Langsung ke konten utama

SILUET DIBALIK TIRAI

Harap dan Tawa


Buku cerita tak pernah menjauh dari meja disebelah kasurnya, dikala senggang dia selalu membuka dan membacanya berulang-ulang. Menemukan berbagai prespektif untuk beropini telah menjadi kesukaannya dikala sosok itu bercerita tentang kisah yang tak pernah dia dengar sebelumnya, priscilia selalu penasaran dengan cerita apa yang akan dikisahkannya nanti.

Kegemarannya terhadap rasa selalu medorongnya untuk menemukan pandangan baru dalam satu cerita yang sama, karena setiap pandangan memiliki kejutan lain walau itu dikisahkan oleh satu sumber saja. Sudah lama dia mencari orang yang mampu mengimbanginya dalam berpandangan, namun lawan bicara selalu melontarkan alasan yang hambar, berbeda dengan sosok yang ditemuinya dikoridor depan kamar, orang itu unik sama seperti dirinya.

Priscilia selalu kagum dengan antusiasnya dalam menyelesaikan masalah. Awalnya dia berpikir bahwa dirinya tak bisa disamai, tapi sosok itu  ternyata mampu membuatnya terdiam dan tertawa dikala kisah baru diberitakan kepada priscilia, dimulai dari pencarian kesana-kemari, kini langkah kaki selalu terhenti jika priscilia bertemu dia lagi.

“kok aku bisa nyambung ya kalo ngobrol sama dia? Padahal topik yang kita obrolin receh, tapi kok bisa beda rasanya? Hahaha” kata priscilia yang terduduk di koridor depan kamar sambil memandang kedua kakinya. Lampu koridor telah menyala dari lama dan orang-orang masih tidak banyak berlalu-lalang didepannya, senyum yang terukir diwajahnya terasa sempurna. “ahh~ ada gitu orang kaya dia, aku ga nyangka malah ketemu disini, kenapa ga dari dulu aja kita ketemu, pasti bakalan lebih seru” katanya sambil menggoyangkan kaki ke kanan dan ke kiri, “kapan-kapan ah~ aku bawa dia ke kamar, aku pengen tau ekspresinya gimana, hehe~” kalimat penutup sebelum dia berjalan meninggalkan koridor dengan senyum yang masih membentang diwajahnya.

“seperti anak kecil ? iya itu aku, yang tak bisa tenang memejamkan mata ketika sudah gulita tanpa kamu bercerita”
  -  priscilia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan