Langsung ke konten utama
DUA SEJOLI

Dalam balutan kasih cinta yang suci, seorang isteri menatap canggung wajah sang suami yang baru saja kembali, umur pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari, dan mereka pun berusaha saling membiasakan diri. Terlihat bahwa sang isteri bergelagat tidak biasa, dia merasa bahwa dikepala isterinya sudah dipenuhi tanda tanya, sang suami memberanikan diri untuk menyapa pertama, "kamu kenapa?", namun sang isteri hanya menggelengkan kepala tanpa berkata-kata, "kalau ada yang ingin kamu tanya yuk sama-sama kita berbincang bersama disana", sang isteri akhirnya menyetujui ajakannya.

Keadaan sunyi tak bersuara, mereka terdiam sama-sama menunggu kalimat pertama, namun gejolak dalam dada sudah tak bisa ditahan lama-lama sehingga sang isterilah yang akhirnya memulai langkah perdana, dalam canggung dan bingung dia mulai bertanya.
"mas, kenapa mau menikah dengan saya?"
"hmm... karena kamu jodoh saya"
"tapi kan saya cuma sarjana, sedangkan mas lulusan S2"
"yaa memangnya kenapa?"
"paras saya kurang mempesona, dan pendidikan saya baru menapaki sarjana, jadi malu rasanya"
"hahaha, begitu rupanya"
"ihh kenapa mas malah tertawa"
"loh, kenapa harus pusing memikirkan perkara dunia jika kita akan meninggalkannya"
"maksudnya?"
"kamu tau bagaimana orang tua mu bertanya kepada saya sebelum kita bersama?
"bagaimana?"
"orang tua mu bertanya kepada saya kenapa tidak memilih perempuan lain saja? padahal pengalaman sudah jauh menjelajah ke mancanegara"
"lalu mas jawab apa?"
"karena saya kagum dengan wawasan mu tentang agama, dan saya menikahi mu bukan karena dunia, tapi karena saya ingin mencapai surga"
"tapikan masih banyak perempuan lain yang lebih baik daripada saya terkait pengetahuannya tentang agama"
"saya menyetujuinya, tapi sang pencipta sudah berkata bahwa kita harus bersama, saya pun sangat senang dan mensyukurinya"

Wajah canggung berubah bingung, sang isteri dikepung untung hingga sampai pada lumbung jantung, kini bahagia telah merasuk dalam sukma, layaknya buket bunga yang datang membuat hati bahagia, hingga mampu merubah pipi menjadi merah merona, sedangkan sang suami melihatnya sambil tertawa karena dia bahagia bisa membuat isterinya berbunga-bunga.

Sang isteri kini berani untuk jujur kepada sang suami tentang apa yang sudah menghantui diri, dia berkata begini "awalnya saya melihat mas ini seperti dinding yang tinggi, sulit bagi diri agar bisa sama tinggi", sedangkan balasan dari sang suami malah seperti ini "jika kamu melihat saya dari satu sisi memang akan terlihat seperti ini, tapi kamu harus mengerti kalau saya memandang mu tidak cuma sebagai isteri, tapi juga sebagai bidadari", tak lama sang isteri kembali menanyai "apanya yang bidadari? saya cuma manusia biasa yang bertugas menjadi seorang isteri", dan dijawablah oleh sang suami dengan rasa percaya diri "untuk bisa membersamai sang bidadari saya harus meningkatkan kualitas diri hingga sekarang adalah bentuk representasi dari usaha yang sudah banyak saya lalui, saya tahu pasti bahwa tidak mudah membersamai bidadari, dan bidadari juga tinggal di surgawi, jadi yang harusnya malu justru saya sendiri jika tidak bisa menjaga bidadari agar terus menetap disisi".

Mendengar dari mulut sang kekasih membuat sang isteri merasa sangat dihargai, dia tahu bahwa sang suami tak setengah hati mendampingi, dan saat ini barulah dia ketahui kenapa sang suami terus menapaki jalan yang mendaki, ternyata bukan untuk merasa tinggi hati namun itu dia lakukan untuk menjemput takdir Illahi agar bisa diberi bidadari yang terjaga didalam sanubari. Sang isteri mengerti ternyata yang dia cintai tidak berlebihan mengejar perkara duniawi, melainkan ridho Illahi lah yang tak mungkin uang mampu untuk membeli. Sampai pada ketenangan mulai menyelimuti hati, sang isteri berpesan "jika kamu temukan jalan ini terlihat berduri, jangan kamu lewati sendiri, mari sama-sama kita lewati karena kamu sekarang tidak sendiri, ingatlah bahwa sekarang ada aku disisi dan Allah senantiasa akan selalu membersamai".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan