Langsung ke konten utama
STRATA ASA

Banyak hal yang ingin ku tiru darinya, dari hal yang paling sederhana hingga yang tak terlihat oleh kasat mata, tapi tak kunjung juga ku bisa beriringan dengannya, bahkan dari jalan saja ku tak bisa mengimbanginya. Penilaian orang terhadapnya menembus batas logika, padahal citranya dibangun apa adanya, lantas ko bisa? berperawakan sederhana namun berefek hiperbola, ku makin takjub dibuatnya.

Pandangannya menembus zaman, membuat ku terus merasa heran, apakan hanya sekedar tebak-tebakan atau memang melalui panjangnya perhitungan. Jarang ku berselisih pendapat dengannya, mencari tau asas logikanya dan jawaban yang ku terima "memang ku berbeda level dengannya", seperti langit yang tak bertiang, bertabur gemerlap gugusan bintang, walau berperawakan sedang namun pemikirannya begitu panjang melintang.

Ibu pernah berkata "jadilah sepertinya", tapi bagaimana caranya jika waktu saja sulit negonya, "ajaklah bicara, kamu akan temukan cerita dibalik senyumannya", tapi aku tak pandai bercengkrama, "dia selalu bertanya apa kabar dirimu disana, apakah baik-baik saja? kamu tidak merasa itu usaha yang luar biasa darinya? sekarang, siapa yang sulit negonya?", aku sering membuatnya kecewa dan tidak ingin mengganggu waktunya, "dia selalu berharap bisa berbaur bersama-sama, bagaimana? kamu bersedia?", tidak akan lain jawaban ku dari kata iya.

Rentetan waktu membingkai kenangan, ku tau dia bukanlah orang yang sembarangan. Dia jarang bercerita tentang masa lalunya, ibu lantas berkata "janganlah kamu kecewa dengannya, karena usaha mu sekarang ini tidak ada seujung kuku bagi dia", apalah daya jika dinding ini semakin terlihat menjulang ke angkasa, ku cermati gerak-geriknya namun terlihat biasa-biasa saja, tanpa aba-aba ku langsung menjajalinya hingga ku sadar bahwa "aku memang tidak ada apa-apanya", padahal usianya memasuki waktu senja, tapi ku yakin bahwa semangat yang dia bawa tidak pernah sirna.

Ku ceritakan kepada ibu tentang apa yang ku rasa, namun ibu tersenyum seraya berkata "janganlah kamu bermuram durjana", lalu aku harus bagaimna, "belum sampai waktu mu untuk mengambil porsinya, cukup simak saja episodenya", apa hanya itu saja, "nanti kamu akan tau sudah sampai mana kamu membaca kisah hidupnya", baiklah, saran dari ibu akan ku coba. Perlahan ku nikmati alur jalannya, dan ku menemukan banyak goresan tinta yang tak biasa, semakin dalam ku memasukinya semakin sakit yang ku rasa, inikah arti dibalik senyumannya?

Tak peduli seberapa perih dan pedih dia masih sanggup untuk berkata "alhamdulillah, terimakasih" seperti sudah tertanam dalam memori juga hati berupa benih cinta dan kasih, rasa-rasanya dia sudah sangat fasih, sekarang waktunya ku buka hati dan mulai bersih-bersih, bila nanti ku bertemu dengan ibu lagi, aku ingin menceritakan kisah dia yang belum sempat ibu nikmati, jangan hawatir, walaupun aku dan dia belum sama tinggi, tapi aku tidak mau mengakhiri apa yang sudah ibu amanahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan