Di sebuah pulau bagian timur di belahan dunia yang jauh dari
campur tangan gerombolan kelompok manusia, dan jauh pula dari kebisingan teriak
orang-orang pedagang. Hamparan pasir putih yang dikelilingi lautan biru yang
indah, ada sebuah rumah yang terlihat begitu sederhana berdiri disana,
terbuat dari kayu yang diambil langsung dari hutan di pulau itu, memiliki
sentuhan tersendiri yang membuatnya nampak elok terlihat. Rumah ini terlihat
begitu alami dan natural, setiap lekukan dan penempatan benda, juga ruangannya
benar-benar memberi karakter yang kuat tentang pulau ini. Disamping itu pula
terdapat banyak sekali jenis tanaman yang tumbuh di sekelilingnya, sangat tertata
sempurna.
Kami tinggal berlima di rumah ini, terdengar seperti zaman
prasejarah yang kuno tetapi tidak demikian, kami semua layaknya manusia normal
seperti halnya orang-orang di kota, pakaian yang kami kenakan, tingkah laku antar sesama, dan makanan kami pun
semua sama, hanya tempat tinggal dan cara kami bertahan hidup saja yang sedikit
berbeda. Banyak orang bertanya bagaimana cara kami bertahan ketika lapar,
sakit, atau tertimpa musibah. Pertanyaan itu terlontar saat kami berkunjung
untuk membeli beberapa peralatan di kota. Kami
tidak lantas menjawab secara panjang lebar, kami hanya bilang “kami akan
berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dan berjuang sekuat tenaga, selagi ada
dan masih bertenaga”, terdengar seperti pukulan telak ke arah kepala, tapi
memang begitu yang biasa kami lakukan setiap saat, bertahan dan terus berusaha.
Ayah mengajarkanku bagaimana caranya berburu di hutan maupun
di lautan lepas, dia mengajarkan bagaimana cara bertahan hidup dalam hutan dan
menaklukan mangsa. Berbeda dengan ibu yang selalu mengajarkan bagaimana meracik
obat-obat alami yang ditemukan dalam hutan dan dalam lautan, terdengar seperti
bukan perjalanan yang mudah-mudah saja, tetapi itu yang terjadi dalam kehidupan
ku yang terlanjur keras, dan ini baru permulaan saja.
Di pagi buta dalam pulau ini aku terbangun dalam mimpi yang
kelam, aku mencoba menenangkan diri sejenak dengan duduk di pinggir pantai sambil
menatap lautan lepas yang ditemani langit dengan bintang dan bulannya, suasana
seperti ini biasanya mampu membantu ku untuk menenangkan pikiran. Ketika
asik melamun menatap lautan, di kejauhan aku melihat seperti ada yang bergerak seolah
membelah permukaan lautan dengan kekuatan yang besar dan cepat.
Sontak aku pun terkejut dan mulai mengikuti arahnya.
DUUUAAARRRRR!!! Suara ledakan besar yang mampu menggetarkan
permukaan tanah dan menggoyangkan pepohonan besar di hutan, namun orang-orang
rumah sama sekali tidak ada yang terbangun dengan suara sebesar itu, mengherankan sekali,
apalagi ayah yang begitu peka terhadap keadaan di pulau ini, bahkan dengan hal yang sepele sekali pun ayah selalu waspada. dentuman suara yang keras seperti ini sudah pasti membangunkan seisi rumah, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa ayah atau kaka terbangun. Jujur aku pun takut untuk
melihat apa yang sedang terjadi di dalam hutan, hanya saja rasa penasaran
ini mampu mengalahkan rasa takut ku. Apa boleh buat dengan segara aku memungut sebongkah balok
kayu untuk berjaga-jaga akan hal buruk.
Sudah bulat tekad ku untuk memasuki hutan, dengan gesit aku
menelusuri hutan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dalam
perjalananku menelusuri ke dalam hutan sama sekali ku tak menemukan ada kerusakan
pada pepohonan atau pun tanah yang terkoyak, semua terasa tidak ada bedanya,
bahkan asap pun tidak terlihat sama sekali. Sampai di tengah hutan aku memutuskan untuk
menelusuinya perlahan, namun lagi-lagi aku tak melihat apa pun yang mencurigakan,
sama seperti biasa saja. Sraakk! Ada
yang bergerak dibalik pohon besar yang ada di hadapan ku, aku pun tidak bisa melihat
dengan jelas apa itu yang ada di balik pohon tersebut karena tidak ada
penerangan yang cukup untuk bisa melihatnya. Sambil sedikit gemetar ku genggam
erat kayu yang kubawa sedari tadi untuk bersiap-siap, krreetaaak! Sekarang persis di balik pohon yang ada di belakang ku
sumber suara lain terdengar. Gawat! Aku sama sekali tidak menyangka jika ada dua
sumber suara di arah yang berbeda, binatang buas kah itu?! Gawat, aku sama sekali
tidak terpikir jalan untuk keluar dari kepungan ini. Derai keringat terus
bercucuran, dan tatapan tajam terus bergantian menatapa ke dua arah yang berbeda,
lalu tiba-tiba saja aku teringat saran ayah,
“jika kamu dalam
keadaan terjepit atau tidak bisa berbuat apa-apa, panjatlah pohon terdekat yang
bisa kau jangkau”.
Seketika itu juga langsung ku gigit kayu yang ku bawa dan
mulai memanjat pohon yang paling dekat. krreeetttaaaaak!!
Batang pohon terbesar pada pohon yang ku panjat patah, “oh tidak, ini benar-benar
petaka” dengan jelas aku menyaksikan batang pohon itu terayun cepat ke arah ku.
Menyaksikan itu membuat ku spontan melompat dari pohon dan
mendarat persis si sela-sela akar pohon besar yang aku panjat tadi, “akh!, kenapa
tadi aku harus terpancing dengan hal seperti itu?” protes ku saat setelah
mendarat, sambil terus menggerutu aku bangkitkan diri dari sela-sela akar pohon,
ku coba melihat ke atas sejenak untuk memastikan batang pohon tadi, mataku terbelalak setelah menyadari ternyata batang pohon
yang patah itu terjun bebas ke arah ku dengan cepatnya. Aku sempat tidak
percaya, tapi menyadari jika batang itu semakin dekat aku pun segera
menjatuhkan tubuh ini kembali ke sela-sela akar, dan Brruuuaaakk!! Mendadak di sekeliling menjadi gelap gulita. “tunggu
dulu, aku sudah membuka mataku kan?” tanyaku karena aku tak bisa melihat
apa-apa selain hitam, “apa aku buta? Tidak, itu tidak mungkin”, tubuhku semakin
menggigil, aku pun mencoba meraba-raba sesuatu untuk memastikan di
sekeliling ku saat ini, “sungguh ini pertama dan terakhir kalinya aku ke hutan
pada malam hari tanpa membawa penerangan, peralatan dan obat-obatan!” gerutu ku
lagi.
Ku coba mencari celah agar dapat bernapas
sedikit lega dan bergerak lebih leluasa, mulai dengan meraba sekeliling ku
untuk mendapatkan sesuatu, sraak!,
ah! aku melihat persis di atas kepala ku ada celah yang lumayan besar untuk bisa
keluar, hanya saja dedaunan kering dan beberapa jamur menghalanginya, tapi itu
bukanlah masalah karena dengan sekali kibas pun dedaunan dan jamur itu bisa
segera menyingkir. Segeralah aku dorong tubuh ku agar bisa keluar melewati celah
itu, namun terasa sangat sulit untuk bisa bergerak, "aduh!, kaki ku tak di gerakan" kata ku yang masih berusaha mendorong tubuh ini ke atas. memang pada awalnya semuanya gelap dan tak terlihat apa-apa, tapi, perlahan-lahan mataku sudah bisa melihat sedikit demi sedikit, setelah tahu hal tersebut aku pun menengok ke bawah dan ternyata aku baru saja mendapat masalah baru, kaki kiri ku terjepit di antara
akar-akar pohon ini, gawatnya lagi kaki ku sudah mulai mati rasa. “aaarrggghh!!!”
aku benar-benar kesal dengan kejadian malam ini, sunguh menyebalkan dan
memuakan.
“aku tidak mau lagi seperti ini!!” teriak ku dalam lubang
celah tersebut. Kreetak!, sontak aku
terkejut mendengar bunyi seperti itu lagi, “aaaaarrgg!!” aku dorong
batang pohon besar ini dengan sekuat tenaga tapi tetap percuma. Kreetak! kreetakk!, lagi-lagi bunyi yang
sama terdengar begitu dekat, aku berharap kalau itu bukanlah suara pohon yang
akan tumbang menimpa ku di lubang ini, karena jika itu sampai terjadi aku benar-benar
tidak punya kesempatan untuk selamat. “ugh!” aku benar-benar tidak tidak dapat
mengangkat batang pohon di hadapan ku ini, “hmm” terbaring tak berdaya di atas
tanah, dan persis di hadapan ku batang pohon itu masih tidak bergerak sama
sekali, sedangkan jarak antara aku dan batang itu pun mungkin hanya satu
jengkal, ditambah kaki kiri yang terjepit aku mulai tidak bisa merasakannya
lagi, dalam posisi seperti ini aku sama sekali tidak bisa berkutik.
“sabar, aku tidak boleh takut, ini semua hanya mimpi, hanya
mimpi buruk saja, jika aku tenang dan memejamkan mataku, pasti aku sudah
kembali seperti semula. Bersabarlah”
kata ku yang tengah berusaha menenangkan diri, dan di saat bersamaan dengan hal
tersebut batang pohon itu menyentuh hidungku. “oh tidak!”. Saat aku membuka mata,
ada satu hal yang ku tahu pasti bahwa keadaan sudah semakin memburuk sekarang. Jarak
antara batang itu dengan tubuh ku sudah tidak ada, seperti ada sesuatu yang
menindih di atas batang ini sekarang, karena batang ini benar-benar menekan
tubuh ku dengan keras, sesuatu yang berat dan sangat berat pasti telah menimpa
di atasnya. Kreetak!, batang itu semakin menekan keras menindih ku. “apa
benar ada pohon yang tumbang menimpa ku?” dengan suara yang sesak. “tolong” semakin
kecil suara yang bisa ku keluarkan. Pasrah akan keadaan yang semakin memburuk,
benar-benar tidak ada harapan lagi.
Dalam keadaan yang telah menjepit ini tanpa sadar air mata
telah turun dari kelopak mata ku. Kraaak!!,
aku mulai mendengar suara itu lagi, “baiklah, inilah saatnya, aku akan mati, aku
akan m…” brraaaaak!!!, seketika
batang pohon itu terlempar entah bagaimana caranya, yang jelas aku sungguh
berterima kasih akan hal tersebut. cepat-cepat aku terduduk dan mulai memijat
kaki kiri ku yang sudah mati rasa. “hmm, aku suka kebebasan!” senyum lebar di wajahku
terukir sempurna, krtak!, “ahh aku
benci mendengar bunyi itu lagi”. Jauh dari tempat ku berada ada sesuatu yang
bergerak, mungkin itulah yang tadi membuat masalah.
Menyadari hal tersebut aku segara berdiri dan keluar dari
celah akar pohon ini dengan sedikit pincang, dalam usaha ku yang
bersusah payah untuk pergi dari tempat itu, aku melihat seperti ada kuda yang
tengah berlari memutar di hadapan ku. “kuda?” aku terkejut, sama sekali tak
pernah ku temukan ada di pulau ini. Aku mencoba mendekat untuk dapat melihat
dengan jelas, “ini semua tidak masuk akal, aku yakin aku masih di tempat tidur
dan…” sraaak!, sekejap tubuh ku
terhempas jauh ke belakang, serasa otak ini ingin keluar dari tempatnya saat tubuh ku tak siap sama sekali. Aku
terlempar lumayan jauh dan menabrak pohon besar dengan akhir yang hampir serupa
seperti sebelumnya, lagi-lagi aku mendarat di akar pepohonan. “ukh! Aku rasa
beberapa tulang rusuk ku patah” keluh ku ketika sudah terkapar di atas akar.
“apa-apan ini?! Aku bukanlah ikan hasil tangkapan yang bisa kau lempar
seenaknya saja!” amarah ku mulai meluap tak tertahankan sambil meraba-raba dada
ku yang nyeri, “apa kalian…” terkejut melihat yang melempar ku bukanlah
sekelompok manusia, melainkan seekor burung raksasa yang menakutkan.
Tubuhnya sangat besar, tingginya setengah dari pohon yang ada di hutan, tatapan matanya yang tajam menatap ku lekat,
serta bulu yang entah berwarna hitam atau merah aku tak bisa membedakannya
karena dalam hutan masih sangat gelap. “sungguh ini semua hanya mimpi kan?”
sembari mundur perlahan dan meraba sekelilingku untuk mendapatkan sesuatu yang
bisa untuk berjaga-jaga, akan tetapi semakin aku mundur semakin mendekat pula
burung raksasa itu ke arah ku. “oh tidak, dagingku sungguh tidak enak, sungguh!
Tolonglah, aku sudah mengalami banyak hal buruk selama beberapa menit ini, apa
kau tega?” kataku berkeluh kesah sambil terus meraba-raba. Burung raksasa itu terus menatap ku dengan tatapan yang tajam seakan dia berkata bahwa kaulah
makan makam ku, kau tak akan bisa lari kemana-mana lagi.
“kau tak akan kenyang menyantap ku, aku kecil dan tak bergizi,
carilah sesuatu yang besar yang bisa membuat kau kenyang. Tunggu dulu! Kenapa
aku berbicara begini? Tentu saja kau takan mengerti apa yang aku katakan
bukan?” perkataan yang seadanya dari kepala, aku sudah sulit memilih kata-kata
yang jelas.
“tentu saja aku
mengerti perkataan mu”
“woooow! Siapa itu?” tanyaku dengan diiringi rasa senang.
“halooo, katakanlah sesuatu” harap ku bisa mendengar suara itu lagi, “baiklah
sudah cukup, aku menyerah, ada orang di sini kan?” sambil melirik ke berbagai
penjuru arah. “oke cukup sudah! Siapa pun kalian, cepatlah keluar. Ini sama
sekali tidak menyenangkan!!” dengan amarah yang sudah memuncak aku berteriak dan
memukul akar-akar yang ada di sekeliling
ku. Brreeettaaakk!!, tiba-tiba saja seekor
badak raksasa muncul tepat di samping pohon yang sedang menghalangi ku, sungguh
ukuran yang sulit dipercaya, tingginya yang hampir sama dengan burung itu, memiliki tanduk/cula 3 buah dikepalanya. “wooooow!!” aku masih tidak percaya melihatnya berada sedekat ini.
“jadi kau membawa teman untuk menyantap ku?” tanya ku yang
sudah putus asa.
“tidak, lebih tepatnya
aku akan menyelamatkan mu, bukan mau memakan mu”. Sekejap angin berhembus
kencang membuat mataku terpejam erat, aku merasa ada yang benda keras yang
menekan tubuh ku kuat, tapi walau begitu rasanya tetap hangat. Perlahan ku buka
mataku untuk memastikan apa yang telah terjadi. “waaaaaaaaaaaaa!!!” betapa terkejutnya aku mendapati bahwa diriku tengah dibawa terbang sambil di cengkram
kuat oleh burung itu. “tidak! Aku takut ketingian! Turunkan aku!” aku memeluk
erat kaki burung tersebut, tapi burung itu malah semakin melesat membawa ku terbang lebih tinggi. Aku
melihat sesuatu yang aneh. “apa aku berhalusinasi tentang pohon itu? Entah pohon
itu yang besar atau pohon itu yang terbang mendekat?” tanyaku dengan penuh menatap satu pohon yang semakin besar terlihat.
“oh… oh… aku tahu kalau aku sudah mengalami hal yang paling
bisa membuat ku gila, tapi ini… aaaaaaa!! Pohon itu terbang ke arak kita!”. Seketika
burung itu menukik dan terbang lincah menghindari setiap tangkai besar pohon
tersebut dengan hitungan detik, hal ini baru pertama kali aku lihat dan rasakan
sensasinya, aku sungguh tak bisa menyangka bahwa sekarang aku sedang diculik
oleh seekor burung raksasa yang entah akan dibawa kemana, tapi itu tidaklah penting
saat ini, karena yang terpenting saat ini adalah “harus sebanyak apa pohon yang
perlu kita hindari?! Oh… oh… oh… apa-apaan ini? Kenapa pohon-pohon ini terbang ke arah kita?” kata ku sambil mencoba menghitung pohon yang berdatangan. Sibuk aku
menghitung banyak pohon yang beterbangan, aku melihat kalau burung ini seperti
santai dan sudah terbiasa dengan semua ini. Ini gila. Ya, sangat gila!
Aku pernah melihat perang kelompok yang sempat terjadi di
kota, lawan akan melemparkan tombak atau menembakan anak panah mereka ke arah
musuh berada, hal itu masih terlihat wajar walaupun waktu itu aku juga merasa
ketakutan, tetapi jika menggunakan pohon besar untuk menjatuhkan kami, itu
gila! Logikanya tombak tidak memiliki cabang, dan ukurannya juga ramping,
sedangkan pohon memiliki banyak cabang dan berukuran besar, ini tidak adil!. “memangnya
siapa yang bisa menerbangkan pohon sebesar ini?” tanyaku penasaran. Dari ketinggian
ini sangat sulit untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana, tapi badak berukuran
raksasa itu tetap tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang besar. “apa ada
seekor badak yang bisa melempar pohon ke udara?” tanyaku sambil terus menatap
badak itu dari ketinggian.
“kau melihatnya
sendiri bukan, itu bukan badak biasa, melainkan hasil mutasi manusia. Ukurannya
yang besar, tenaga yang kuat menjadi senjata yang mematikan”
“apa? mutasi manusia? Aku sangat asing dengan kata-kata itu,
tapi apa sebesar itu perubahannya?”
“itu masih belum
seberapa, tunggu sebentar lagi, kau pasti akan terkejut”
Aku pun mencari-cari apa yang aneh, “apa badak itu mencoba
mengejar kita dengan…” aku terkejut melihat kecepatan badak itu mengejar kami, “oh…
oh… oh tidak! Tolong katakan kalau badak itu tidak bisa lompat!” melihat kecepatan
badak itu berlari membuat ku semakin cemas. “oke, ini semua tidak
masuk akal, tolong seseorang jelaskan pada ku apa yang terjadi saat ini!” tanya
ku karena sudah tak tahan dengan semua ini. Tak lama ketika aku selesai dengan
ocehanku, sesuatu yang ku takutkan terjadi, apa kata orang jika melihat seekor
badak bisa lompat hingga melewati awan?
“aaaaaaaaa!!! Apa sebenarnya badak itu?! Apa yang dia makan
sampai bisa sekuat itu?!” terlihat seperti batu raksasa yang terbang ke arah ku
dengan kecepatan yang diluar nalar. Bruuuaakk!!,
badak itu berhasil menabrak kami di udara.
“kau milik ku zirah!”
“aaaaa!! Siapa kau?!” tanya ku saat terlempar dari
cengkraman burung tersebut, “apapun yang terjadi katakan bahwa kalian berdua
hanya…” sejenak aku terdiam melihat pertengkaran mereka di udara, si burung
berusaha melepaskan gigitan badak yang sedang menggigit kaki burung sebelah
kiri, sedangkan aku yang terlempar jauh dari mereka hanya bisa melihatnya.
Aku mendengar seperti bisikan-bisikan samar di telingaku,
kurang begitu jelas apa yang dikatakan karena suara angin yang sangat kencang
saat aku di udara. Mereka terus berputar di udara, bagus, karena tidak akan lama
lagi aku akan terjatuh tepat pada batang pohon besar yang bisa mematahkan
tulangku dan membagi tubuhku menjadi beberapa bagian, atau… ya, jatuh tepat di
atas bebatuan yang bisa meremukkan setiap tulang-tulangku. Ya tuhan, tolong aku,
aku tak mau mati dengan cara seperti ini. Beberapa saat kemudian aku menengok lagi ke
arah burung dan badak yang sedang sibuk berkelahi di udara, entah penglihatan ku
yang kurang jelas karena tiupan angin atau memang itu benar adanya, sayap
burung itu terbakar dengan api yang menyala-nyala, dan tidak lama dari itu seluruh
tubuh burung itu terbakar seutuhnya, lalu di bawahnya burung itu si badak masih menggigit kakinya tapi sekarang badak itu seolah-olah
mengeras seperti batu raksasa, mungkin jika aku melihatnya dari bawah akan
terlihat seperti “meteor raksasa”, itulah yang tadi aku lihat ketika sedang di
pinggir pantai.
Oh baik, tidak ada yang menyelamatkan dari ketinggian ini, “apa
kalian tidak mau menyelamatkan ku?!” tanya ku dengan penuh harap. Entah aku yang
mendekat apa burung itu yang berusaha mendekat ke arah ku. Aku takut dengan
burung itu karena dia terbakar, dia terus mencoba menempelkan tubuhnya agar
aku juga ikut terbakar bersamanya, jika aku diharuskan untuk memilih sudah
pasti aku tidak akan mau!, tetapi aku masih bertanya-tanya, kenapa api itu
tidak padam dengan tiupan angin sekencang ini?. “tidak! Jangan mendekat! Kau terbakar! Apa kau
tidak sadar? Aku tidak mau terbakar”. Ucap ku kala burung itu semakin dekat
dengan ku. Tidak memakan waktu yang lama api itu pun padam dari tubuhnya.
“mendekatlah ke tubuh
ku!” suara itu terdengar kembali di telingaku, “apa kau yang berbicara?!”
kata ku kepada burung tersebut. “cepatlah
mendekat, waktu kita sudah tidak lama lagi!” suara itu mendorong ku untuk
mendekat pada tubuhnya. Aku coba untuk menggerakkan tubuhku untuk bisa mendekat ke arahnya, tapi itu tidak ada hasilnya karena aku sama sekali
tidak tahu bagaimana caranya terbang atau pun melayang seperti binatang yang bisa
terbang. “aku tidak bisa mendekat!” aku berteriak putus asa. Hanya tinggal
hitungan detik saja tubuhku beradu dengan batu besar yang ada di bawah ku. Aku belum
mau mati sekarang “aaaaaa….” Ku pejamkan mataku rapat-rapat karena aku takut
melihatnya, tinggal berapa detik lagi? Tinggal berapa detik lagi tubuhku akan
hancur. Duuaakk!! Serasa tubuhku
dipukul dengan palu besar yang kasar dan tak berperasaan.
Inilah akhir hidupku yang singkat dan tragis di akhir-akhir. Bruuaakkk!! Aku merasakan ada yang
menabrak ku dengan kecepatan yang tinggi. Tunggu dulu, siapa yang menabrak ku? Bukankah
aku sudah mendarat di atas bebatuan? Aku coba membuka mata untuk melihat apakah
aku sudah mendarat. Sraaaakk!!, tubuh ku terus berguling-guling, dan ya… aku sudah
mendarat di atas tanah yang penuh dengan daun yang berguguran. Tangan kanan
sudah mati rasa, mungkin akibat tadi yang menabrak ku, tapi siapa? Ku coba
gerakan kepala ku yang masih terasa sakit dan berat untuk di gerakan, sambil
membuka mata aku merasakan ada darah yang mengalir dari kepala, “oh,
rupanya kepala ku terbentur juga, pastinya sih. Apa tulang-tulangku sudah patah
semua?” tanya ku hawatir. Aku mencoba menggerakkan seluruh tubuhku dengan
sekuat tenaga yang tersisa. Sempat aku terpikirkan tentang burung dan badak
itu, dimana mereka sekarang? Apa mereka sudah menemukan makanan lain yang jauh
lebih mengenyangkan? Baguslah jika benar begitu.
Komentar
Posting Komentar