Aku Ragu
Dinding terasa begitu dingin membuat adam malas untuk
bersandar. Jam tangan klasik yang digunakan terasa begitu berisik ketika jarum
detik terus berputar, mengganggunya ketika sedang menatap pintu kamar yang
tertutup rapat. Beberapa kali dia ditegur oleh orang lain yang melihatnya
membatu didepan pintu, namun adam hanya membalasnya dengan menggarukan
kepalanya sambil menuai senyum yang palsu.
“duh masuk ga ya?” katanya sambil mengusap telapak tangan,
kini pikirannya mulai ikut serta mengganggu. Wajah gelisah terlihat dari
pantulan kaca yang ada dipintu, ekspresi ragu membuat tubuhnya menjadi lesuh dan
menggandeng niatnya untuk ikut runtuh , “aduuh, padahal tinggal selangkah lagi,
masa iya mau mundur lagi” bantuan kalimat terakhir yang terbesit dikepalanya
membuat semangat kembali membara.
Tangan menggapai gagang pintu dan tenaga sudah mengalir
penuh untuk datang bertamu. “ahh maaf, jangan masuk dulu ya, perawatannya masih
belum selesai” kata seorang suster yang tiba-tiba muncul di depan pintu, “oh,
iya, maaf, saya ga tau, yaudah deh kalo begitu, maaf suster” kalimat perpisahan
yang terlontar sebelum adam membalikan badan meninggalkan tempat dia berpijak. Dengan
kepala yang tertunduk dia hanya berharap yang terbaik untuk kesembuhan orang
itu.
“ku melihat sesuatu
yang tabu, yaitu keraguan ku dalam mendatangi mu, aku selalu hawatir dengan sosok
yang kamu tunggu, apakah itu aku?”
-adam
Komentar
Posting Komentar