BASE 2
"hah!!"
"alhamdulillah udah bangun"
"loh, ini dimana?"
"dimana lagi kalo bukan di kamar"
"hee?" kata ku yang masih tak percaya
"lo kalo sakit bilang dong, jangan main bolos gitu aja"
"hah? gue ga ada kelas hari ini"
"ga ada kelas paledut, ada lah!"
"dih"
"row gua hafal jadwal kuliah lo, lo itu ga ada kelasnya hari rabu, sekrang mah ada, kan kita satu kelas di kelas bunisness international, lo gimana dah?"
"dih, sekarang masih rabu kan" karena seingat ku hari ini adalah hari rabu, soalnya kemarin aku baru aja pulang malam gara-gara ngerjain tugas di perpus.
"lah, sekarang kamis, kemaren tuh rabu, kemaren memang lo ga ada kelas, tapi tadi siang ada" katanya yang masih sulit aku terima, jelaslah, soalnya kemarin itu aku baru saja membawa...
"oh iya! perempuan itu kemana?" sebab rasa penasaran, aku pun bisa terduduk sabil menatap kesegala arah untuk menemukannya.
"hah?! perempuan? perempuan apaan?"
"itu loh, dia itu dari semalem tidur disini"
"bushet! jadi sebenernya lo ga masuk kelas gegara main cewe? gile lo"
"ngga bukan begitu, ceritanya panjang"
"lah terus perempuan apaan? dari gua kesini juga ga ada siapa-siapa, paling cuma ada lo doang"
Kini situasi mulai membingungkan, beberapa hal aneh yang terjadi membuat ku tak percaya, bagaimana bisa dia tak melihat perempaun itu disini? jelas-jelas perempuan itu masih tak sadarkan diri, dan kayanya luka-lukanya juga lumayan parah
"eh row, jujur dah sama gua, lo bawa cewe kesini?"
"y... ya gue bawa, tapi gue ga ngapa-ngapain kok"
"row, lo jauh-jauh kuliah ke Jepang cuma buat nyari cewe doang? malu lo sama bokap lo dirumah"
"ga bukan begitu, aduuuuh ribet dah kalo diceritain, soalnya gua juga ga tau sebenernya itu perempuan kenapa"
"maksud lo gimana?"
"intinya gua liat dia udah luka-luka, terus dia juga minta dibunuh"
"hah! seriusan lo?!"
"serius gua fik, makanya itu dia gue bawa kesini"
"kenapa lo ga telopn gua aja?"
"gimana caranya? hape gua aja mati gara-gara kelamaan keujanan"
"lah itu hape lo dimeja kan? nyala kok, gua telpon juga masih nyambung, barusan gua liat ada banyak pemberitahuan masuk ke hape lo"
"ahh ga mungkin, gue inget banget hape gue ga bisa dinyalain, soalnya waktu itu gue mau telpon ambulan buat nganterin tuh perempuan ke ruah sakit" aku masih bersikeras dengan alasan ku, karena kejadian itu benar-benar aku alami sendiri, sedangkan safik, teman ku yang ada disebelah malah menatap ku dengan kerutan didahinya yang menandakan bahwa alasan ku tidak masuk akal, "serius gue ga boong" kata ku sambil terus meyakinkannya, namun dia malah meresponnya dengan menggelengkan kepala sambil berjalan ke arah meja belajar untuk mengambil hape ku yang masih tergeletak disana.
Perlahan dia merogoh saku celananya untuk mengambil hapenya sendiri dan menelpon ku untuk memastikan perkataan ku barusan, melihat dia melakukan itu membuat ku menelan ludah berkali-kali, kenapa hal kaya begini malah ngebuat jadi deg-degan? tak banyak waktu yang terbuang, kini safik berbalik menatap ku sambil melempar hape ku yang ada di atas meja, "weitss, jangan sembaragan lempar dong" dengan sedikit menggerutu ku ambil hape dan terlihat ada panggilan masuk dari safik dilayar tampilan depan yang masih berlangsung, kok malah jadi begini?!! sekujur tubuh ku mulai berkeringat, perlahan ku melirik ke arah safik tapi terlihat tatapan yang lesuh, sepertinya dia menunggu alasan ku yang berikutnya.
"mm.. serius waktu itu hape gue mati"
"itu buktinya nyala"
"gue ga tau, tapi beneran deh"
"row, lo kalo boong cari alesan yang pinter dikit lah"
"yaelah ini anak, sumpah dah kaga boong gue"
"lo mending balik tinggal di asrama ajaa deh, ngeri gua"
"ehh jangan dong, blom juga ada dua bulan gue disini"
"ya lagian lo susah diatur, bolos kuliah, bawa cewe, mabok juga"
"hah?! gue kaga pernah mabok!, ngarang lo"
"lah itu di dapur gua nemu 2 kaleng beer"
Seperti tertusuk tapi tak berdarah, bagaimana bisa di dapur ada minuman begituan? seingat ku, aku tak pernah membeli barang-barang seperti itu.
"ga mungkin, erakhir yang gue minum itu air dingin sama kopi" terlihat lagi mimik wajahnya yang meragukan itu, "gini aja deh fik, selama kita di Jepang, pernah ga gue minum-minuman begitu?" hanya cara seperti yang terbesit dipikiran ku untuk bisa mendapatkan kepercayaannya safik yang sempat meragu, "ga pernah sih, cuma gua ga tau kalo lo disini sendiri gimana" jawabnya sambil mengangkat sebelah alisnya, "kah tempat kita ga jauh fik, lo juga sering kesini kan, ya walaupun baru dua bulan doang gue nyobain hidup di apartemen" lanjut ku terus memberi keterangan kepadanya.
"hmm.. iya sih lo ga pernah macem-macem"
"nah kan, jadi lo percaya dong"
"hadeeeeh~ okelah! inget lo jangan kebablasan"
"iya iya, gue udah gede kali fik"
"umur lu memang udah 25, tapi tingkah lo masih aja kaya bocah abg!"
"kapan lagi gue bisa memerdekakan diri kalo bukan disini"
Oh iya aku lupa memperkenalkan teman ku yang tadi, ehem... perkenalkan, teman kuliah ku sekaligus merangkap menjadi abang angkat ku, sekaligus merangkap lagi menjadi guru agama ku, sekaligus merangkap lagi dan lagisebagai teman curhat ku, hehe panjang banget memang gelar dia disini, tapi begitulah dia. Sekarang ini kami sedang melanjutkan pendidikan di Jepang pada jenjang yang lebih tinggi, sebenarnya hal ini agak sedikit melenceng dari tujuan awal ku yang ingin ke Inggris, tapi temah ayah menawarkan ku untuk melanjutkan ke Jepang , hahai~ tawaran seperti ini mungkin tak datang dua kali, jadi langsung ku sikat aja toh aku juga sudah tak betah tinggal dirumah karena beberapa alasan.
Seperti yang sudah aku ceritakan tadi, kami sama-sama mengambil jurusan tentang ekonomi, biarpun sama-sama mengambil jurusan ekonomi tapi kami berbeda konsentrasi, safik ke arah sosial pembangunan sedangkan aku kepada manajemennya. Awal mula pertemuan kami terjadi di bandara sesaat sebelum keberangkatan ke Jepang, safik yang saat itu belum pernah naik pesawat terlihat begitu kebingungan dan norak, aku sempat berharap kalau nanti dipesawat aku bisa berjauhan dengannya, tapi Allah berkehendak lain. Aku kebagian duduk dipojok dekat dengan jendela, dan tepat disebelah ku adalah tempat duduk safik, awal percakapan kami terasa begitu biasa.
"maaf mas, mau tukeran tempat duduk ga?" sambil berdiri dia menepuk pundak ku.
"hah? memangnya mas ini duduk dimana?" tanya ku balik dengan wajah lesuh, soalnya aku juga ingin duduk dipojok dekat dengan jendela.
"ini, saya duduk disini" menepuk kursi disebelah ku.
"kenapa ga duduk disitu aja mas?"
"saya pengen lia langit sama awan dari deket"
"oh.. kan dari temapat duduk mas juga bisa liat" sebisa mungkin ku pertahankan kursi ini.
"hahaha kurang puas mas, lagian ini pertama kalinya saya naik pesawat, jadi saya pengen banget liat pemandangan dari jendela pesawat" kalimatnya memang membuat ku merasa iba padanya, tapi tolong peka sedikitlah, aku ini ga mau ngasih kursi ini ke dia, jadi berhenti deh ngomong sama aku. Pada awalnya aku tidak mengira kalau dia adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, tapi setelah kami tidak sengaja duduk sebelahan, dia terus bercerita banyak tentang kehidupannya dan juga kampung halamannya. Sejak awal dia selalu memulai percakapan, padahal sudah beberapa kali ku berika kode untuk berhenti berbicara namun dia tetap tidak menghiraukannya, hadeeeeh... jujur, ini pertama kalinya juga aku naik pesawat, aku pun selalu mendambakan bisa melihat pemandangan yang indah dari atas langit lewat jendela pesawat, berkat safiksemua itu pun sirna begitu saja, apa boleh buat, akhirnya kami bertukar tempat duduk suaya dia berhenti bicara, rasa-rasanya safik ini sudah sangat lihai di dunia marketing.
Wajah safik berubah ceria, dia menjabat tangan ku dengan sangat kuat, saking kuatnya bahu ku pun ikut bergerak terayun oleh jabatannya, setelahnya dia terus menatap ke luar jendela, terlihat pantulan wajahnya dari jendela kalau dia memang benar-benar bahagia. Saat pesawat sedang melewati awan sosok noraknya mulai terasa kental, teriakannya membuat aku dan dia menjadi pusat perhatian penumpang yang lain, namun itu masih belum seberapa, hal yang paling mengejutkan terjadi keitka pramugari menawarkan makanan kepada kami, safik bertanya apakah bisa minta tambah atau tidak, mendengarnya membuat ku tertunduk malu karena kalimat itu terlontar cukup kerassehingga banyak penumpang lain kembali memperhatikan kami bardua, hmm... kenapa aku malah menceritakan hal memalukannya safik? hehehe maaf safik, tapi pertemuan pertama kita waktu itu memang hal yang tak bisa ku lupakan.
Berlanjut lagi pada saat sekarang, suasana dikamar ku kembali membingungkan, dengan adanya kaleng beer yang tergeletak di dapur aku menduga seseorang pasti telah masuk ke apartemen ku, dan bodoh sekali orang itu meninggalkan kaleng beer ditempat korbannya, mm... situasi ini sangat mudah sekali ku tebak kemana arahnya, sudah pasti seseorang datang untuk menculik perempuan itu, aku pun harus memastikan lagi apakah ada barang yang hilang atau rusak.
"fik, tadi pas lo masuk ada barang-barang yang rusak ga?"
"hm... kayanya ga ada deh, paling gua cuma liat tumpahan kopi dilantai dapur aja sih, .... oh sama roti juga"
"selain itu?"
"ga ada sih, cuma itu doang"
Aneh, ga ada barang-barang yang rusak, dan .... kayanya ga ada barang-barang yang ilang juga, apa jangan-jangan penculiknya memang ga niat macem-macem ya? mm... ko aku jadi makin ragu.
"lo mikirin apa sih jow?"
"ga, gue cuma bingung aja, kok malah jadi begini"
"maksud lo gimana?"
"bentar... gue mau nanya lagi, lo pas dateng ke sini liat gue udah tiduran dikasur apa tekapar di dapur?"
"udah di kamar"
"diih ko jadi aneh ya"
"lo kenapa sih row?"
"ga fik, seinget gue, gue tuh pingsan di dapur dan numpahin kopi, awalnya gue pikir itu mimpi, tapi pas tadi lo bilang ada tumpahan kopi di lantai dapur gue jadi mikir kalo ini bukan mimpi"
"lah terus gimana caranya lo bisa pindah ke kamar?"
"nah itu dia, gue juga ga ngerti"
"row, lo ga mau ke dokter? gua rasa halusinasi lo makin ga masuk akal dah"
"diih, ga percaya banget"
Sewaktu aku mencoba menjelaskan berbagai hal pada safik, aku terus mencium aroma kopi disekeliling ku, sambil mengedarkan aku mencari dari mana bau itu muncul, dan ternyata benar dugaan ku, aku baru menyadari ternyata baju ini yang ku kenakan dari kemarin, kebetulan masih ada bengkas tumpahan kopi di baju ku tapi tidak banya. dengan semangat aku menyodorkan baju ku sebagai bukti kuatnya.
"nih bengkasnya, lo cium aja, masih ada bau-bau kopinya kok", safik menyodorkan badannya dan mencium baju ku dengan wajah yang awalnya tak percaya, tapi sesaat kemudian dahinya berkerut dan menggelengkan kepala sambil berkata "ga mungkin, lo pasti boong lagi"
"dih fik, beneran gue"
"memang masih ada bau-bau kopinya sih, tapi masa iya lo bisa tau-tau pindah ke kamar padahal lo bilang sendiri lo itu pingsan. mm... lo mungkin pindah tapi masih setengah sadar kali, jadi lo ga inget"
"hmm... bisa jadi juga" dalam benak ku terus berputar beragam kemungkinan yang bisa terjadi, dan juga sebenarnya aku ingin banyak bercerita kepada safik, tapi melihat respon-responnya yang tadi sepertinya akan jadi makin rumyam masalahnya, ahh... biarlah nanti ku pikirkan lagi kalau kondisi ku sudah mulai membaik.
"hah!!"
"alhamdulillah udah bangun"
"loh, ini dimana?"
"dimana lagi kalo bukan di kamar"
"hee?" kata ku yang masih tak percaya
"lo kalo sakit bilang dong, jangan main bolos gitu aja"
"hah? gue ga ada kelas hari ini"
"ga ada kelas paledut, ada lah!"
"dih"
"row gua hafal jadwal kuliah lo, lo itu ga ada kelasnya hari rabu, sekrang mah ada, kan kita satu kelas di kelas bunisness international, lo gimana dah?"
"dih, sekarang masih rabu kan" karena seingat ku hari ini adalah hari rabu, soalnya kemarin aku baru aja pulang malam gara-gara ngerjain tugas di perpus.
"lah, sekarang kamis, kemaren tuh rabu, kemaren memang lo ga ada kelas, tapi tadi siang ada" katanya yang masih sulit aku terima, jelaslah, soalnya kemarin itu aku baru saja membawa...
"oh iya! perempuan itu kemana?" sebab rasa penasaran, aku pun bisa terduduk sabil menatap kesegala arah untuk menemukannya.
"hah?! perempuan? perempuan apaan?"
"itu loh, dia itu dari semalem tidur disini"
"bushet! jadi sebenernya lo ga masuk kelas gegara main cewe? gile lo"
"ngga bukan begitu, ceritanya panjang"
"lah terus perempuan apaan? dari gua kesini juga ga ada siapa-siapa, paling cuma ada lo doang"
Kini situasi mulai membingungkan, beberapa hal aneh yang terjadi membuat ku tak percaya, bagaimana bisa dia tak melihat perempaun itu disini? jelas-jelas perempuan itu masih tak sadarkan diri, dan kayanya luka-lukanya juga lumayan parah
"eh row, jujur dah sama gua, lo bawa cewe kesini?"
"y... ya gue bawa, tapi gue ga ngapa-ngapain kok"
"row, lo jauh-jauh kuliah ke Jepang cuma buat nyari cewe doang? malu lo sama bokap lo dirumah"
"ga bukan begitu, aduuuuh ribet dah kalo diceritain, soalnya gua juga ga tau sebenernya itu perempuan kenapa"
"maksud lo gimana?"
"intinya gua liat dia udah luka-luka, terus dia juga minta dibunuh"
"hah! seriusan lo?!"
"serius gua fik, makanya itu dia gue bawa kesini"
"kenapa lo ga telopn gua aja?"
"gimana caranya? hape gua aja mati gara-gara kelamaan keujanan"
"lah itu hape lo dimeja kan? nyala kok, gua telpon juga masih nyambung, barusan gua liat ada banyak pemberitahuan masuk ke hape lo"
"ahh ga mungkin, gue inget banget hape gue ga bisa dinyalain, soalnya waktu itu gue mau telpon ambulan buat nganterin tuh perempuan ke ruah sakit" aku masih bersikeras dengan alasan ku, karena kejadian itu benar-benar aku alami sendiri, sedangkan safik, teman ku yang ada disebelah malah menatap ku dengan kerutan didahinya yang menandakan bahwa alasan ku tidak masuk akal, "serius gue ga boong" kata ku sambil terus meyakinkannya, namun dia malah meresponnya dengan menggelengkan kepala sambil berjalan ke arah meja belajar untuk mengambil hape ku yang masih tergeletak disana.
Perlahan dia merogoh saku celananya untuk mengambil hapenya sendiri dan menelpon ku untuk memastikan perkataan ku barusan, melihat dia melakukan itu membuat ku menelan ludah berkali-kali, kenapa hal kaya begini malah ngebuat jadi deg-degan? tak banyak waktu yang terbuang, kini safik berbalik menatap ku sambil melempar hape ku yang ada di atas meja, "weitss, jangan sembaragan lempar dong" dengan sedikit menggerutu ku ambil hape dan terlihat ada panggilan masuk dari safik dilayar tampilan depan yang masih berlangsung, kok malah jadi begini?!! sekujur tubuh ku mulai berkeringat, perlahan ku melirik ke arah safik tapi terlihat tatapan yang lesuh, sepertinya dia menunggu alasan ku yang berikutnya.
"mm.. serius waktu itu hape gue mati"
"itu buktinya nyala"
"gue ga tau, tapi beneran deh"
"row, lo kalo boong cari alesan yang pinter dikit lah"
"yaelah ini anak, sumpah dah kaga boong gue"
"lo mending balik tinggal di asrama ajaa deh, ngeri gua"
"ehh jangan dong, blom juga ada dua bulan gue disini"
"ya lagian lo susah diatur, bolos kuliah, bawa cewe, mabok juga"
"hah?! gue kaga pernah mabok!, ngarang lo"
"lah itu di dapur gua nemu 2 kaleng beer"
Seperti tertusuk tapi tak berdarah, bagaimana bisa di dapur ada minuman begituan? seingat ku, aku tak pernah membeli barang-barang seperti itu.
"ga mungkin, erakhir yang gue minum itu air dingin sama kopi" terlihat lagi mimik wajahnya yang meragukan itu, "gini aja deh fik, selama kita di Jepang, pernah ga gue minum-minuman begitu?" hanya cara seperti yang terbesit dipikiran ku untuk bisa mendapatkan kepercayaannya safik yang sempat meragu, "ga pernah sih, cuma gua ga tau kalo lo disini sendiri gimana" jawabnya sambil mengangkat sebelah alisnya, "kah tempat kita ga jauh fik, lo juga sering kesini kan, ya walaupun baru dua bulan doang gue nyobain hidup di apartemen" lanjut ku terus memberi keterangan kepadanya.
"hmm.. iya sih lo ga pernah macem-macem"
"nah kan, jadi lo percaya dong"
"hadeeeeh~ okelah! inget lo jangan kebablasan"
"iya iya, gue udah gede kali fik"
"umur lu memang udah 25, tapi tingkah lo masih aja kaya bocah abg!"
"kapan lagi gue bisa memerdekakan diri kalo bukan disini"
Oh iya aku lupa memperkenalkan teman ku yang tadi, ehem... perkenalkan, teman kuliah ku sekaligus merangkap menjadi abang angkat ku, sekaligus merangkap lagi menjadi guru agama ku, sekaligus merangkap lagi dan lagisebagai teman curhat ku, hehe panjang banget memang gelar dia disini, tapi begitulah dia. Sekarang ini kami sedang melanjutkan pendidikan di Jepang pada jenjang yang lebih tinggi, sebenarnya hal ini agak sedikit melenceng dari tujuan awal ku yang ingin ke Inggris, tapi temah ayah menawarkan ku untuk melanjutkan ke Jepang , hahai~ tawaran seperti ini mungkin tak datang dua kali, jadi langsung ku sikat aja toh aku juga sudah tak betah tinggal dirumah karena beberapa alasan.
Seperti yang sudah aku ceritakan tadi, kami sama-sama mengambil jurusan tentang ekonomi, biarpun sama-sama mengambil jurusan ekonomi tapi kami berbeda konsentrasi, safik ke arah sosial pembangunan sedangkan aku kepada manajemennya. Awal mula pertemuan kami terjadi di bandara sesaat sebelum keberangkatan ke Jepang, safik yang saat itu belum pernah naik pesawat terlihat begitu kebingungan dan norak, aku sempat berharap kalau nanti dipesawat aku bisa berjauhan dengannya, tapi Allah berkehendak lain. Aku kebagian duduk dipojok dekat dengan jendela, dan tepat disebelah ku adalah tempat duduk safik, awal percakapan kami terasa begitu biasa.
"maaf mas, mau tukeran tempat duduk ga?" sambil berdiri dia menepuk pundak ku.
"hah? memangnya mas ini duduk dimana?" tanya ku balik dengan wajah lesuh, soalnya aku juga ingin duduk dipojok dekat dengan jendela.
"ini, saya duduk disini" menepuk kursi disebelah ku.
"kenapa ga duduk disitu aja mas?"
"saya pengen lia langit sama awan dari deket"
"oh.. kan dari temapat duduk mas juga bisa liat" sebisa mungkin ku pertahankan kursi ini.
"hahaha kurang puas mas, lagian ini pertama kalinya saya naik pesawat, jadi saya pengen banget liat pemandangan dari jendela pesawat" kalimatnya memang membuat ku merasa iba padanya, tapi tolong peka sedikitlah, aku ini ga mau ngasih kursi ini ke dia, jadi berhenti deh ngomong sama aku. Pada awalnya aku tidak mengira kalau dia adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, tapi setelah kami tidak sengaja duduk sebelahan, dia terus bercerita banyak tentang kehidupannya dan juga kampung halamannya. Sejak awal dia selalu memulai percakapan, padahal sudah beberapa kali ku berika kode untuk berhenti berbicara namun dia tetap tidak menghiraukannya, hadeeeeh... jujur, ini pertama kalinya juga aku naik pesawat, aku pun selalu mendambakan bisa melihat pemandangan yang indah dari atas langit lewat jendela pesawat, berkat safiksemua itu pun sirna begitu saja, apa boleh buat, akhirnya kami bertukar tempat duduk suaya dia berhenti bicara, rasa-rasanya safik ini sudah sangat lihai di dunia marketing.
Wajah safik berubah ceria, dia menjabat tangan ku dengan sangat kuat, saking kuatnya bahu ku pun ikut bergerak terayun oleh jabatannya, setelahnya dia terus menatap ke luar jendela, terlihat pantulan wajahnya dari jendela kalau dia memang benar-benar bahagia. Saat pesawat sedang melewati awan sosok noraknya mulai terasa kental, teriakannya membuat aku dan dia menjadi pusat perhatian penumpang yang lain, namun itu masih belum seberapa, hal yang paling mengejutkan terjadi keitka pramugari menawarkan makanan kepada kami, safik bertanya apakah bisa minta tambah atau tidak, mendengarnya membuat ku tertunduk malu karena kalimat itu terlontar cukup kerassehingga banyak penumpang lain kembali memperhatikan kami bardua, hmm... kenapa aku malah menceritakan hal memalukannya safik? hehehe maaf safik, tapi pertemuan pertama kita waktu itu memang hal yang tak bisa ku lupakan.
Berlanjut lagi pada saat sekarang, suasana dikamar ku kembali membingungkan, dengan adanya kaleng beer yang tergeletak di dapur aku menduga seseorang pasti telah masuk ke apartemen ku, dan bodoh sekali orang itu meninggalkan kaleng beer ditempat korbannya, mm... situasi ini sangat mudah sekali ku tebak kemana arahnya, sudah pasti seseorang datang untuk menculik perempuan itu, aku pun harus memastikan lagi apakah ada barang yang hilang atau rusak.
"fik, tadi pas lo masuk ada barang-barang yang rusak ga?"
"hm... kayanya ga ada deh, paling gua cuma liat tumpahan kopi dilantai dapur aja sih, .... oh sama roti juga"
"selain itu?"
"ga ada sih, cuma itu doang"
Aneh, ga ada barang-barang yang rusak, dan .... kayanya ga ada barang-barang yang ilang juga, apa jangan-jangan penculiknya memang ga niat macem-macem ya? mm... ko aku jadi makin ragu.
"lo mikirin apa sih jow?"
"ga, gue cuma bingung aja, kok malah jadi begini"
"maksud lo gimana?"
"bentar... gue mau nanya lagi, lo pas dateng ke sini liat gue udah tiduran dikasur apa tekapar di dapur?"
"udah di kamar"
"diih ko jadi aneh ya"
"lo kenapa sih row?"
"ga fik, seinget gue, gue tuh pingsan di dapur dan numpahin kopi, awalnya gue pikir itu mimpi, tapi pas tadi lo bilang ada tumpahan kopi di lantai dapur gue jadi mikir kalo ini bukan mimpi"
"lah terus gimana caranya lo bisa pindah ke kamar?"
"nah itu dia, gue juga ga ngerti"
"row, lo ga mau ke dokter? gua rasa halusinasi lo makin ga masuk akal dah"
"diih, ga percaya banget"
Sewaktu aku mencoba menjelaskan berbagai hal pada safik, aku terus mencium aroma kopi disekeliling ku, sambil mengedarkan aku mencari dari mana bau itu muncul, dan ternyata benar dugaan ku, aku baru menyadari ternyata baju ini yang ku kenakan dari kemarin, kebetulan masih ada bengkas tumpahan kopi di baju ku tapi tidak banya. dengan semangat aku menyodorkan baju ku sebagai bukti kuatnya.
"nih bengkasnya, lo cium aja, masih ada bau-bau kopinya kok", safik menyodorkan badannya dan mencium baju ku dengan wajah yang awalnya tak percaya, tapi sesaat kemudian dahinya berkerut dan menggelengkan kepala sambil berkata "ga mungkin, lo pasti boong lagi"
"dih fik, beneran gue"
"memang masih ada bau-bau kopinya sih, tapi masa iya lo bisa tau-tau pindah ke kamar padahal lo bilang sendiri lo itu pingsan. mm... lo mungkin pindah tapi masih setengah sadar kali, jadi lo ga inget"
"hmm... bisa jadi juga" dalam benak ku terus berputar beragam kemungkinan yang bisa terjadi, dan juga sebenarnya aku ingin banyak bercerita kepada safik, tapi melihat respon-responnya yang tadi sepertinya akan jadi makin rumyam masalahnya, ahh... biarlah nanti ku pikirkan lagi kalau kondisi ku sudah mulai membaik.
Komentar
Posting Komentar