Langsung ke konten utama
MAMAH DAN SEGITIGA CINTA


Dia mengajarkan tentang bagaimana menikmati hal yang sedikit, dia juga yang mengajarkan tentang hebatnya sisi kesederhanaan yang membuat daya pikir menjadi terstruktur lagi kritis.

“jagoan mamah harus kuat, nanti kalo jagoannya ga kuat siapa dong yang nolongin mamah?” padahal jawabannya jelas terarah kepada kehendak Allah Ta’ala, namun kenapa pertanyaan itu terlempar pada sosok yang kecil dan tak berdaya ini? Seolah diri ini memiliki suatu kemampuan yang dapat mengangkat beban ribuan ton dengan sebelah tangan.
“udah gapapa, jangan nangis terus ya, nanti kalo jagoan mamah nangis terus, mamah juga ikutan nangis nih” katanya sambil memeluk erat dan mengelus punggung ini, awalnya ku dengar seperti bualan lawas masa lampau, tapi tak bisa ku pungkiri memang itu selalu berhasil menenangkan duka dalam dada, tak lama setelah ketenangan itu menyapa giliran tangannya yang bergetar dipunggung ku, memang frekuensi getarannya tidak hebat, namun getaran itu seolah menyampaikan pesan bahwa yang dia ucapkan bukanlah bualan, seolah dia meminta kepada yang maha kuasa untuk memindahkan luka dan duka ini kepadanya.

Satu waktu diri ini ingin mengajaknya belajar bersama, namun dia pun enggan untuk meng-iya-kan, dia selalu berkata “belajar sama papah aja”, perlahan dan tanpa sadar ku mulai meremehkannya, padahal jenjang pendidikan yang ditempuhnya melewati strata sarjana, lalu kenapa enggan dan malah melemparnya kepada sosok yang selalu ku takuti jika waktu belajar telah tiba, sampailah pada pertumbuhan akal dan badan yang sudah sebesar ini ku tersadar, dia ingin membagi waktu ku untuk kekasihnya, dia berusaha mengenalkan sisi kehebatan kekasihnya kepada buah hatinya, karena dia pun selalu berharap kalau suatu saat nanti aku bisa menjadi seperti kekasihnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan