Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020
 Melubangi waktu Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena perhatian hanya terfokus pada kesalahan semata, mencoba untuk terus mengorek luka untuk mencari tau penyebabnya agar hal serupa tidak terjadi di masa selanjutnya, hanya saja aku lupa bahwa yang ku lakukan justru membuat luka lama semakin sulit sembuhnya. Kegiatan ku hanya terpusat pada luka dan kesalahan di masa lalu, membuka lembaran baru hanya sekedar motif yang tabu. Aku sadar bahwa sudah terlalu lama terjebak pada masa lalu, aku selalu bertanya pada diri ku kenapa sulit untuk melangkah maju, ingin rasanya meninggalkan dan membiarkannya begitu saja berlalu, memang apa baiknya untuk ku jika terus terjebak dengan masa lalu? Toh semuanya pasti berubah oleh waktu. Hanya derai luka dan derita yang terus menjamu membuat ku terus merasa sesak dan malu. Cukup! Aku muak dengan lemahnya aku di masa itu! Terus menerus jatuh sambil menggumam pilu. Tapi... Biar begitu... Aku selalu menemukan gambaran seberapa tegar diri ku berj...
Dibalik Batas  mata terpejam dengan dahi terlipat acak dagu bergerak merubah kepala berhalu donggak pakaian putih namun terdapat sedikit corak bibir tertutup rapat walau dalam diri terasa bergejolak terasa bukan diriku yang seperti itu tetapi kisah memaksaku agar terus begitu walau tangan terkepal erat dalam saku menggunjing waktu perlahan menjadi kebiasan baru aku melihat garis akhir dalam telapak tangan yang ku kira dahulu hanya sebuah pajangan tanpa pertimbangan namun ternyata pehitungan ku berhujung pada pengorbanan tabu, semu, semua itu tak lagi menjadi rekanan seseorang dengan sombongnya berbicara tentang logika dunia terasa tak masuk akal bagi ku yang bersandar pada dermaga yang berbeda dengannya seperti melihat pemandangan kota malam dari dimensi yang berbeda sedangkan yang ku perlukan hanya logika sederhana untuk mencari makna ku temukan sekumpulan surat cinta walau usang dan termakan usia nuansa romansa begitu kental terasa dari isinya tak habis-habisnya rasa cinta itu mu...
Gerhana Kala sendiri dia selalu mencari kawan yang mampu menemani. Dia sangat benci sosok yang terlihat dicermin saat sendiri. Menatap tajam ke arahnya. Dan mulut tak kuasa menghujatnya. Pertengkaran selalu menjadi sarana untuk bisa menyapa. Sekedar berkata tanpa berbuah makna. Mereka saling menutup kebenaran kejadian. Karena salah satunya telah menjadi gerhana bagi sebuah pendirian. Berwujud sama namun saling bersebrangan. Apa yang pernah singgah pada angan kini telah menjadi sebuah kejadian. Tarik ulur kepentingan dengan kasar. Gerasak-gerusuk membuat gusar. Penerimaannya terhadap diri sendiri ternyata memakan waktu yang panjang. Berbagai rintangan harus terus diterjang. Tercebur, tenggelam, dia harus mampu tetap berenang. Walau suasana hati membuatnya tidak merasa senang. Namun itu adalah syarat agar menjadi pemenang.

AURA

Waktu terasa bergulir sangat lambat, awal aku tersadar dari mimpi buruk langit masih sangat gelap berhiaskan taaburan bintang, malam itu adalah malam dengan cahaya rembulan paling terang yang pernah aku lihat. Aku merasakan lembutnya angin membelai permukaan kulit juga dedanan di pohon-pohon dekat tempat kami terjaga, aku bangkitkan tubuh perlahan-lahan, terlihat ruby terus menatap ku dengan tajam, entah apa yang dia pikirkan, tapi tatapannya itu benar-benar mengganggu ku. Sesaat ku coba meraih daging yang sudah hangus terbakar, aku teringat dengan mimpi yang tadi sempat tak tuntas ku ceritakan padanya. “ruby, apa kau tahu tentang seseorang dengan zirah besi?”Terlihat mata ruby yang sedikit membesar dari sebelumnya. Mendapati hal tersebut aku menduga bahwa dia terkejut dengan pertanyaan ku tadi. “seseorang dengan zirah besi? Bisa kau ceritakan dengan detil?” ucapnya sambil menyondongkan tubuhnya sedikit kedepan, dalam benak aku mengira bahwa ruby tahu tentang hal tersebut, mungki...

AURA

Pandangan buram dipenuhi kabut tebal di hadapan, hanya sedikit sekali aku dapatkan bayangan pohon jika aku mendongak ke atas. Disekujur kaki ku terasa begitu dingin, tanah yang lembab dengan rumput yang masih basah oleh embun membuat tapak ini semakin sulit untuk melangkah. “dimana aku?” tanya ku sambil melempar pandangan ke segala arah. Keadaan begitu sunyi, bahkan sampai suara angin pun tidak terdengar oleh telinga. “ugh!” kaki ku tak bisa digerakan, berulangkali ku coba untuk mengangkat kaki ini tetapi tetap saja tak mau terangkat. “sekarang kenapa lagi?” keluh ku sambil melihat kedua kaki yang seolah tertancap kedalam tanah, “ugh! Ayolah! Aku harus segera pulang kerumah, aku sudah lelah dengan semua ini!” keluh ku sambil mencoba mengangkat sebelah kaki dengan kedua tangan. perlahan tapi pasti kaki ku kini bisa menjejaki langkah yang maju, walau tetap harus dibantu oleh kedua tangan untuk mengangkatnya silih berganti dari yang kanan hingga yang kiri. Sambil terus bersusah ...

AURA

Di sebuah pulau bagian timur di belahan dunia yang jauh dari campur tangan gerombolan kelompok manusia, dan jauh pula dari kebisingan teriak orang-orang pedagang. Hamparan pasir putih yang dikelilingi lautan biru yang indah, ada sebuah rumah yang terlihat begitu sederhana berdiri disana, terbuat dari kayu yang diambil langsung dari hutan di pulau itu, memiliki sentuhan tersendiri yang membuatnya nampak elok terlihat. Rumah ini terlihat begitu alami dan natural, setiap lekukan dan penempatan benda, juga ruangannya benar-benar memberi karakter yang kuat tentang pulau ini. Disamping itu pula terdapat banyak sekali jenis tanaman yang tumbuh di sekelilingnya, sangat tertata sempurna. Kami tinggal berlima di rumah ini, terdengar seperti zaman prasejarah yang kuno tetapi tidak demikian, kami semua layaknya manusia normal seperti halnya orang-orang di kota, pakaian yang kami kenakan, tingkah laku antar sesama, dan makanan kami pun semua sama, hanya tempat tinggal dan cara kami bertahan...