya, "semoga besok pagi kamu bisa sadar ya" dalam lirih ku berpesan begitu. Dimalam itu aku putuskan untuk melewatinya sambil memandang dan mendoakan kesehatannya, agar dia bisa segera pulih dari sakit yang telah dia terima.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan