Isak Tangis
Setelah pertengkaran di waktu senja
itu, dia sudah tidak pernah datang berkunjung lagi. Suasana dingin menyelimuti ruangan yang sempat memanas beberapa
waktu lalu, disertai sesak dalam dada yang tidak bisa diatahan walau ari
tahu bahwa penawar dari sakit itu sangatlah dekat, namun ia memilih untuk menahannya
sedikit lebih lama lagi sambil memandang keluar jendela.
Pagi berubah menjadi siang, sedang
siang terus melaju menuju petang tapi sosok itu pun tak kunjung datang. Perawatan
terus dijalankan tanpa mau menunggu walau hanya sebentar, sedangkan hati dan
pikiran makin kelam dan kacau. Selama penantiannya ari selalu mempertanyakan
tindakan orang itu yang tiba-tiba menghilang. Handphone
masih tetap dalam genggamannya, menanti adanya kabar atau cerita yang
sering sosok itu bagi walau beberapa diantaranya ada kebohongan yang enggan dia
beritau.
Sayangnya cahaya senja kala itu tak
bisa menemaninya terlalu lama, dihalaman
rumah sakit sudah banyak orang hilir mudik dengan beragam ekpresi panik, dan hanya
sedikit yang memasang wajah bahagia, sedangkan di seberangnya banyak dedaunan berterbangan seperti memberi
tanda jika diluar angin sedang berhembus kencang, apakah diluar lebih dingin
atau bahkan lebih hangat dari ruangannya sekarang ini, dia selalu ingin
menikmatinya walau sebantar.
“Dasar jahat, ngilang diwaktu
cerita belum selesai, paling ngga selesain dulu ceritanya biar ngga gantung. Hmm… gimana kabar dia sekarang? Loh, aku mikir
apa sih, memangnya dia bakal kesini lagi? pasti dia udah sibuk sama dunia barunya,
dunia yang lebih luas. Abis itu… aku ngga bisa minta maaf lagi, dan ga bisa
bliang terimakasih lagi…” perlahan air mata meleleh membasahi pipi,
menurun perlahan seirama dengan turunnya pandangan menatap telapak tangan, “
nasi atau bubur? Haha, pasti orang lebih milih nasi, tapi buat yang kaya kita pasti akan lebih milih bubur. Dasar, kenapa aku ga bilang begitu waktu itu”,
suara isak kecil terdengar sampai balik tirai, “udah yang keberapa kali ya aku
nangis. Dasar cengeng”
“aku
selalu menunggu kedatangan bayangan itu dari balik tirai, walau tak terlihat
rupanya seperti apa, tapi suaranya selalu hangat menyapa”
- - Ari
Komentar
Posting Komentar