Langsung ke konten utama
BUKA TUTUP

Dari awal terasa amat galak, seperti kemerdekaan diri sudah berada dibawah telapak dan terus menerus dipijak, menganggap sudah paling bijak padahal cuma ingin menang banyak, berdalih untk mulai melanjak tapi malah jadinya di cap pembajak, ku hawatir jika ini akan rusak jadi ku putuskan untuk merangkak tidak peduli jika lutut terluka dan membengkak, sedang pandangan terus memperhatikan jarak walau tau bahwa garis finish tidak akan pernah bergerak, dan otak malah sibuk memikirkan sajak, seperti terjebak dalam sebuah kotak dan tak mampu untuk tetap menapak.

katanya roda akan terus berputar dan menggilas siapa saja yang tidak pernah sadar, menarik mereka kedalam dasar supaya tetap belajar walau itu terasa amat sukar, karena ilmu yang tumbuh besar sudah pasti memiliki akar, layaknya jangkar yang mampu menahan perahu besar agar  tidak sembarangan berlayar. Berhentilah merasa kekar jika berjalan saja masih belum benar, karena hasil yang tergambar bisa-bisa menjadi hambar dan mudah terbakar. Bukan kapasitas diri untuk bisa menakar, tekanan yang datang memang akan membuat diri terus gemetar namun ingatlah hanya orang yang sabar yang tidak akan pernah gentar, karena rahasia dibalik itu semua adalah untuk membuat diri semakin pintar dalam syukur dan istighfar.

Teringat kata ayah dan ibu bahwa jika ingin sesuatu harus terus dipaksakan dengan cara yang baik dan benar, mau itu perkara yang kecil ataupun besar karena dunia tidak akan segan-segan untuk berbuat kasar, ntah itu mencabik atau mencakar. Hingar bingar terasa samar lalu mulai hadir cahaya yang bersinar memperlihatkan bawa ternyata selama ini sudah banyak yang terjebak dalam sangkar dan tak kuasa untuk bisa keluar, hati dan fikiran mereka mulai memudar hingga tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

Tali terurai mengambang diatas tiang dan terayun mengundang angan agar terus berandai, namun realita telah berhasil membendung angan agar tetap tertutup tirai. Rasa yang mulai dirundung hampa tak mampu mengurai kata untuk dapat bertegur sapa, pandangan kosong membawa asa pada hal yang tak terlihat nyata layaknya fatamorgana, serta daun telinga sulit menangkap frekuensi suara. Kosong, jiwa ini seperti terselimuti kantong tebal yang membuatnya terlihat seperti kepongpong.

Kain kafan tidak memiliki kantung lantas mengapa ku malah sibuk mencari untung yang nantinya malah membuat ku terus merundung karena tak mampu menanggung apa yang sudah ditampung. Bingung bagaimana dan apa yang harus dibangun untuk menjadi modal amal yang bisa ditabung agar beruntung selamat berjalan sampai diujung. Ternyata Allah memang tak pernah tanggung-tanggung dalam membantu hambanya yang sedang pundung, dihadapkanlah aku dengan orang-orang yang terkatung-katung dalam menjalani hidup, mereka bercerita dari awal mula sampai kepada sekarang yang terlihat oleh mata kepala, kata mereka "jangan kau gadaikan jantung dan isi kepala dengan yang bersifat sementara, karena sesal yang kau rasa akan sulit hilangnya".

Kini ku sadar mengapa langkah ini terasa berat ketika mengayunkannya, karena sekarang adalah waktunya membangun jiwa layaknya baja dan mengembangkan asa dari jalan yang sudah diridhoi, sebab ada waktunya untuk berlari juga ada waktunya untuk mengatur strategi sambil mengasah kemampuan diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan