Menghilang dan Menghindar
Banyak kendaraan lalu-lalang melintas dihadapan rangga,
namun tatapan panjangnya mampu membelah jalan besar yang melintang didepannya. Suara
bising tidak meyakitkan telinganya sama sekali, begitu juga dengan ramainya
orang yang disekitarnya, rangga terlalu sibuk menyendiri ditengah keramaian
yang mengepungnya. Lama dia berdiri dipinggir akhirnya lampu lalulintas mengizinkannya
untuk menapaki langkah baru setelah penantiannya.
Jalan dengan tegap dengan langkah yang kurang cepat, rangga
begitu menikmati setiap langkahnya. Sesampainya di seberang jalan seseorang
menepuk pundaknya dengan kuat, “heeii!! Rangga kan?” sahutnya setelah pundak
tertepuk olehnya, “hah? Siapa ya?” tanya rangga balik, “hee? Kamu udah lupa? Padahal
aku loh yang selalu ngurusin kamu pas kamu masih di emerald” katanya sambil
mengukir senyum lebar diwajahnya.
“emerald? Kayanya salah orang deh”
“haha jahat banget sih, kamu beneran udah lupa?”
“iya”
“susiii, masih inget kan”
“hah?! Suster susi?”
“iya, masa kamu lupa?”
“owalah, aku beneran ga tau kalo ini suster susi, apalagi pake
baju begini, suster ngapain disini?”
“aku? Ya mau ke rumah sakit lah, sebentar lagi aku jaga,
kamu mau ke rumah sakit juga?”
“aku… kayanya ga deh hehe”
“hmm… kamu udah lama loh ga ketemu mereka, yakin ga mau
jenguk atau ketemu sebentar sama mereka?”
“mm.. kayanya ga dulu deh”
“ahahaha, yaudah deh, aku ga mau ikut campur urusan kalian,
oh iya! kapan-kapan mampir ya”
“iya insya Allah”
“yaudah kalo begitu, aku duluan oke, daaah~, assalamu’alaikum”
“wa’alaikumusalam”
Begitu mereka berpisah, pandangan rangga masih menatap susi
yang jalannya setengah berlari. “kayanya, ini jalan keluar terbaik” gumamnya
sambil mengalihkan pandangannya ke langit.
“baik menghilang
ataupun menghindar adalah langkah terberat yang pernah ku lakukan untuk
menyelesaikan masalah”
-Rangga
Komentar
Posting Komentar