Langsung ke konten utama
BALADA PENTAS KERA

Tak bisa jujur dengan apa yang dikatakan, sulit bertemu dengan maksud yang diharapkan, selalu menatap heran dengan banyak kejadian, hanya terpaut dengan masa lalu yang terus dikenang tanpa ada itikad untuk bisa melaju kencang. Merasa iri tanpa pernah mengoreksi, terus mengemis seperti telah terlucuti, kelakuannya sangat tak tau diri, perkataannya penuh dengan dalih sehingga sulit dimengerti, berharap bisa mengasihi tapi ujungnya dikasihani. Hidupnya seperti panggung pentas, apa yang dianggap kurang pas langsung saja dilibas, tak mau ikut duduk untuk sekedar membahas, karena hatinya telah terlepas sehingga tak mempunyai lagi ciri khas.

Dari bilik jendela bagian atas dia melirik ke arah teras, melihat orang tunggang langgang bekerja keras seperti keringat sedang diperas, tapi niat belum juga mau untuk menetas, bahkan tinta saja belum tergores diatas kertas, tubuhnya terlalu malas untuk bergegas mengarungi hiruk pikuk arus kehidupan yang begitu deras, nyalinya kecil seperti kapas membuatnya merasa kurang tangkas dan mudah untuk tertindas, padahal itu hanya sekedar pikiran yang baru saja terlintas.

Dalam kepala terus berputar pentas sandiwara, jika sedikit terluka dia bercerita seperti film drama hingga orang yang mendengarnya mampu merasakan sakit yang luar biasa, berusaha membangun citra dengan segenap jiwa tapi akhirnya malah seperti air dalam bejana, benar kata pribahasa bahwa tong kosong nyaring bunyinya. Berlagak ingin dianggap penting, sampai orang lain tidak dianggap seletting, mengerutkan kening seperti sedang pening padahal itu hanya sekedar acting.

Mahir dalam membaca suasana, tapi sulit membuat recana, hanya berputar dalam kasus wacana. Balada kisah kera, hewan yang dianggap cikal bakal manusia, ada satu hukum yang memagari diri mereka dan hukum itu adalah hukum rimba, sang ketua biasanya yang paling keras suaranya, jika sudah tidak suka maka tinggal hajar sampai tak berdaya, karena mereka tak pernah tau rumitnya jika sudah dipidana, bergaul dengan banyak betina tanpa peduli jika itu jadi tontonan dikalangan mereka, sepertinya mereka tak tau tentang buruknya tindak asusila. Tak ada manusia yang rela disamakan dengan kera, karena ada status yang melekat padanya, namun kini itu semua terasa sirna, lantas akal sehat ini kemanakah larinya.

Berburu pengalaman baru, dengan judul mengarungi dunia baru, tak mau membekali diri dengan ilmu, karena itu dinilai cuma buang-buang waktu. Berkelana ditemani dengan senandung lagu, berburu langit biru yang mampu mengundang haru, akan tetapi yang dahulu manjamu justru jalan yang buntu, membuat langkah terlihat begitu semu, dan bertingkah layaknya orang dungu, bukannya malu malah keasikan berlaku.

Kacang melayang membentur kepala, membuat wajah menengok kearahnya, "kamu diciptakan dengan keadaan yang sempurna, jadi bertindaklah layaknya manusia" begitulah samar-samar terdengar suara yang masuk ke dalam telinga, berlinang air mata mendapati wajah yang sangat dikenalinya, "berhentilah bersandiwara dan mulailah hadapi realita, karena nurani mu sudah berteriak menyesali semuanya". Panggung pentas sudah waktunya menutup tirai untuk usai, sandiwara yang bermodal aksara harus segera selesai, karena cerita yang baru akan segera dimulai, semoga akhir ceritanya nanti akan berujung damai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan