LENTERA
Kegelapan menyadarkan semua tentang buta.
Tabrak orang juga benda.
Jatuh terluka menggumam derita.
Bagaimana wujud sebuah masa?
Apakah dia akan menyapa dengan senyum ramah?
Atau dengan wajah berurat memperlihatkan kecewa?
Berkelana dibawah cahaya jingga.
Terus dihantui lilitan karma.
Ntah menjelma seperti apa.
Membuat diri sulit merasa bahagia.
Dibuat takut oleh makna yang tiba-tiba sirna.
Karena akal ini tak sanggup menghianati asa.
Didepan pemandangan yang kabur didekaplah kedua lutut.
Menatap bulan sedang berselimut kabut.
Membiarkan urat nadi yang kencang terus berdenyut.
Bintang yang menggantung.
Apa kalian masih bersenandung?
"Berjalanlah lagi"
"Terjanglah jalan yang berduri"
"Walaupun air mata terlajur menyusuri pipi"
"Tetaplah berjalan lagi"
"Karena kau tak sendiri"
Telapak-telapak tangan yang melukis di langit menyimpang.
Seperti kembang yang mekar memberi tanda musim semi telah tiba.
Seumpama lentera yang bercahaya ditengah gelap nan gulita.
Mengguncang lengan menuju dunia dengan sejuta kejutan.
Hal itu bagaikan mercusuar di kedua tangan.
Bunyi rintik hujan yang digiring oleh tiupan.
Akan menjadi melodi indah di bumi yang nampak di kejauhan
Disaat terakhir, hari-hari perjanjian akan menggiringkan masa depan.
Dimana keberkahan akan datang secepatnya.
Tak ada jalan yang dilalui tanpa luka.
Tak ada yang dilahirkan hanya untuk terluka.
Tersenyumlah walau luka terbuka menganga.
Karena Allah Ta'ala tak pernah bersikap aniaya.
Kegelapan menyadarkan semua tentang buta.
Tabrak orang juga benda.
Jatuh terluka menggumam derita.
Bagaimana wujud sebuah masa?
Apakah dia akan menyapa dengan senyum ramah?
Atau dengan wajah berurat memperlihatkan kecewa?
Berkelana dibawah cahaya jingga.
Terus dihantui lilitan karma.
Ntah menjelma seperti apa.
Membuat diri sulit merasa bahagia.
Dibuat takut oleh makna yang tiba-tiba sirna.
Karena akal ini tak sanggup menghianati asa.
Didepan pemandangan yang kabur didekaplah kedua lutut.
Menatap bulan sedang berselimut kabut.
Membiarkan urat nadi yang kencang terus berdenyut.
Bintang yang menggantung.
Apa kalian masih bersenandung?
"Berjalanlah lagi"
"Terjanglah jalan yang berduri"
"Walaupun air mata terlajur menyusuri pipi"
"Tetaplah berjalan lagi"
"Karena kau tak sendiri"
Telapak-telapak tangan yang melukis di langit menyimpang.
Seperti kembang yang mekar memberi tanda musim semi telah tiba.
Seumpama lentera yang bercahaya ditengah gelap nan gulita.
Mengguncang lengan menuju dunia dengan sejuta kejutan.
Hal itu bagaikan mercusuar di kedua tangan.
Bunyi rintik hujan yang digiring oleh tiupan.
Akan menjadi melodi indah di bumi yang nampak di kejauhan
Disaat terakhir, hari-hari perjanjian akan menggiringkan masa depan.
Dimana keberkahan akan datang secepatnya.
Tak ada jalan yang dilalui tanpa luka.
Tak ada yang dilahirkan hanya untuk terluka.
Tersenyumlah walau luka terbuka menganga.
Karena Allah Ta'ala tak pernah bersikap aniaya.
Komentar
Posting Komentar