Langsung ke konten utama

SILUET DIBALIK TIRAI


Isak Tangis


Setelah pertengkaran di waktu senja itu, dia sudah tidak pernah datang berkunjung lagi. Suasana dingin menyelimuti ruangan yang sempat memanas beberapa waktu lalu, disertai sesak dalam dada yang tidak bisa diatahan walau ari tahu bahwa penawar dari sakit itu sangatlah dekat, namun ia memilih untuk menahannya sedikit lebih lama lagi sambil memandang keluar jendela.

Pagi berubah menjadi siang, sedang siang terus melaju menuju petang tapi sosok itu pun tak kunjung datang. Perawatan terus dijalankan tanpa mau menunggu walau hanya sebentar, sedangkan hati dan pikiran makin kelam dan kacau. Selama penantiannya ari selalu mempertanyakan tindakan orang itu yang tiba-tiba menghilang. Handphone masih tetap dalam genggamannya, menanti adanya kabar atau cerita yang sering sosok itu bagi walau beberapa diantaranya ada kebohongan yang enggan dia beritau.

Sayangnya cahaya senja kala itu tak bisa menemaninya terlalu lama, dihalaman rumah sakit sudah banyak orang hilir mudik dengan beragam ekpresi panik, dan hanya sedikit yang memasang wajah bahagia, sedangkan di seberangnya  banyak dedaunan berterbangan seperti memberi tanda jika diluar angin sedang berhembus kencang, apakah diluar lebih dingin atau bahkan lebih hangat dari ruangannya sekarang ini, dia selalu ingin menikmatinya walau sebantar.

“Dasar jahat, ngilang diwaktu cerita belum selesai, paling ngga selesain dulu ceritanya biar ngga gantung.  Hmm… gimana kabar dia sekarang? Loh, aku mikir apa sih, memangnya dia bakal kesini lagi? pasti dia udah sibuk sama dunia barunya, dunia yang lebih luas. Abis itu… aku ngga bisa minta maaf lagi, dan ga bisa bliang terimakasih lagi…” perlahan air mata meleleh membasahi pipi, menurun perlahan seirama dengan turunnya pandangan menatap telapak tangan, “ nasi atau bubur? Haha, pasti orang lebih milih nasi, tapi buat yang  kaya kita pasti akan lebih milih bubur.  Dasar, kenapa aku ga bilang begitu waktu itu”, suara isak kecil terdengar sampai balik tirai, “udah yang keberapa kali ya aku nangis. Dasar cengeng”

“aku selalu menunggu kedatangan bayangan itu dari balik tirai, walau tak terlihat rupanya seperti apa, tapi suaranya selalu hangat menyapa”
-         - Ari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan