Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020
MAMAH DAN SEGITIGA CINTA Dia mengajarkan tentang bagaimana menikmati hal yang sedikit, dia juga yang mengajarkan tentang hebatnya sisi kesederhanaan yang membuat daya pikir menjadi terstruktur lagi kritis. “jagoan mamah harus kuat, nanti kalo jagoannya ga kuat siapa dong yang nolongin mamah?” padahal jawabannya jelas terarah kepada kehendak Allah Ta’ala, namun kenapa pertanyaan itu terlempar pada sosok yang kecil dan tak berdaya ini? Seolah diri ini memiliki suatu kemampuan yang dapat mengangkat beban ribuan ton dengan sebelah tangan. “udah gapapa, jangan nangis terus ya, nanti kalo jagoan mamah nangis terus, mamah juga ikutan nangis nih” katanya sambil memeluk erat dan mengelus punggung ini, awalnya ku dengar seperti bualan lawas masa lampau, tapi tak bisa ku pungkiri memang itu selalu berhasil menenangkan duka dalam dada, tak lama setelah ketenangan itu menyapa giliran tangannya yang bergetar dipunggung ku, memang frekuensi getarannya tidak hebat, namun getaran itu seol...

SILUET DIBALIK TIRAI

Menghilang dan Menghindar Banyak kendaraan lalu-lalang melintas dihadapan rangga, namun tatapan panjangnya mampu membelah jalan besar yang melintang didepannya. Suara bising tidak meyakitkan telinganya sama sekali, begitu juga dengan ramainya orang yang disekitarnya, rangga terlalu sibuk menyendiri ditengah keramaian yang mengepungnya. Lama dia berdiri dipinggir akhirnya lampu lalulintas mengizinkannya untuk menapaki langkah baru setelah penantiannya. Jalan dengan tegap dengan langkah yang kurang cepat, rangga begitu menikmati setiap langkahnya. Sesampainya di seberang jalan seseorang menepuk pundaknya dengan kuat, “heeii!! Rangga kan?” sahutnya setelah pundak tertepuk olehnya, “hah? Siapa ya?” tanya rangga balik, “hee? Kamu udah lupa? Padahal aku loh yang selalu ngurusin kamu pas kamu masih di emerald” katanya sambil mengukir senyum lebar diwajahnya. “emerald? Kayanya salah orang deh” “haha jahat banget sih, kamu beneran udah lupa?” “iya” “susiii, masih inget kan” ...

SILUET DIBALIK TIRAI

Aku Ragu Dinding terasa begitu dingin membuat adam malas untuk bersandar. Jam tangan klasik yang digunakan terasa begitu berisik ketika jarum detik terus berputar, mengganggunya ketika sedang menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Beberapa kali dia ditegur oleh orang lain yang melihatnya membatu didepan pintu, namun adam hanya membalasnya dengan menggarukan kepalanya sambil menuai senyum yang palsu. “duh masuk ga ya?” katanya sambil mengusap telapak tangan, kini pikirannya mulai ikut serta mengganggu. Wajah gelisah terlihat dari pantulan kaca yang ada dipintu, ekspresi ragu membuat tubuhnya menjadi lesuh dan menggandeng niatnya untuk ikut runtuh , “aduuh, padahal tinggal selangkah lagi, masa iya mau mundur lagi” bantuan kalimat terakhir yang terbesit dikepalanya membuat semangat kembali membara. Tangan menggapai gagang pintu dan tenaga sudah mengalir penuh untuk datang bertamu. “ahh maaf, jangan masuk dulu ya, perawatannya masih belum selesai” kata seorang suster yang ...

SILUET DIBALIK TIRAI

Harap dan Tawa Buku cerita tak pernah menjauh dari meja disebelah kasurnya, dikala senggang dia selalu membuka dan membacanya berulang-ulang. Menemukan berbagai prespektif untuk beropini telah menjadi kesukaannya dikala sosok itu bercerita tentang kisah yang tak pernah dia dengar sebelumnya, priscilia selalu penasaran dengan cerita apa yang akan dikisahkannya nanti. Kegemarannya terhadap rasa selalu medorongnya untuk menemukan pandangan baru dalam satu cerita yang sama, karena setiap pandangan memiliki kejutan lain walau itu dikisahkan oleh satu sumber saja. Sudah lama dia mencari orang yang mampu mengimbanginya dalam berpandangan, namun lawan bicara selalu melontarkan alasan yang hambar, berbeda dengan sosok yang ditemuinya dikoridor depan kamar, orang itu unik sama seperti dirinya. Priscilia selalu kagum dengan antusiasnya dalam menyelesaikan masalah. Awalnya dia berpikir bahwa dirinya tak bisa disamai, tapi sosok itu   ternyata mampu membuatnya terdiam dan tertawa di...

SILUET DIBALIK TIRAI

Isak Tangis Setelah pertengkaran di waktu senja itu, dia sudah tidak pernah datang berkunjung lagi. Suasana dingin menyelimuti   ruangan yang sempat memanas beberapa waktu lalu, disertai sesak dalam dada yang tidak bisa diatahan walau ari tahu bahwa penawar dari sakit itu sangatlah dekat, namun ia memilih untuk menahannya sedikit lebih lama lagi sambil memandang keluar jendela. Pagi berubah menjadi siang, sedang siang terus melaju menuju petang tapi sosok itu pun tak kunjung datang. Perawatan terus dijalankan tanpa mau menunggu walau hanya sebentar, sedangkan hati dan pikiran makin kelam dan kacau. Selama penantiannya ari selalu mempertanyakan tindakan orang itu yang tiba-tiba menghilang. Handphone masih tetap dalam genggamannya, menanti adanya kabar atau cerita yang sering sosok itu bagi walau beberapa diantaranya ada kebohongan yang enggan dia beritau. Sayangnya cahaya senja kala itu tak bisa menemaninya terlalu lama, dihalaman rumah sakit sudah banyak orang hilir ...

HIJRAHMORFOSIS

BASE 2 "hah!!" "alhamdulillah udah bangun" "loh, ini dimana?" "dimana lagi kalo bukan di kamar" "hee?" kata ku yang masih tak percaya "lo kalo sakit bilang dong, jangan main bolos gitu aja" "hah? gue ga ada kelas hari ini" "ga ada kelas paledut, ada lah!" "dih" "row gua hafal jadwal kuliah lo, lo itu ga ada kelasnya hari rabu, sekrang mah ada, kan kita satu kelas di kelas bunisness international, lo gimana dah?" "dih, sekarang masih rabu kan" karena seingat ku hari ini adalah hari rabu, soalnya kemarin aku baru aja pulang malam gara-gara ngerjain tugas di perpus. "lah, sekarang kamis, kemaren tuh rabu, kemaren memang lo ga ada kelas, tapi tadi siang ada" katanya yang masih sulit aku terima, jelaslah, soalnya kemarin itu aku baru saja membawa... "oh iya! perempuan itu kemana?" sebab rasa penasaran, aku pun bisa terduduk sabil menatap kesegala ar...