Langsung ke konten utama
LUPUT

Terasa dekat bahkan sampai terlihat, dengan tangan terlipat bisa sangat mudah didapat, memang tidak saling merapat tapi tidak ada sekat yang terlihat, rasa-rasanya masih sempat untuk bisa terangkat, tak ada tangga apa boleh buat, ku cari saja tongkat yang kuat dan ku genggam dengan erat, "siapa tau dengan begitu aku bisa jadi tambah cepat". Dalam daya yang sedang berusaha ku sadar bahwa ada sesuatu yang terikat, "apa ini yang membuat beban tambah berat?", ku lakukan apa yang bisa ku buat, sedangkan semua sudah melewati garis start, "aduh, kalo begini mana sempat", terdengar suara langkah yang mendekat, di tersenyum sambil menyapa dengan hangat, "jika tekad sudah bulat, jangan ragu lagi, langsung aja sikat, masalah beban yang berat itu karena kamu lihat itu berat, ubahlah yang berat menjadi tak terlihat".

Terguran tadi telah berhasil membakar diri dalam semangat, sering ku berdebat namun tetap sulit mencapai mufakat, saran yang dia buat ku rasa tepat,, ku coba memacu gerak seperti kilat agar sesal tak ku dapat karena aku sudah sependapat, perkara lelah bisa hilang dengan sesaat. Rasa yang memudar tiba-tiba kembali merapat membuat tubuh jadi makin kuat, "sepertinya lari pun masih sempat", dengan menuai senyum penuh keringat melihat jarak yang semakin mendekat, ternyata kejutan memang selalu menyapa terlambat, rupanya rute ini tak terduga dengan akal sehat, "kayanya cuma orang nekat yang bisa lewat rintangan yang super ketat".

Langkah terhenti sejenak untuk rehat sesaat, menarik nafas kuat-kuat sambil mengukur derajat supaya selamat, terlihat dari kejauhan seseorang terus mengumpat sambil melontarkan kata-kata laknat,  menghajar orang dengan bejat agar mayat bisa menjadi bahan untuknya supaya dapat melompat kedalam daerah yang selamat, ternyata cara itu bukanlah cara yang tepat, karena orang itu malah melompat ketempat yang sesat dan tak mampu lagi untuk bisa berangkat. Situasi membuat orang yang selamat terus memikirkan cara hingga penat, sampai tak sadar jika waktu terus bergerak dengan cepat, "apakah ada clue yang terlewat, sampai-sampai jawabannya sulit didapat".

Waktu yang tersisa semakin mengikat, "sudah waktunya untuk minggat, tapi tak ada celah yang bisa dibuat, seleksi alam ternyata memang ketat". Keadaan menuntut diri agar bertindak cepat, mencari solusi dengan akurat, dengan keadaan yang semakin menjerat rupanya terbesit satu cara yang telah terlewat , "sholat!" karena dengan-Nya solusi sangat dekat dan ketenangan bisa tetap melekat. Ku berlari menghampiri kerabat lalu kujabat sambil mengajaknya untuk melaksanakan sholat, mereka terenyum dan mengerjakannya dengan penuh semangat, dan setelahnya kita saling memberi nasihat guna menjadi pengingat dikala diri lupa terhadap akhirat.

Dalam suasana yang hangat kita menyadari sesuatu, ternyata kita jadi makin kuat jika kita bersatu, inilah waktunya kita saling bahu-membahu melewati suasana yang kelabu, karena jalan itu bukan lagi jalan buntu, jalan itu memang terlihat begitu supaya kita tau bahwa persatuan itu perlu, dan jika sudah tertanam dalam IQ tidak ada takut lagi dalam qolbu karena Allah SWT akan selalu bantu, Allah Ta'ala lah yang memiliki semua jenis ilmu dan hanya Allah yang maha tau. Langkah yang sempat terdiam membatu kini mulai menapaki langkah yang maju, karena rassa takut yang sempat hadir seperti hantu kini telah hilang seperti air yang terus menurun hingga ke hulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan