Langsung ke konten utama

SILUET DIBALIK TIRAI


Aku Ragu


Dinding terasa begitu dingin membuat adam malas untuk bersandar. Jam tangan klasik yang digunakan terasa begitu berisik ketika jarum detik terus berputar, mengganggunya ketika sedang menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Beberapa kali dia ditegur oleh orang lain yang melihatnya membatu didepan pintu, namun adam hanya membalasnya dengan menggarukan kepalanya sambil menuai senyum yang palsu.

“duh masuk ga ya?” katanya sambil mengusap telapak tangan, kini pikirannya mulai ikut serta mengganggu. Wajah gelisah terlihat dari pantulan kaca yang ada dipintu, ekspresi ragu membuat tubuhnya menjadi lesuh dan menggandeng niatnya untuk ikut runtuh , “aduuh, padahal tinggal selangkah lagi, masa iya mau mundur lagi” bantuan kalimat terakhir yang terbesit dikepalanya membuat semangat kembali membara.

Tangan menggapai gagang pintu dan tenaga sudah mengalir penuh untuk datang bertamu. “ahh maaf, jangan masuk dulu ya, perawatannya masih belum selesai” kata seorang suster yang tiba-tiba muncul di depan pintu, “oh, iya, maaf, saya ga tau, yaudah deh kalo begitu, maaf suster” kalimat perpisahan yang terlontar sebelum adam membalikan badan meninggalkan tempat dia berpijak. Dengan kepala yang tertunduk dia hanya berharap yang terbaik untuk kesembuhan orang itu.

“ku melihat sesuatu yang tabu, yaitu keraguan ku dalam mendatangi mu, aku selalu hawatir dengan sosok yang kamu tunggu, apakah itu aku?”
-adam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan