Langsung ke konten utama

AURA


Di sebuah pulau bagian timur di belahan dunia yang jauh dari campur tangan gerombolan kelompok manusia, dan jauh pula dari kebisingan teriak orang-orang pedagang. Hamparan pasir putih yang dikelilingi lautan biru yang indah, ada sebuah rumah yang terlihat begitu sederhana berdiri disana, terbuat dari kayu yang diambil langsung dari hutan di pulau itu, memiliki sentuhan tersendiri yang membuatnya nampak elok terlihat. Rumah ini terlihat begitu alami dan natural, setiap lekukan dan penempatan benda, juga ruangannya benar-benar memberi karakter yang kuat tentang pulau ini. Disamping itu pula terdapat banyak sekali jenis tanaman yang tumbuh di sekelilingnya, sangat tertata sempurna.

Kami tinggal berlima di rumah ini, terdengar seperti zaman prasejarah yang kuno tetapi tidak demikian, kami semua layaknya manusia normal seperti halnya orang-orang di kota, pakaian yang kami kenakan, tingkah laku antar sesama, dan makanan kami pun semua sama, hanya tempat tinggal dan cara kami bertahan hidup saja yang sedikit berbeda. Banyak orang bertanya bagaimana cara kami bertahan ketika lapar, sakit, atau tertimpa musibah. Pertanyaan itu terlontar saat kami berkunjung untuk membeli beberapa peralatan di kota. Kami  tidak lantas menjawab secara panjang lebar, kami hanya bilang “kami akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dan berjuang sekuat tenaga, selagi ada dan masih bertenaga”, terdengar seperti pukulan telak ke arah kepala, tapi memang begitu yang biasa kami lakukan setiap saat, bertahan dan terus berusaha.

Ayah mengajarkanku bagaimana caranya berburu di hutan maupun di lautan lepas, dia mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup dalam hutan dan menaklukan mangsa. Berbeda dengan ibu yang selalu mengajarkan bagaimana meracik obat-obat alami yang ditemukan dalam hutan dan dalam lautan, terdengar seperti bukan perjalanan yang mudah-mudah saja, tetapi itu yang terjadi dalam kehidupan ku yang terlanjur keras, dan ini baru permulaan saja.

Di pagi buta dalam pulau ini aku terbangun dalam mimpi yang kelam, aku mencoba menenangkan diri sejenak dengan duduk di pinggir pantai sambil menatap lautan lepas yang ditemani langit dengan bintang dan bulannya, suasana seperti ini biasanya mampu membantu ku untuk menenangkan pikiran. Ketika asik melamun menatap lautan, di kejauhan aku melihat seperti ada yang bergerak seolah membelah permukaan lautan dengan kekuatan yang besar dan cepat. Sontak aku pun terkejut dan mulai mengikuti arahnya.

DUUUAAARRRRR!!! Suara ledakan besar yang mampu menggetarkan permukaan tanah dan menggoyangkan pepohonan besar di hutan, namun orang-orang rumah sama sekali tidak ada yang terbangun dengan suara sebesar itu, mengherankan sekali, apalagi ayah yang begitu peka terhadap keadaan di pulau ini, bahkan dengan hal yang sepele sekali pun ayah selalu waspada. dentuman suara yang keras seperti ini sudah pasti membangunkan seisi rumah, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa ayah atau kaka terbangun. Jujur aku pun takut untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam hutan, hanya saja rasa penasaran ini mampu mengalahkan rasa takut ku. Apa boleh buat dengan segara aku memungut sebongkah balok kayu untuk berjaga-jaga akan hal buruk.

Sudah bulat tekad ku untuk memasuki hutan, dengan gesit aku menelusuri hutan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dalam perjalananku menelusuri ke dalam hutan sama sekali ku tak menemukan ada kerusakan pada pepohonan atau pun tanah yang terkoyak, semua terasa tidak ada bedanya, bahkan asap pun tidak terlihat sama sekali. Sampai di tengah hutan aku memutuskan untuk menelusuinya perlahan, namun  lagi-lagi aku tak melihat apa pun yang mencurigakan, sama seperti biasa saja. Sraakk! Ada yang bergerak dibalik pohon besar yang ada di hadapan ku, aku pun tidak bisa melihat dengan jelas apa itu yang ada di balik pohon tersebut karena tidak ada penerangan yang cukup untuk bisa melihatnya. Sambil sedikit gemetar ku genggam erat kayu yang kubawa sedari tadi untuk bersiap-siap, krreetaaak! Sekarang persis di balik pohon yang ada di belakang ku sumber suara lain terdengar. Gawat! Aku sama sekali tidak menyangka jika ada dua sumber suara di arah yang berbeda, binatang buas kah itu?! Gawat, aku sama sekali tidak terpikir jalan untuk keluar dari kepungan ini. Derai keringat terus bercucuran, dan tatapan tajam terus bergantian menatapa ke dua arah yang berbeda, lalu tiba-tiba saja aku teringat saran ayah,
“jika kamu dalam keadaan terjepit atau tidak bisa berbuat apa-apa, panjatlah pohon terdekat yang bisa kau jangkau”.
Seketika itu juga langsung ku gigit kayu yang ku bawa dan mulai memanjat pohon yang paling dekat. krreeetttaaaaak!! Batang pohon terbesar pada pohon yang ku panjat patah, “oh tidak, ini benar-benar petaka” dengan jelas aku menyaksikan batang pohon itu terayun cepat ke arah ku.

Menyaksikan itu membuat ku spontan melompat dari pohon dan mendarat persis si sela-sela akar pohon besar yang aku panjat tadi, “akh!, kenapa tadi aku harus terpancing dengan hal seperti itu?” protes ku saat setelah mendarat, sambil terus menggerutu aku bangkitkan diri dari sela-sela akar pohon, ku coba melihat ke atas sejenak untuk memastikan batang pohon tadi, mataku terbelalak setelah menyadari ternyata batang pohon yang patah itu terjun bebas ke arah ku dengan cepatnya. Aku sempat tidak percaya, tapi menyadari jika batang itu semakin dekat aku pun segera menjatuhkan tubuh ini kembali ke sela-sela akar, dan Brruuuaaakk!! Mendadak di sekeliling menjadi gelap gulita. “tunggu dulu, aku sudah membuka mataku kan?” tanyaku karena aku tak bisa melihat apa-apa selain hitam, “apa aku buta? Tidak, itu tidak mungkin”, tubuhku semakin menggigil, aku pun mencoba meraba-raba sesuatu untuk memastikan di sekeliling ku saat ini, “sungguh ini pertama dan terakhir kalinya aku ke hutan pada malam hari tanpa membawa penerangan, peralatan dan obat-obatan!” gerutu ku lagi.

Ku coba mencari celah agar dapat bernapas sedikit lega dan bergerak lebih leluasa, mulai dengan meraba sekeliling ku untuk mendapatkan sesuatu, sraak!, ah! aku melihat persis di atas kepala ku ada celah yang lumayan besar untuk bisa keluar, hanya saja dedaunan kering dan beberapa jamur menghalanginya, tapi itu bukanlah masalah karena dengan sekali kibas pun dedaunan dan jamur itu bisa segera menyingkir. Segeralah aku dorong tubuh ku agar bisa keluar melewati celah itu, namun terasa sangat sulit untuk bisa bergerak, "aduh!, kaki ku tak di gerakan" kata ku yang masih berusaha mendorong tubuh ini ke atas. memang pada awalnya semuanya gelap dan tak terlihat apa-apa, tapi, perlahan-lahan mataku sudah bisa melihat sedikit demi sedikit, setelah tahu hal tersebut aku pun menengok ke bawah dan ternyata aku baru saja mendapat masalah baru, kaki kiri ku terjepit di antara akar-akar pohon ini, gawatnya lagi kaki ku sudah mulai mati rasa. “aaarrggghh!!!” aku benar-benar kesal dengan kejadian malam ini, sunguh menyebalkan dan memuakan.

“aku tidak mau lagi seperti ini!!” teriak ku dalam lubang celah tersebut. Kreetak!, sontak aku terkejut mendengar bunyi seperti itu lagi, “aaaaarrgg!!” aku dorong batang pohon besar ini dengan sekuat tenaga tapi tetap percuma. Kreetak! kreetakk!, lagi-lagi bunyi yang sama terdengar begitu dekat, aku berharap kalau itu bukanlah suara pohon yang akan tumbang menimpa ku di lubang ini, karena jika itu sampai terjadi aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk selamat. “ugh!” aku benar-benar tidak tidak dapat mengangkat batang pohon di hadapan ku ini, “hmm” terbaring tak berdaya di atas tanah, dan persis di hadapan ku batang pohon itu masih tidak bergerak sama sekali, sedangkan jarak antara aku dan batang itu pun mungkin hanya satu jengkal, ditambah kaki kiri yang terjepit aku mulai tidak bisa merasakannya lagi, dalam posisi seperti ini aku sama sekali tidak bisa berkutik.

“sabar, aku tidak boleh takut, ini semua hanya mimpi, hanya mimpi buruk saja, jika aku tenang dan memejamkan mataku, pasti aku sudah kembali seperti semula. Bersabarlah” kata ku yang tengah berusaha menenangkan diri, dan di saat bersamaan dengan hal tersebut batang pohon itu menyentuh hidungku. “oh tidak!”. Saat aku membuka mata, ada satu hal yang ku tahu pasti bahwa keadaan sudah semakin memburuk sekarang. Jarak antara batang itu dengan tubuh ku sudah tidak ada, seperti ada sesuatu yang menindih di atas batang ini sekarang, karena batang ini benar-benar menekan tubuh ku dengan keras, sesuatu yang berat dan sangat berat pasti telah menimpa di atasnya.  Kreetak!, batang itu semakin menekan keras menindih ku. “apa benar ada pohon yang tumbang menimpa ku?” dengan suara yang sesak. “tolong” semakin kecil suara yang bisa ku keluarkan. Pasrah akan keadaan yang semakin memburuk, benar-benar tidak ada harapan lagi.

Dalam keadaan yang telah menjepit ini tanpa sadar air mata telah turun dari kelopak mata ku. Kraaak!!, aku mulai mendengar suara itu lagi, “baiklah, inilah saatnya, aku akan mati, aku akan m…” brraaaaak!!!, seketika batang pohon itu terlempar entah bagaimana caranya, yang jelas aku sungguh berterima kasih akan hal tersebut. cepat-cepat aku terduduk dan mulai memijat kaki kiri ku yang sudah mati rasa. “hmm, aku suka kebebasan!” senyum lebar di wajahku terukir sempurna, krtak!, “ahh aku benci mendengar bunyi itu lagi”. Jauh dari tempat ku berada ada sesuatu yang bergerak, mungkin itulah yang tadi membuat masalah.

Menyadari hal tersebut aku segara berdiri dan keluar dari celah akar pohon ini dengan sedikit pincang, dalam usaha ku yang bersusah payah untuk pergi dari tempat itu, aku melihat seperti ada kuda yang tengah berlari memutar di hadapan ku. “kuda?” aku terkejut, sama sekali tak pernah ku temukan ada di pulau ini. Aku mencoba mendekat untuk dapat melihat dengan jelas, “ini semua tidak masuk akal, aku yakin aku masih di tempat tidur dan…” sraaak!, sekejap tubuh ku terhempas jauh ke belakang, serasa otak ini ingin keluar dari tempatnya saat tubuh ku tak siap sama sekali. Aku terlempar lumayan jauh dan menabrak pohon besar dengan akhir yang hampir serupa seperti sebelumnya, lagi-lagi aku mendarat di akar pepohonan. “ukh! Aku rasa beberapa tulang rusuk ku patah” keluh ku ketika sudah terkapar di atas akar. “apa-apan ini?! Aku bukanlah ikan hasil tangkapan yang bisa kau lempar seenaknya saja!” amarah ku mulai meluap tak tertahankan sambil meraba-raba dada ku yang nyeri, “apa kalian…” terkejut melihat yang melempar ku bukanlah sekelompok manusia, melainkan seekor burung raksasa yang menakutkan.

Tubuhnya sangat besar,  tingginya setengah dari pohon yang ada di hutan, tatapan matanya yang tajam menatap ku lekat, serta bulu yang entah berwarna hitam atau merah aku tak bisa membedakannya karena dalam hutan masih sangat gelap. “sungguh ini semua hanya mimpi kan?” sembari mundur perlahan dan meraba sekelilingku untuk mendapatkan sesuatu yang bisa untuk berjaga-jaga, akan tetapi semakin aku mundur semakin mendekat pula burung raksasa itu ke arah ku. “oh tidak, dagingku sungguh tidak enak, sungguh! Tolonglah, aku sudah mengalami banyak hal buruk selama beberapa menit ini, apa kau tega?” kataku berkeluh kesah sambil terus meraba-raba. Burung raksasa itu terus menatap ku dengan tatapan yang tajam seakan dia berkata bahwa kaulah makan makam ku, kau tak akan bisa lari kemana-mana lagi.

“kau tak akan kenyang menyantap ku, aku kecil dan tak bergizi, carilah sesuatu yang besar yang bisa membuat kau kenyang. Tunggu dulu! Kenapa aku berbicara begini? Tentu saja kau takan mengerti apa yang aku katakan bukan?” perkataan yang seadanya dari kepala, aku sudah sulit memilih kata-kata yang jelas.

“tentu saja aku mengerti perkataan mu”

“woooow! Siapa itu?” tanyaku dengan diiringi rasa senang. “halooo, katakanlah sesuatu” harap ku bisa mendengar suara itu lagi, “baiklah sudah cukup, aku menyerah, ada orang di sini kan?” sambil melirik ke berbagai penjuru arah. “oke cukup sudah! Siapa pun kalian, cepatlah keluar. Ini sama sekali tidak menyenangkan!!” dengan amarah yang sudah memuncak aku berteriak dan memukul  akar-akar yang ada di sekeliling ku. Brreeettaaakk!!, tiba-tiba saja seekor badak raksasa muncul tepat di samping pohon yang sedang menghalangi ku, sungguh ukuran yang sulit dipercaya, tingginya yang hampir sama dengan burung itu, memiliki tanduk/cula 3 buah dikepalanya. “wooooow!!” aku masih tidak percaya melihatnya berada sedekat ini.

“jadi kau membawa teman untuk menyantap ku?” tanya ku yang sudah putus asa.

“tidak, lebih tepatnya aku akan menyelamatkan mu, bukan mau memakan mu”. Sekejap angin berhembus kencang membuat mataku terpejam erat, aku merasa ada yang benda keras yang menekan tubuh ku kuat, tapi walau begitu rasanya tetap hangat. Perlahan ku buka mataku untuk memastikan apa yang telah terjadi. “waaaaaaaaaaaaa!!!” betapa terkejutnya aku mendapati bahwa diriku tengah dibawa terbang sambil di cengkram kuat oleh burung itu. “tidak! Aku takut ketingian! Turunkan aku!” aku memeluk erat kaki burung tersebut, tapi burung itu malah semakin melesat membawa ku terbang lebih tinggi. Aku melihat sesuatu yang aneh. “apa aku berhalusinasi tentang pohon itu? Entah pohon itu yang besar atau pohon itu yang terbang mendekat?” tanyaku dengan penuh menatap satu pohon yang semakin besar terlihat.

“oh… oh… aku tahu kalau aku sudah mengalami hal yang paling bisa membuat ku gila, tapi ini… aaaaaaa!! Pohon itu terbang ke arak kita!”. Seketika burung itu menukik dan terbang lincah menghindari setiap tangkai besar pohon tersebut dengan hitungan detik, hal ini baru pertama kali aku lihat dan rasakan sensasinya, aku sungguh tak bisa menyangka bahwa sekarang aku sedang diculik oleh seekor burung raksasa yang entah akan dibawa kemana, tapi itu tidaklah penting saat ini, karena yang terpenting saat ini adalah “harus sebanyak apa pohon yang perlu kita hindari?! Oh… oh… oh… apa-apaan ini? Kenapa pohon-pohon ini terbang ke arah kita?” kata ku sambil mencoba menghitung pohon yang berdatangan. Sibuk aku menghitung banyak pohon yang beterbangan, aku melihat kalau burung ini seperti santai dan sudah terbiasa dengan semua ini. Ini gila. Ya, sangat gila!

Aku pernah melihat perang kelompok yang sempat terjadi di kota, lawan akan melemparkan tombak atau menembakan anak panah mereka ke arah musuh berada, hal itu masih terlihat wajar walaupun waktu itu aku juga merasa ketakutan, tetapi jika menggunakan pohon besar untuk menjatuhkan kami, itu gila! Logikanya tombak tidak memiliki cabang, dan ukurannya juga ramping, sedangkan pohon memiliki banyak cabang dan berukuran besar, ini tidak adil!. “memangnya siapa yang bisa menerbangkan pohon sebesar ini?” tanyaku penasaran. Dari ketinggian ini sangat sulit untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana, tapi badak berukuran raksasa itu tetap tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang besar. “apa ada seekor badak yang bisa melempar pohon ke udara?” tanyaku sambil terus menatap badak itu dari ketinggian.

“kau melihatnya sendiri bukan, itu bukan badak biasa, melainkan hasil mutasi manusia. Ukurannya yang besar, tenaga yang kuat menjadi senjata yang mematikan”

“apa? mutasi manusia? Aku sangat asing dengan kata-kata itu, tapi apa sebesar itu perubahannya?”

“itu masih belum seberapa, tunggu sebentar lagi, kau pasti akan terkejut”

Aku pun mencari-cari apa yang aneh, “apa badak itu mencoba mengejar kita dengan…” aku terkejut melihat kecepatan badak itu mengejar kami, “oh… oh… oh tidak! Tolong katakan kalau badak itu tidak bisa lompat!” melihat kecepatan badak itu berlari membuat ku semakin cemas. “oke, ini semua tidak masuk akal, tolong seseorang jelaskan pada ku apa yang terjadi saat ini!” tanya ku karena sudah tak tahan dengan semua ini. Tak lama ketika aku selesai dengan ocehanku, sesuatu yang ku takutkan terjadi, apa kata orang jika melihat seekor badak bisa lompat hingga melewati awan?

“aaaaaaaaa!!! Apa sebenarnya badak itu?! Apa yang dia makan sampai bisa sekuat itu?!” terlihat seperti batu raksasa yang terbang ke arah ku dengan kecepatan yang diluar nalar. Bruuuaakk!!, badak itu berhasil menabrak kami di udara.

“kau milik ku zirah!”

“aaaaa!! Siapa kau?!” tanya ku saat terlempar dari cengkraman burung tersebut, “apapun yang terjadi katakan bahwa kalian berdua hanya…” sejenak aku terdiam melihat pertengkaran mereka di udara, si burung berusaha melepaskan gigitan badak yang sedang menggigit kaki burung sebelah kiri, sedangkan aku yang terlempar jauh dari mereka hanya bisa melihatnya.

Aku mendengar seperti bisikan-bisikan samar di telingaku, kurang begitu jelas apa yang dikatakan karena suara angin yang sangat kencang saat aku di udara. Mereka terus berputar di udara, bagus, karena tidak akan lama lagi aku akan terjatuh tepat pada batang pohon besar yang bisa mematahkan tulangku dan membagi tubuhku menjadi beberapa bagian, atau… ya, jatuh tepat di atas bebatuan yang bisa meremukkan setiap tulang-tulangku. Ya tuhan, tolong aku, aku tak mau mati dengan cara seperti ini. Beberapa saat kemudian aku menengok lagi ke arah burung dan badak yang sedang sibuk berkelahi di udara, entah penglihatan ku yang kurang jelas karena tiupan angin atau memang itu benar adanya, sayap burung itu terbakar dengan api yang menyala-nyala, dan tidak lama dari itu seluruh tubuh burung itu terbakar seutuhnya, lalu di bawahnya burung itu si badak masih menggigit kakinya tapi sekarang badak itu seolah-olah mengeras seperti batu raksasa, mungkin jika aku melihatnya dari bawah akan terlihat seperti “meteor raksasa”, itulah yang tadi aku lihat ketika sedang di pinggir pantai.

Oh baik, tidak ada yang menyelamatkan dari ketinggian ini, “apa kalian tidak mau menyelamatkan ku?!” tanya ku dengan penuh harap. Entah aku yang mendekat apa burung itu yang berusaha mendekat ke arah ku. Aku takut dengan burung itu karena dia terbakar, dia terus mencoba menempelkan tubuhnya agar aku juga ikut terbakar bersamanya, jika aku diharuskan untuk memilih sudah pasti aku tidak akan mau!, tetapi aku masih bertanya-tanya, kenapa api itu tidak padam dengan tiupan angin sekencang ini?. “tidak! Jangan mendekat! Kau terbakar! Apa kau tidak sadar? Aku tidak mau terbakar”. Ucap ku kala burung itu semakin dekat dengan ku. Tidak memakan waktu yang lama api itu pun padam dari tubuhnya.

mendekatlah ke tubuh ku!” suara itu terdengar kembali di telingaku, “apa kau yang berbicara?!” kata ku kepada burung tersebut. “cepatlah mendekat, waktu kita sudah tidak lama lagi!” suara itu mendorong ku untuk mendekat pada tubuhnya. Aku coba untuk menggerakkan tubuhku  untuk bisa mendekat ke arahnya, tapi  itu tidak ada hasilnya karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya terbang atau pun melayang seperti binatang yang bisa terbang. “aku tidak bisa mendekat!” aku berteriak putus asa. Hanya tinggal hitungan detik saja tubuhku beradu dengan batu besar yang ada di bawah ku. Aku belum mau mati sekarang “aaaaaa….” Ku pejamkan mataku rapat-rapat karena aku takut melihatnya, tinggal berapa detik lagi? Tinggal berapa detik lagi tubuhku akan hancur. Duuaakk!! Serasa tubuhku dipukul dengan palu besar yang kasar dan tak berperasaan.

Inilah akhir hidupku yang singkat dan tragis di akhir-akhir. Bruuaakkk!! Aku merasakan ada yang menabrak ku dengan kecepatan yang tinggi. Tunggu dulu, siapa yang menabrak ku? Bukankah aku sudah mendarat di atas bebatuan? Aku coba membuka mata untuk melihat apakah aku sudah mendarat. Sraaaakk!!, tubuh ku terus berguling-guling, dan ya… aku sudah mendarat di atas tanah yang penuh dengan daun yang berguguran. Tangan kanan sudah mati rasa, mungkin akibat tadi yang menabrak ku, tapi siapa? Ku coba gerakan kepala ku yang masih terasa sakit dan berat untuk di gerakan, sambil membuka mata aku merasakan ada darah yang mengalir dari kepala, “oh, rupanya kepala ku terbentur juga, pastinya sih. Apa tulang-tulangku sudah patah semua?” tanya ku hawatir. Aku mencoba menggerakkan seluruh tubuhku dengan sekuat tenaga yang tersisa. Sempat aku terpikirkan tentang burung dan badak itu, dimana mereka sekarang? Apa mereka sudah menemukan makanan lain yang jauh lebih mengenyangkan? Baguslah jika benar begitu.

Rasa sakit dan nyeri di sekujur tubuh ku, aku merasakannya betul derita itu, namun aku tetap mencoba membangunkan diri sampai terduduk dan bersandar pada apa pun yang ada di belakangku, tapi aku tetap tak sanggup. “semua telah berakhir sekarang,tidak ada lagi pohon yang menimpa ku, tidak ada lagi binatang raksasa, tidak ada lagi pepohonan yang terbang, burung yang terbakar, dan hari yang menyakitkan ku. haaaah, sampai nanti pagi” sambil menatap langit yang berapa di atas ku, “sisa tenaga yang masih ada, semoga aku bisa sampai di rumah dengan selam…” aku pun tak sadarkan diri, dalam sedikit perasaan yang masih tersisa aku berharap jika ini telah benar-benar selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan