CAKRAWALA
Sewaktu semua berjalan dalam koridor yang nyaman, hampir segala hal terasa amat mudah digapai dengan usaha yang bisa dibilang kurang maksimal, paling tidak begitu pikir ku waktu itu. Terkadang diri ini heran mengapa terasa amat begitu mudah menggapai keinginan padahal waktu itu kondisi tidak amat buruk untuk memulai langkah baru lagi, seperti dinina bobokan oleh keadaan yang sudah terlajur tinggi. Beberapa kali datang teguran dari ibu dan ayah untuk melihat ke sekeliling diri agar bisa melunakan hati dan segera melakukan gerakan antisipasi sejak dini agar berguna bagi agama, bangsa negara, lingkungan, serta keluarga sendiri. Amat disayangi, itu hanya berfrekuensi kecil jadi tidak sampai bertegur sapa dengan gendang telinga sebelah kiri.
Sampailah pada waktu remaja, dengan gejolak yang selalu membara dan menyala-nyala. Banyak sekat pada diri sejak usia dini, membuat pribadi haus akan informasi juga perkembangan teknologi yang erat berdampingan dengan inovasi, memang belum cukup kualitas diri untuk dapat membedakan imajenasi, emosi, juga intelegensi, akan tetapi diri ini menuntut bukti. Pencarian bukti diawali dengan bertanya kesana kemari, mencari narasumber yang bisa dipercayai namun jawaban populer yang sering diberi adalah "nanti juga kamu tau sendiri". Waktu terus berganti sampai luput dari batasan sendiri, bukannya muhasabah diri tapi malah "ahh udah terlanjur terjadi, mau gimana lagi, yaudah deh lanjut lagi".
Dahulu orang bangga dengan prestasi, tapi sekarang orang-orang lebih bangga dengan ambisi, seolah lupa bahwa kita tidak hidup sendiri. Dahulu orang-orang mengharapkan ridho Illahi, namun sekarang orang-orang berebut mendapatkan apresiasi. Apakah lebih menyenangkan jika berlari sendiri? bukankah akan lebih menggairahkan bila bisa saling mendampingi?
"Janganlah menjadi tamak, nanti kamu akan merasa sesak" memecahkan segala sesuatu dengan kampak, meninggikan diri dengan paksa menggunakan dongkrak, "seolah lupa bahwa nanti juga jasad bakal terkoyak dan berubah menjadi tengkorak". Tapi jalan itu bukan lagi jalan setapak, sudah diperbesar menjadi jalan yang umum dan berubah pandang menjadi layak, apalah arti kayak jika terbentang jalan besar yang sudah sering dilalui orang banyak, diri ini terdiam sejenak, merenung dalam tangis yang isak, lalu datanglah beberapa orang dengan bermacam karakter juga watak, "tak apa jika engkau terisak, tapi percayalah kuasa Allah akan membuat mu terus melaju dan bergerak, kesombongan biarlah menjadi campak, jika engkau percaya Allah selalu membersamai mu, maka bukanlah penghalang angin dan ombak itu".
Ku kayuh kayak itu untuk melaju, sedang mereka menatap ku dengan tatapan haru juga rindu, padahal belum jauh ku berlabu namun ku mulai merasa lemas dan lesu, aku hawatir dengan tujuan ku, aku mulai bimbang dengan kemampuan ku. Resah dan ragu mulai menghantui pelayaran ku, apa ku tepikan kayak ku dan ku sudahi pelayaran ini? terdiam sendiri lagi di tengah lautan yang sepi, tanpa sadar ombak menghantam dari sisi kanan dan kiri, "ahh kenapa jadi seperti ini?! apa tak ada harapan lagi?!". Dalam keadaan yang kurasa tidak pasti, ku berharap ada kapal yang berlayar didekat sini, tapi yang ku dapati hanya harap yang tak bertepi dan air mata yang keluar tidak mau berhenti, mimpi kosong disiang bolong membuat ku terpikir bahwa ini semua hanya omong kosong, berteriak minta tolong namun sesuatu membuat ku terdiam hingga menjadi bengong.
Menatap kelangit agar pikiran tidak menjadi rumit, dan yang ku dapat malah langit sedang bertarung sengit, dalam keadaan yang semakin menghimpit, hati terasa amat sempit, ternyata kenyataan begitu sakit dan pahit. Bisakah ku merasakan ketenangan walaupun itu hanya sedikit, namun semakin ku menjerit malah yang kurasa makin terhimpit. Pikiran ku makin gaduh layaknya gemuruh, kayak ku pun semakin menjauh begitu juga keyakinan ku yang kian lama kian merapuh, yang ku pikirkan saat itu hanyalah bagaimana melewati ini semua tanpa harus terjatuh, ku laju kayak ku dengan kekuatan penuh, hati dan pikiran hampir terbalut jenuh, ingin ku luapkan semua keluh yang telah membendung sepuh.
Jika ini bisa berakhir dengan segera aku mungkin akan merasa sedikit lega, ku ingin mendapat akhir yang bahagia bukan wabah bencana seperti serupa, akhirnya aku tersadar dari lupa bahwa Allah akan selalu ada, dan kepada Allah lah harusnya kupanjatkan harap dan doa, bukannya kepada manusia yang sudah jelas batasannya, ku pejamkan mata dan bermunajat kepada Nya, bercerita panjang layaknya sahabat pena, hingga diakhir doa ku kata "jika ini adalah akhirnya, saya ikhlas, tapi jika ini belum menjadi akhir dari perjuangan diri, maka tolong bimbinglah saya untuk bisa menjadi pribadi yang engkau ridhoi".
Bermodal keyakinan kuat, deru angin berhembus cepat membuat mata terpejam erat, ku yakin doa ku telah melesat sehingga tidak perlulah ku takut akan tersesat, walau penat kian menghujat, dua pundak kian memberat, dan pandangan mulai hitam menuju pekat, tak mampu lagi ku berdebat dengan akal sehat, ku ikhlaskan semua kepada Allah yang menciptakan dunia dan akhirat.
sambil terombang-ambing ku terus bermunajat, melantunkan puji sholawat kepada nabi besar Muhammad SAW, dalam cemas ku terus berharap, lantas teringat dosa-dosa lama yang pernah ku buat, makin deras keluar air mata juga keringat, takut akan dunia akhirat, ya Allah sungguh aku ingin bertobat karena tiada daya dan upaya melainkan semua dalam kekuasaan mu yang menggenggam alam jagat, sungguh diri ini amat lemah dihadapan mu yang maha kuat, ntah bagaiman namun ku merasa adanya sentuhan hangat yang membuat ku malah terlelap.
Dalam ketenangan ku terhanyut, suara samar memanggil ku sambil menyambut, apakah sudah waktunya ku untuk dijemput, sudah ku pasrahkan semuanya walaupun memang sudah waktunya nyawa ini dicabut. Memberanikan diri membuka mata yang tertutup mebuat ku terkejut bukannya malah takut, seseorang menghampiri ku dengan genggaman hangat namun tetap kuat, "ayo bangun, sholat, sholat, sholat" katanya sambil menggenggam tangan ku erat mengajak ku untuk terus tetap taat, "iya, ini aku mau sholat" ntah mimpi panjang atau singkat, yang kurasa justru ini sangat memikat. Tak peduli bagaimana bentuk sebuah bakat, jika tidak membuat diri semakin taat, lantas tak ada bedanya dengan sikat.
Semoga bisa menjadi insiprasi bagi pembaca maupun diri sendiri untuk terus bermuhasabah diri dan memperbaiki hidup agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mendapat ridho Illahi.
Sewaktu semua berjalan dalam koridor yang nyaman, hampir segala hal terasa amat mudah digapai dengan usaha yang bisa dibilang kurang maksimal, paling tidak begitu pikir ku waktu itu. Terkadang diri ini heran mengapa terasa amat begitu mudah menggapai keinginan padahal waktu itu kondisi tidak amat buruk untuk memulai langkah baru lagi, seperti dinina bobokan oleh keadaan yang sudah terlajur tinggi. Beberapa kali datang teguran dari ibu dan ayah untuk melihat ke sekeliling diri agar bisa melunakan hati dan segera melakukan gerakan antisipasi sejak dini agar berguna bagi agama, bangsa negara, lingkungan, serta keluarga sendiri. Amat disayangi, itu hanya berfrekuensi kecil jadi tidak sampai bertegur sapa dengan gendang telinga sebelah kiri.
Sampailah pada waktu remaja, dengan gejolak yang selalu membara dan menyala-nyala. Banyak sekat pada diri sejak usia dini, membuat pribadi haus akan informasi juga perkembangan teknologi yang erat berdampingan dengan inovasi, memang belum cukup kualitas diri untuk dapat membedakan imajenasi, emosi, juga intelegensi, akan tetapi diri ini menuntut bukti. Pencarian bukti diawali dengan bertanya kesana kemari, mencari narasumber yang bisa dipercayai namun jawaban populer yang sering diberi adalah "nanti juga kamu tau sendiri". Waktu terus berganti sampai luput dari batasan sendiri, bukannya muhasabah diri tapi malah "ahh udah terlanjur terjadi, mau gimana lagi, yaudah deh lanjut lagi".
Dahulu orang bangga dengan prestasi, tapi sekarang orang-orang lebih bangga dengan ambisi, seolah lupa bahwa kita tidak hidup sendiri. Dahulu orang-orang mengharapkan ridho Illahi, namun sekarang orang-orang berebut mendapatkan apresiasi. Apakah lebih menyenangkan jika berlari sendiri? bukankah akan lebih menggairahkan bila bisa saling mendampingi?
"Janganlah menjadi tamak, nanti kamu akan merasa sesak" memecahkan segala sesuatu dengan kampak, meninggikan diri dengan paksa menggunakan dongkrak, "seolah lupa bahwa nanti juga jasad bakal terkoyak dan berubah menjadi tengkorak". Tapi jalan itu bukan lagi jalan setapak, sudah diperbesar menjadi jalan yang umum dan berubah pandang menjadi layak, apalah arti kayak jika terbentang jalan besar yang sudah sering dilalui orang banyak, diri ini terdiam sejenak, merenung dalam tangis yang isak, lalu datanglah beberapa orang dengan bermacam karakter juga watak, "tak apa jika engkau terisak, tapi percayalah kuasa Allah akan membuat mu terus melaju dan bergerak, kesombongan biarlah menjadi campak, jika engkau percaya Allah selalu membersamai mu, maka bukanlah penghalang angin dan ombak itu".
Ku kayuh kayak itu untuk melaju, sedang mereka menatap ku dengan tatapan haru juga rindu, padahal belum jauh ku berlabu namun ku mulai merasa lemas dan lesu, aku hawatir dengan tujuan ku, aku mulai bimbang dengan kemampuan ku. Resah dan ragu mulai menghantui pelayaran ku, apa ku tepikan kayak ku dan ku sudahi pelayaran ini? terdiam sendiri lagi di tengah lautan yang sepi, tanpa sadar ombak menghantam dari sisi kanan dan kiri, "ahh kenapa jadi seperti ini?! apa tak ada harapan lagi?!". Dalam keadaan yang kurasa tidak pasti, ku berharap ada kapal yang berlayar didekat sini, tapi yang ku dapati hanya harap yang tak bertepi dan air mata yang keluar tidak mau berhenti, mimpi kosong disiang bolong membuat ku terpikir bahwa ini semua hanya omong kosong, berteriak minta tolong namun sesuatu membuat ku terdiam hingga menjadi bengong.
Menatap kelangit agar pikiran tidak menjadi rumit, dan yang ku dapat malah langit sedang bertarung sengit, dalam keadaan yang semakin menghimpit, hati terasa amat sempit, ternyata kenyataan begitu sakit dan pahit. Bisakah ku merasakan ketenangan walaupun itu hanya sedikit, namun semakin ku menjerit malah yang kurasa makin terhimpit. Pikiran ku makin gaduh layaknya gemuruh, kayak ku pun semakin menjauh begitu juga keyakinan ku yang kian lama kian merapuh, yang ku pikirkan saat itu hanyalah bagaimana melewati ini semua tanpa harus terjatuh, ku laju kayak ku dengan kekuatan penuh, hati dan pikiran hampir terbalut jenuh, ingin ku luapkan semua keluh yang telah membendung sepuh.
Jika ini bisa berakhir dengan segera aku mungkin akan merasa sedikit lega, ku ingin mendapat akhir yang bahagia bukan wabah bencana seperti serupa, akhirnya aku tersadar dari lupa bahwa Allah akan selalu ada, dan kepada Allah lah harusnya kupanjatkan harap dan doa, bukannya kepada manusia yang sudah jelas batasannya, ku pejamkan mata dan bermunajat kepada Nya, bercerita panjang layaknya sahabat pena, hingga diakhir doa ku kata "jika ini adalah akhirnya, saya ikhlas, tapi jika ini belum menjadi akhir dari perjuangan diri, maka tolong bimbinglah saya untuk bisa menjadi pribadi yang engkau ridhoi".
Bermodal keyakinan kuat, deru angin berhembus cepat membuat mata terpejam erat, ku yakin doa ku telah melesat sehingga tidak perlulah ku takut akan tersesat, walau penat kian menghujat, dua pundak kian memberat, dan pandangan mulai hitam menuju pekat, tak mampu lagi ku berdebat dengan akal sehat, ku ikhlaskan semua kepada Allah yang menciptakan dunia dan akhirat.
sambil terombang-ambing ku terus bermunajat, melantunkan puji sholawat kepada nabi besar Muhammad SAW, dalam cemas ku terus berharap, lantas teringat dosa-dosa lama yang pernah ku buat, makin deras keluar air mata juga keringat, takut akan dunia akhirat, ya Allah sungguh aku ingin bertobat karena tiada daya dan upaya melainkan semua dalam kekuasaan mu yang menggenggam alam jagat, sungguh diri ini amat lemah dihadapan mu yang maha kuat, ntah bagaiman namun ku merasa adanya sentuhan hangat yang membuat ku malah terlelap.
Dalam ketenangan ku terhanyut, suara samar memanggil ku sambil menyambut, apakah sudah waktunya ku untuk dijemput, sudah ku pasrahkan semuanya walaupun memang sudah waktunya nyawa ini dicabut. Memberanikan diri membuka mata yang tertutup mebuat ku terkejut bukannya malah takut, seseorang menghampiri ku dengan genggaman hangat namun tetap kuat, "ayo bangun, sholat, sholat, sholat" katanya sambil menggenggam tangan ku erat mengajak ku untuk terus tetap taat, "iya, ini aku mau sholat" ntah mimpi panjang atau singkat, yang kurasa justru ini sangat memikat. Tak peduli bagaimana bentuk sebuah bakat, jika tidak membuat diri semakin taat, lantas tak ada bedanya dengan sikat.
Semoga bisa menjadi insiprasi bagi pembaca maupun diri sendiri untuk terus bermuhasabah diri dan memperbaiki hidup agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mendapat ridho Illahi.
Komentar
Posting Komentar