Langsung ke konten utama

Seng-iseng

Tentu saja hari itu seperti halnya hari-hari yang biasanya, panas terik dan ramai bunyi bising yang terus bedenging di gendang telinga akibat padatnya aktifitas yang sedang berlangsung hari itu. Lautan kendaran terlihat dari gedung pencakar langit, asap polusi memang terasa begitu samar ditangkap oleh mata, namun setiap hidung mampu membedakan mana polusi dan mana yang bukan. Dalam kerumunan kendaran yang sudah memadati jalan telah terselip sepasang kekasih yang juga ikut berkontribusi aktif dalam kemacetan, walaupun suasana di jalan tidak begitu kooperatif dengan mereka, namun hal itu hal itu sama sekali tidak menjadi masalah keduanya, hanya saja ada masalah yang lebih besar dari pada menghawatirkan bagi sang isteri, gelagat yang terlihat begitu gelisah membuat sang suami ikut memikirkan hal yang tidak perlu dia pikirkan.

Wajah panik isteri sudah tak bisa ditutupinya lagi, gelagat yang jarang suami lihat pada diri isterinya itu membuat dia justru tertawa sendiri, sedang disisi lain sang isteri yang melihat bahwa suaminya tengah menertawainya dan menganggap enteng membuatnya justru semakin gemas pada suaminya.
“ihh, kang faith ko malah ketawa sih?” timpalnya dengan raut wajah yang masih kesal, “yaa abis kamu tuh lucu sih” jawab suami enteng sambil menatap kearah jalan.
“ih kang, lagi panik aku tuuh, aku ga tau mau ngomong apa nanti, terus kalo aku salah ngomong di depan mereka gimana? Duuh aku bingung”
“hmm… terus gimana? Apa kita pulang aja?” tanya suami memberi opsi dengan nada yang meledek, “ihh, jangan atuh kang, ga sopan, kan kita juga udah diundang sama mereka, masa kita tiba-tiba batalin ga bisa dateng kesana, ntar aku makin malu” jawab sang isteri yang sekarang sudah benar-benar merasa jengkel.
“nah, kalo begitu ga ada pilihan lain kan selain kita hadapin bareng-bareng”  balas suami sambil memandang wajah isterinya yang sudah tertekuk karena jengkel, dengan kalimat suaminya barusan suasana psikologinya mulai membaik dan sedikit membuatnya lebih tenang.

Laju kendaraan yang mereka gunakan tidak melesat kencang, padatnya kendaraan berhasil menghambat pergerakan mereka, baik itu motor, mobil, ataupun bus, semua saling berebut jalan, akibatnya kendaraan saling tutup dan bedesak-desakan. Dari keheningan yang sempat membungkam mereka berdua, kini sang isteri mulai bersuara kembali, “kang, kira-kira bakal sempet ga nyampe kesana? Ini macet banget loh” tanya sang isteri, kegelisahannya telah memecah keheningan,
“insya Allah”
“bener kang sempet?”
“iya insya Allah”
“ntar kalo ga sempet gimana? Terus kalo kita telat gimana? Terus kalo mereka kecewa gimana? Mm… gimana dong kang? Apa kita hungin mereka dulu ya, ngasih tau kalo kemungkinan kita akan telat karena kejebak macet, gimana?”
“hehehe”
“kang, ini aku lagi serius tau”
“sayang ku yang tiada duanya, wajah yang indah lagi mempesona, kamu tuh kalo lagi panik, gelisah, resah, jadi keliatan lucu, beneran deh. Jujur dari awal kita nikah kamu tuh paling ga bisa nutupin apa yang kamu rasa”
“maksud kang faith apa? aku malu-maluin gitu?”
“ga, bukan begitu, maksud aku tuh ngeliat kamu yang sekarang jadi lebih cantik aja, hahaha”
Mendengar kalimat itu membuat wajah sang isteri menjadi tertunduk malu, padahal sebelumnya wajahnya sempat tertekuk sejenak. Perlahan wajah isteri yang sedang tertunduk menjadi memerah,  tak lama terukir senyum indah diwajahnya yang mulai menghapus resah dalam dadanya.
“kang fatih, kenapa sih bisa gampang nyebut cantik, atau lucu ke aku? Jangan-jangan akang sering juga ngomong begitu ke perempuan lain ya”
“ya ngga lah, ngapain juga aku ngomong begitu sama perempuan lain? Toh yang aku suka udah ada di kamu semua” jawabnya diiringi dengan senyumdiwajah sambil menggelus punggung tangan isterinya, jawaban yang tak terduga-duga itu membuat senyum diwajah sang isteri semakin indah terukir.
“mm… beneran kang? Buktinya apa?”
“apa ada bukti yang lebih baik dari menikahi seorang yang kita cinta dan kita suka? Kalaupun ada selain itu, coba kamu kasih tau aku supaya aku bisa menunjukan keseriusan atas jawaban aku ini”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan