Tempat Masa Kecil
Di kala masih begitu kecil ku sering sekali berkunjung ke sana, bermain dan merasa bahagia, di sanalah aku bisa merasakan kemenangan di kala aku dihujat dengan banyaknya kekalahan, di sanalah aku merasakan kebenaran di kala banyak omongan yang mengatakan bahwa kesalahan ku begitu banyak sampai tak karuan, di sana juga aku bisa mendapatkan ketenangan di kala banyak himpitan yang terus berdatangan, dan di sana pula aku bisa merasa bahagia di tengah kepedihan yang menjerat bagai batu yang menghimpit rerumputan.
Di kala kecil diri ini sering mencari tempat bermain yang menyenangkan, terus menerus menelusuri banyak hayalan tentang kebahagiaan, tapi tak kunjung juga tempat itu ditemukan. Berbagai macam hiburan memang menyenangkan, tapi durasi itu amat singkat dirasakan. Disela-sela pencarian ternyata ada satu tempat indah yang sempat mendapat perhatian, tanpa basa-basi langsung saja coba dijajalkan, tidak membutuhkan waktu yang lama, tempat itu langsung memberikan efek yang luar biasa, saking senangnya aku memutuskan untuk bercerita kepada teman sebaya, tapi tak banyak dari mereka senang mendengarnya, walaupun begitu adanya, aku masih sering berkunjung ke sana, karena tempatnya begitu nyaman untuk berlama-lama di sana.
Jika diri sedang merana, tak segan-segan ku berlari menuju tempat itu berada, karena begitu dekat jaraknya. Jika diri sedang dipuja, tak lupa pula aku menghampiri tempat itu untuk meluapkan rasa bangga, bahkan aku pun sampai hafal dimana letak tempat itu di luar kepala, tempat yang begitu nyaman untuk panjang bercerita. Masa-masa kecil yang ceria telah terukir indah di dalam tempat itu dengan sempurna, semakin sering ku mengunjunginya, semakin bertambah banyak ornamen penghias di dalamnya, sehingga ku tak pernah bosan bermain ke sana.
Menginjak dalam usia remaja, berbagai model gaya telah menjadi nyata, sudah mengenal dengan kabar berita, dan berburu menjadi sosok yang sosialita, sampai waktu begitu banyak yang tersita, hingga membuat ku lupa akan wisata ke tempat biasa, hanya ketika sedang lara saja ku menjenguki tempat biasa, guna meluapkan sakit dan resah yang menyesakan dada, walau demikian kejadiannya, dari sana selalu bisa ku dapatkan balutan makna yang luar biasa. Di kala remaja, di tempat itu aku merasa bisa mendapatkan kehangatan di tengah-tengah dingin yang mampu merusak raga, dan di tempat itu juga ku bisa merasa kesejukan di dalam panas yang mampu membuat fatamorgana, hingga ku rasa bahwa tempat ini seperti terkoneksi dengan sesuatu yang luar biasa.
Menjejaki usia yang harusnya sudah menjadi orang tua namun tetap merasa muda, sudah sering pergi berkelana melalang buana, menjejali berbagai macam hal yang belum pernah dicoba sebelumnya, terpaku dengan mimpi yang berselimut halusinasi belaka, bermodal ragam rencana yang belum pernah teruji sebelumnya, hingga waktu uji coba tiba, hati dan raga mulai bergerak sama-samademi tergapainya cita-cita. Waktu terus berjalan menguji hasil uji coba, namun itu berbuah sia-sia, seperti manusia yang tidak memiliki nama, aku pun ditinggal tak berdaya, rasa-rasa putus asa tidak bisa dihindarinya, tanpa pikir lama-lama semua ku salahkan tanpa tau asal muasalnya, gerak gerik yang sungguh membabi buta, semua terlihat salah di depan mata, kalimat yang baik seperti hilang dari kamus kosakata, langkah kini berbalik membelakangi cahaya, menuju gelap yang gulita.
Langkah tunggang langgang, berdiri saja bagaikan melayang, wajah mulai tertutup bayang-bayang, seperti berada di tepi jurang yang begitu dalam dan panjang, mata sedikit melirik ke arah seberang, rasa-rasa ingin bisa langsung terbang, malam yang gelap dihiasi beragam gemerlap cahaya bintang, terdengar langkah menggeretak tanah dengan kencang seperti ada yang akan datang, mata melirik ke belakang, tak kuasa diri untuk tidak tercengang, tempat dahulu yang sempat ditinggal menghilang, kini datang membuat membuat air mata menggenang, seolah berkata "sudah lama ku tunggu, malam, pagi, siang, maupun petang, tapi kau tak kunjung datang, ku rindu mendengar cerita mu yang panjang", menyadari itu pun air mata langsung berlinang, dalam keadaan yang sudah di ambang-ambang, kaki melangkah dan mata melirik ke dalam seisi ruang, ternyata selama ini cerita itu telah terpahat indah menjadi ornamen yang di pajang, waktu memang tak mungkin bisa diulang, namun cerita indah yang terekam bisa tetap dikenang, coba ku pegang tumpukan buku yang usang, ku dapati tulisan tulisan cerita di kala diri ini terasa amat riang, membacanya berulang-ulang membuat ku semakin tenang, sampai akhirnya muncul kalimat yang membuat ku senang, "tidak ada alasan untuk berhenti berjuang, sekarang waktunya untuk membuktikan sisi lain dari seorang pemenang, karena diri ku di masa lalu berharap begitu kepada dirinya di masa yang akan datang", tak terasa waktu telah berlari begitu kencang, membuat ku harus siap berancang-ancang, namun sebelum ku harus memulai langkah yang panjang, tolong ingatkan diri ku di masa depan bahwa pemenang tidak pernah berhenti untuk berjuang, lalu jika langkahnya sudah mulai goyang, katakan bahwa dia selalu punya tempat untuk kembali pulang, dan tempat itu adalah hati kecil yang selalu menopang di kala diri ini sudah tidak seimbang.
Di kala masih begitu kecil ku sering sekali berkunjung ke sana, bermain dan merasa bahagia, di sanalah aku bisa merasakan kemenangan di kala aku dihujat dengan banyaknya kekalahan, di sanalah aku merasakan kebenaran di kala banyak omongan yang mengatakan bahwa kesalahan ku begitu banyak sampai tak karuan, di sana juga aku bisa mendapatkan ketenangan di kala banyak himpitan yang terus berdatangan, dan di sana pula aku bisa merasa bahagia di tengah kepedihan yang menjerat bagai batu yang menghimpit rerumputan.
Di kala kecil diri ini sering mencari tempat bermain yang menyenangkan, terus menerus menelusuri banyak hayalan tentang kebahagiaan, tapi tak kunjung juga tempat itu ditemukan. Berbagai macam hiburan memang menyenangkan, tapi durasi itu amat singkat dirasakan. Disela-sela pencarian ternyata ada satu tempat indah yang sempat mendapat perhatian, tanpa basa-basi langsung saja coba dijajalkan, tidak membutuhkan waktu yang lama, tempat itu langsung memberikan efek yang luar biasa, saking senangnya aku memutuskan untuk bercerita kepada teman sebaya, tapi tak banyak dari mereka senang mendengarnya, walaupun begitu adanya, aku masih sering berkunjung ke sana, karena tempatnya begitu nyaman untuk berlama-lama di sana.
Jika diri sedang merana, tak segan-segan ku berlari menuju tempat itu berada, karena begitu dekat jaraknya. Jika diri sedang dipuja, tak lupa pula aku menghampiri tempat itu untuk meluapkan rasa bangga, bahkan aku pun sampai hafal dimana letak tempat itu di luar kepala, tempat yang begitu nyaman untuk panjang bercerita. Masa-masa kecil yang ceria telah terukir indah di dalam tempat itu dengan sempurna, semakin sering ku mengunjunginya, semakin bertambah banyak ornamen penghias di dalamnya, sehingga ku tak pernah bosan bermain ke sana.
Menginjak dalam usia remaja, berbagai model gaya telah menjadi nyata, sudah mengenal dengan kabar berita, dan berburu menjadi sosok yang sosialita, sampai waktu begitu banyak yang tersita, hingga membuat ku lupa akan wisata ke tempat biasa, hanya ketika sedang lara saja ku menjenguki tempat biasa, guna meluapkan sakit dan resah yang menyesakan dada, walau demikian kejadiannya, dari sana selalu bisa ku dapatkan balutan makna yang luar biasa. Di kala remaja, di tempat itu aku merasa bisa mendapatkan kehangatan di tengah-tengah dingin yang mampu merusak raga, dan di tempat itu juga ku bisa merasa kesejukan di dalam panas yang mampu membuat fatamorgana, hingga ku rasa bahwa tempat ini seperti terkoneksi dengan sesuatu yang luar biasa.
Menjejaki usia yang harusnya sudah menjadi orang tua namun tetap merasa muda, sudah sering pergi berkelana melalang buana, menjejali berbagai macam hal yang belum pernah dicoba sebelumnya, terpaku dengan mimpi yang berselimut halusinasi belaka, bermodal ragam rencana yang belum pernah teruji sebelumnya, hingga waktu uji coba tiba, hati dan raga mulai bergerak sama-samademi tergapainya cita-cita. Waktu terus berjalan menguji hasil uji coba, namun itu berbuah sia-sia, seperti manusia yang tidak memiliki nama, aku pun ditinggal tak berdaya, rasa-rasa putus asa tidak bisa dihindarinya, tanpa pikir lama-lama semua ku salahkan tanpa tau asal muasalnya, gerak gerik yang sungguh membabi buta, semua terlihat salah di depan mata, kalimat yang baik seperti hilang dari kamus kosakata, langkah kini berbalik membelakangi cahaya, menuju gelap yang gulita.
Langkah tunggang langgang, berdiri saja bagaikan melayang, wajah mulai tertutup bayang-bayang, seperti berada di tepi jurang yang begitu dalam dan panjang, mata sedikit melirik ke arah seberang, rasa-rasa ingin bisa langsung terbang, malam yang gelap dihiasi beragam gemerlap cahaya bintang, terdengar langkah menggeretak tanah dengan kencang seperti ada yang akan datang, mata melirik ke belakang, tak kuasa diri untuk tidak tercengang, tempat dahulu yang sempat ditinggal menghilang, kini datang membuat membuat air mata menggenang, seolah berkata "sudah lama ku tunggu, malam, pagi, siang, maupun petang, tapi kau tak kunjung datang, ku rindu mendengar cerita mu yang panjang", menyadari itu pun air mata langsung berlinang, dalam keadaan yang sudah di ambang-ambang, kaki melangkah dan mata melirik ke dalam seisi ruang, ternyata selama ini cerita itu telah terpahat indah menjadi ornamen yang di pajang, waktu memang tak mungkin bisa diulang, namun cerita indah yang terekam bisa tetap dikenang, coba ku pegang tumpukan buku yang usang, ku dapati tulisan tulisan cerita di kala diri ini terasa amat riang, membacanya berulang-ulang membuat ku semakin tenang, sampai akhirnya muncul kalimat yang membuat ku senang, "tidak ada alasan untuk berhenti berjuang, sekarang waktunya untuk membuktikan sisi lain dari seorang pemenang, karena diri ku di masa lalu berharap begitu kepada dirinya di masa yang akan datang", tak terasa waktu telah berlari begitu kencang, membuat ku harus siap berancang-ancang, namun sebelum ku harus memulai langkah yang panjang, tolong ingatkan diri ku di masa depan bahwa pemenang tidak pernah berhenti untuk berjuang, lalu jika langkahnya sudah mulai goyang, katakan bahwa dia selalu punya tempat untuk kembali pulang, dan tempat itu adalah hati kecil yang selalu menopang di kala diri ini sudah tidak seimbang.
Komentar
Posting Komentar