Langsung ke konten utama

SILUET DIBALIK TIRAI

Menghilang dan Menghindar


Banyak kendaraan lalu-lalang melintas dihadapan rangga, namun tatapan panjangnya mampu membelah jalan besar yang melintang didepannya. Suara bising tidak meyakitkan telinganya sama sekali, begitu juga dengan ramainya orang yang disekitarnya, rangga terlalu sibuk menyendiri ditengah keramaian yang mengepungnya. Lama dia berdiri dipinggir akhirnya lampu lalulintas mengizinkannya untuk menapaki langkah baru setelah penantiannya.

Jalan dengan tegap dengan langkah yang kurang cepat, rangga begitu menikmati setiap langkahnya. Sesampainya di seberang jalan seseorang menepuk pundaknya dengan kuat, “heeii!! Rangga kan?” sahutnya setelah pundak tertepuk olehnya, “hah? Siapa ya?” tanya rangga balik, “hee? Kamu udah lupa? Padahal aku loh yang selalu ngurusin kamu pas kamu masih di emerald” katanya sambil mengukir senyum lebar diwajahnya.

“emerald? Kayanya salah orang deh”
“haha jahat banget sih, kamu beneran udah lupa?”
“iya”
“susiii, masih inget kan”
“hah?! Suster susi?”
“iya, masa kamu lupa?”
“owalah, aku beneran ga tau kalo ini suster susi, apalagi pake baju begini, suster ngapain disini?”
“aku? Ya mau ke rumah sakit lah, sebentar lagi aku jaga, kamu mau ke rumah sakit juga?”
“aku… kayanya ga deh hehe”
“hmm… kamu udah lama loh ga ketemu mereka, yakin ga mau jenguk atau ketemu sebentar sama mereka?”
“mm.. kayanya ga dulu deh”
“ahahaha, yaudah deh, aku ga mau ikut campur urusan kalian, oh iya! kapan-kapan mampir ya”
“iya insya Allah”
“yaudah kalo begitu, aku duluan oke, daaah~, assalamu’alaikum”
“wa’alaikumusalam”

Begitu mereka berpisah, pandangan rangga masih menatap susi yang jalannya setengah berlari. “kayanya, ini jalan keluar terbaik” gumamnya sambil mengalihkan pandangannya ke langit.

“baik menghilang ataupun menghindar adalah langkah terberat yang pernah ku lakukan untuk menyelesaikan masalah”
-Rangga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan