Langsung ke konten utama

AURA


Waktu terasa bergulir sangat lambat, awal aku tersadar dari mimpi buruk langit masih sangat gelap berhiaskan taaburan bintang, malam itu adalah malam dengan cahaya rembulan paling terang yang pernah aku lihat. Aku merasakan lembutnya angin membelai permukaan kulit juga dedanan di pohon-pohon dekat tempat kami terjaga, aku bangkitkan tubuh perlahan-lahan, terlihat ruby terus menatap ku dengan tajam, entah apa yang dia pikirkan, tapi tatapannya itu benar-benar mengganggu ku. Sesaat ku coba meraih daging yang sudah hangus terbakar, aku teringat dengan mimpi yang tadi sempat tak tuntas ku ceritakan padanya.

“ruby, apa kau tahu tentang seseorang dengan zirah besi?”Terlihat mata ruby yang sedikit membesar dari sebelumnya. Mendapati hal tersebut aku menduga bahwa dia terkejut dengan pertanyaan ku tadi. “seseorang dengan zirah besi? Bisa kau ceritakan dengan detil?” ucapnya sambil menyondongkan tubuhnya sedikit kedepan, dalam benak aku mengira bahwa ruby tahu tentang hal tersebut, mungkin ini kesempatan yang bagus untuk menggeruk informasi sebanyak mungkin darinya.

“saat sebelum aku  tersadar, aku sempat melihat seorang dengan zirah besi berada di dekat ku”
“bisa kau jelaskan seperti apa zirah yang dia kenakan?”
“sulit sekali menjelaskannya karena aku belum pernah sekali pun melihat zirah seperti itu, tapi, ada banyak lekukan yang membuatnya terlihat tidak biasa pada zirah itu”
“lalu apa lagi?”
“dia bisa membuat asap hijau dengan petir kecil disekelilingnya, dan dia juga bisa menggambil pedang dari kumpulan asap hijau itu, pedangnya pun terlihat aneh, aku tidak pernah melihat pedang seperti itu di pulau ini atau di kota seberang”
“mm… apa kau sempat berbicara dengannya?”
“iya sempat”
“dan apa yang dia katakan?”
“dia menyuruh ku untuk segera mati, dan dia juga sempat bilang kalau aku adalah kesalahan terbesar yang pernah ada”
“dia bilang begitu?!”
“iya kurang lebih seperti itu”
“barrow, sepertinya aku harus segera mempertemukan mu dengan seseorang”
“kepada pemegang kunci potal?”
“bukan dia, tapi yang lainnya”
“ahh, lain kali saja kalau begitu”

Ku kembali membaringkan tubuh ku di atas tanah, rasanya malas sekali kalau harus bertemu orang yang belum dikenal, buang-buang waktu saja.

“sebenarnya ada tugas lain yang harus aku kerjakan”
“ya sudah, pergi saja sana”
“kau harus iku dengan ku”
“aku tidak tertarik jika bukan si pemegang kunci portal”

Kepala ruby tertunduk perlahan, “dulu aku sempat bertemu sosok yang mengenakan zirah lengkap, aku tak tahu apakah sosok itu sama dengan sosok yang bertemu dengan mu di mimpi itu atau tidak” katanya yang mulai memasang wajah serius, mendapati posisi dan raut wajah yang seserius itu membuat suasana tiba-tiba berubah menegangkan bagi ku. “dalam pertemuan ku dengannya, aku sama sekali tidak tahu seperti apa wajahnya karena zirahnya selalu melekat padanya. Pertemua ku… tidak, perjalanan kami terasa singkat, tapi banyak hal yang dia berikan pada ku, salah satu pemberian yang paling berarga untuk ku adalah nama ku” lanjutnya sambil terus menatap tanah di bawah kakinya. “tunggu dulu, jadi nama mu itu dia yang memberikannya?” tanya ku dengan dahi sedikit tertekuk tak percaya, “iya, ruby adalah pemberian darinya” sekarang dia menjawab sambil menatap ku dengan senyum yang sendu.

Ada beberapa hal yang mengganjal di kepala ku saat mendengar penjelasannya, pertemuan dengan sosok berzirah  itu membengkaskan pertanyaan besar yang harus segera diluruskan. Perlahan ku coba memutar kembali ingatan pahit kala bertemu dengannya dalam mimpi, namun inti dari pembicaraan kita saat itu hanya terpaut dengan kesalahan dan kematian ku saja. Tunggu dulu! Apa ruby akan membunuh ku juga seperti yang sosok berzirah iu lakukan pada ku?

“ruby, apa kau akan membunuh ku?”
“apa maksud mu? Tentu saja tidak”
“sebelum aku tersadar, sosok berzirah itu telah membunuh ku dalam mimpi. Mata ku menangkap jelas arah pedang itu tertuju, sabetan pedang yang menyilang menembus bahu kiri sampai perut sebelah kanan ku”
“sungguh? Sungguh dia melakukan itu pada mu?”
“itu yang aku lihat saat dalam mimpi bertemu dengannya, aku pun tida mengerti kenapa dia sebenci itu pada ku, padahal itu kali pertama aku melihatnya”

Mata ruby terbelalak mendengar penjelasan ku, dia terdiam seakan membatu menatap ku seolah tak percaya dengan penjelasan ku. Beberapa kali aku menelan ludah menatap ruby yang tengah terdiam itu, begitu juga telapak tangan ku mulai berkeringat. Jika ruby berbalik untuk membunuh ku, apa yang harus aku lakukan? Dilihat dari sudut mana pun aku sama sekali tidak punya kesempatan menang melawannya. Tak terasa tetes keringat mengalir turun dari dahi membasahi pipi. Semakin lama ku pikirkan akan semakin samar kemungkinannya, lebih baik jika ku pastikan sekali lagi apakah dia akan membunuh ku atau tidak.

“ruby, aku tak tahu apa yang pernah kalian alami di masa lalu, aku tak peduli dengan hal itu, tapi, katakana pada ku sekali lagi, apa kau akan membunuh ku?” juju, berkata seperti itu sangat berat ku lakukan, aku ingin memutar sedikit kalimat ku agar terdengar lebih halus olehnya, tapi keselamatan hidup ku sekarang sedang terancam jika kepastian itu tidak segera ku dapatkan. “sebenarnya aku masih terkejut dengan cerita mu itu, tidak ku sangka jika sosok berzirah itu akan melakukan hal seperti itu pada mu” katanya dengan nada yang pelan, mendengar penjelasan yang bertele-tele seperti itu membuat degup jantung ini sulit sekali untuk tenang, “lalu?” tanya ku yang berusaha menerobos langsung pada pokok jawabannya. “hehe, tenang saja, aku tidak akan membunuh mu” senyum lebar terurai diwajahnya, ku hembuskan nafas panjang untuk mengembalikan detak jantung yang sempat tak normal “ruby, asal kau tahu, aku sempat menahan napas saat menunggu jawaban mu. Uwaaah, aku pikir aku akan mati diujung tangan mu” balas ku yang tertunduk lemas sambil mengelap keringat yang telah membasahi dahi dan telapak tangan.

“sekarang, barrow bisa kau ikut dengan ku?”
“kemana kita harus pergi? Hari masih terlalu gelap untuk mulai beraktifitas”
“kita sudah melewati satu hari sejak pertempuran ku dengan rhino, mungkin  sekarang dia sudah mulai dekat dengan kita, oleh karenanya kita tak bisa membuang waktu lagi, kita harus segera pergi menjauh”
“rhino? Siapa dia?”
“badak yang tidak ingin kau temui”
“hmm, ku pikir hanya kau saja yang memiliki nama, ternyata masih ada yang lain juga”
“sudah lah tak perlu kau perpanjang lagi, ayo kita harus segera pergi”
“oh iya kau benar, maaf”

Aku bangkit dan langsung berlari sekencang mungkin menjauh dari tempat awal, selagi berlari aku sempat mencari ruby yang tidak ada di samping atau pun belakang ku. Cahaya redup yang menyelimuti hutan membangkitkan suasana menegangkan kala aku berlari menerobos hutan semakin dalam, tunggu! Apa arah ini sudah benar? “ruby, dimana kau?! Kau lupa memberi tahu kemana aku harus berlari” kata ku sambil menghentikan langkah kaki, ku sapu pemandangan gelap dan menakutkan di dalam hutan dengan mata ku untuk mencari ruby yang sempat tertinggal. “ruby!” aku masih belum menemukannya, “ah sial” apa boleh buat, ku berlari kembali ke tempat awal tadi. Tepat saat langkah mulai mengudara kilatan cahaya terbang cepat ke arah ku, “weits!” reflek aku mengelak, “tadi itu kilatan apa?” wajah ku berubah was-was, dalam nafas yang masih terengah-engah muncul sengatan listrik kecil menyambar dari bahu sebelah kiri sampai kepala, hal itu membuat ku lantas menoleh ke sebelah kiri dengan cepat, dan dalam satu kedipan mata aku menangkap sebesit cahaya yang serupa meluncur cepat ke arah ku, tanpa pikir panjang aku pun memutarkan tubuh untuk mengelak sambaran itu. Stub! Sebuah anak panah tertancap di atas tanah setelah aku mengelak. “anak panah? Sial” aku terpaku menatap anak panah itu.

Sejenak ku terpaku menatap anak panah yang menancap, sengatan listrik kembali menyambar tulang punggung ku, kali ini sengatan itu terasa lebih menyakitkan, aku menduga jika serangan kali ini akan lebih menyulitkan. Ku putar tubuh ku untuk melihatnya, benarlah dugaan ku barusan, banyak kilatan cahaya yang tengah berterbangan menuju ke arah ku, “gawat! Ini terlalu banyak” keluh ku sambil berlari sekencang mungkin . Stub! Stub! Stub! Anak panah terus menancap tepat di sisi kanan, kiri, dan belakang ku dengan cepat. Ngiiing!terdengar dengung yang lumayan keras di kedua telinga saat tengah berlari, “sekarang apa lagi?!” keluh yang terlontar lantaran serangan datang silih berganti, ku terus berlari tanpa mau menoleh ke belakang. Dengung semakin keras terdengar sehingga aku harus menutup kedua telinga ku “argh! Kenapa bunyi ini tak mau berhenti?”. Fokus ku semakin berantakan, Stub! dua anak panah berhasil mengores kaki kanan yang membuat ku jatuh tersungkur, “ugh!, ah, aku tidak boleh berhenti” kata ku mencoba kembali berlari. Sengatan listrik kembali menyengat ku, “ah tidak” kali ini seluruh tubuh ku merasa sengatan itu, “bagaimana ini?”, tidak lama kilatan cahaya bermunculan di sekeliling ku.

Darah terus mengalir keluar membasahi kaki ku yang mulai terkulai lemas, “gawat, ini tidak bisa ku hindari lagi”, mata ku pejam rapat-rapat, aku tak sanggup membayangkan setiap anak panah itu akan menancap di tubuh ku. Sesaat suanan berubah tenang, dan perlahan terbayang sosok berzirah itu tengah berdiri dihadapan ku dengan mengepalkan tangannya, aku melihat zirah besi yang tebal dengan kemampuan diluar nalar, jika aku punya zirah sepertinya mungkin tak ada lagi ketakutan yang menyelimuti ku. Setiap lekukan dan detil goresan yang melekat pada zirah itu, memberi kesan intimidatif yang kuat secara keseluruhan. “aku yang dikabarkan memiliki potensi yang spesial, harus bisa melampauinya, setiap derita yang ku terima akan ku ubah menjadi kekuatan dalam menutupi kelemahan tubuh ku yang rapuh ini” begitu bunyi gumam ku saat itu. Kembali lagi, sengatan listrik kembali muncul dengan tekanan yang lebih besar, aku merasakan betul listrik itu menyambar seluruh tubuh ku, rasa yang menyakitkan itu ku rasakan hingga tulang-tulang ikut bergetar menahan sakitnya sambaran listrik yang besar. Ugh!  Aku harus bisa menahan sakit dari sengatan ini! Zchip! Zchip! Zchip!,  aku bahkan sampai bisa mendengar suara sengatan listrik yang sedang menyengat. Perlahan ku buka mata untuk melihat apa yang sedang terjadi, Pltang! Bunyi nyaring terdengar tepat di sebelah kepala, dengan cepat ku alihkan kepala ku menghadap kearah bunyi tadi dan terlihat banyak sekali anak panah yang telah melesat cepat kearah ku. Pltang! Pltang! Pltang!, anak panah itu terpental saat menyentuh ku, “hah? Bagaimana bisa?”. Ku tengok ke bawah kaki yang telah muncul sinar yang terang entah oleh sebab apa. Apa ini? Sarung tangan besi telah terpasang dikedua tangan ku, tidak… ternyata tidak hanya tangan ku, seluruh tubuh ku sudah terlapis zirah besi. Aku bolak-balikan kedua tangan dan tubuh ku untuk memastikan keseluruhannya, terlihat kilatan petir kecil terus keluar dari bawah tanah tempat aku berpijak, tak ku sangka aku bisa membuat zirah besi. “hahahaha!! Lihat! Aku mengenakan zirah besi! Ahahaha!” dengan takjub aku mendongakan kepala menatap angkasa. Pltang! Pltang! Anak panah itu masih melesat kearah ku, “cih, mengganggu kesenangan ku saja” dengan jengkel aku melirik ke arah anak panah itu berasal, “jika sudah terlapisi zirah seperti ini, tak ada gentar lagi untuk membalikan keadaan, sekarang giliran ku menghampiri mu” kata ku yang mulai tinggi hati.

Hmph! “loh? Aku tak bisa bergerak, hmph!, loh? Kenapa kaki ku tak mau digerakan?” Pltang! Anak panah itu muai menghujam bertubi-tubi, sedangkan petir kecil terus keluar dari zirah saat anak panah itu terus mengenai ku. Apa yang salah dari ku? Tidak lama ku bertanya, aku melihat anak panah yang datang seperti hujan yang lebat, sangat banyak jumlahnya, membuat degup jantung lantas menggebu cepat. Aku bisa melewatinya, tenang saja, karena sekarang aku telah mengenakan zirah yang tebal, tak perlu hawatir. Satu persatu anak panah terpental saat menyentuh zirah ku, aku puas, dan senang karena tak perlu hawatir lagi, senyum ku pun terukir lebar di dalam helm besi yang sekarang ku kenakan. “hahahahaha!! Panah mu tak mampu melukai ku! Lihat! Pertahanan kuat milik ku ini! Hahaha!!” lantang ku berucap sambil menatap anak panah yang terus beterbangan. Perlahan bunyi benturan anak panah itu semakin redup, hal itu membuat ku semakin kencang tertawa karena permukaan zirah ini semakin tebal lapisannya, cahaya yang berada dibawah kaki ku semakin terang bersinar, ditambah kilatan petir yang terus menyambar semakin besar, saking besarnya sampai perukaan tanah tempat ku berpijak ikut mengeluarkan petir yang menyambar dengan liar.

Ugh! Sekarang tubuh ku mulai tak bisa digerakan, rasanya permukaan tanah ini mulai menarik keras kebawah. Ugh! “aarrggh!” teriak ku sambil mencoba mengangkat kedua tangan yang perlahan mulai turun menyentuh tanah. Tidak, argh!

---<o0o>---

Ruby terkejut dengan kecepatan barrow dalam berlari, dia sama sekali tak menduga jika lelaki yang baru saja dia temukan memiliki gerakan yang cepat secara alami, memang pada awalnya ruby sempat meragu jika barrow adalah orang yang selama ini dicari setelah peperangan besar terjadi, tapi setelah melihat barrow yang semakin menjauh membuat dia sedikit yakin akan sosok itu.

“bagaimana bisa orang yang belum terasah auranya bisa memiliki gerakan secepat itu?” katanya sambil berlari dengan nafas yang sudah terengah-engah.  Srakk! Mata dengan cepat melirik ke arah sumber suara, dia hentikan langkah kakinya untuk memastikan dengan jelas apa yang dia lihat, wajah terkejut sudah tak bisa dia tutupi lagi, mata terbelalak dengan mulut yang terbuka sebagian memperkuat ekspresi terkejut itu. “aku tak mengira jika kita akan bertemu disini” ucap pria yang tengah berjalan santai menghampiri ruby. “apa yang membawa mu kesini?” tatapan tajam ruby mengarah pada pria tersebut, “aku yang harusnya bertanya pada mu, bagaimana bisa kau mendapat informasi secepat itu tentang kehadiran aura baru? Padahal tidak ada mengetahui sebelumnya.” Ucap pria itu tegas. “hahaha! Kau terlalu lamban, sekarang aura baru sudah dalam genggaman ku” jawab ruby sambil mengdongakan kepala menatap pria itu rendah. “cih, dasar tak tahu diri, sadar lah posisi mu ruby, oh tunggu… haruskah aku memanggil mu dengan solar? Itu nama asli mu bukan” balas pria itu dengan tatapan yang tajam.

Dahi tertekuk, nama yang sudah lama ingin dia lupakan kembali muncul membakar emosi yang terpendam lama, “jangan kau sebut nama itu lagi di hadapan ku!” ancam ruby kepadanya. “baiklah, maafkan aku.  Hmm… lalu, apa langkah mu selanjutnya setelah mendapatkan aura baru?” tanya pria itu menatap lurus  ke arah ruby, “bukan urusan mu wies!” jawab ruby cepat sambil menyebutkan nama pria itu. Tangan terayun di udara membentuk asap tipis berwarna kuning dengan hembusan angin yang kencang disekitarnya, ruby menatap weis yang akan melakukan sesuatu. “maaf, tapi akulah yang  akan membawa aura baru itu” katanya yang sedang menoleh ke arah barrow berlari. “tungg…” omongan ruby terjegal, sebongkah batu besar melesat cepat kearahnya dan menghantam tubuhnya dengan keras, namun sebelum batu itu menghantam ruby sudah terlebih dahulu membungkus dirinya dengan auranya sehingga tubuhnya terlindung dari cedera yang serius, batu itu hancur dengan membengkaskan lelehan seperti magma saat berhasil menghantam ruby.

Tubuhnya sempat terguling di atas tanah usai batu itu terhantam ke arahnya, tapi dengan cepat ruby kembali berdiri dan bersiaga akan serang berikutnya, balutan aura yang tipis membuatnya samar terlihat, ruby memang sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi, namun dia tidak mengira bahwa kejadian ini akan datang secepat ini. Asap kuning yang berada dihadapan wies mulai hilang dan tergantikan oleh busur panah yang besar dengan anak panah yang sudah siap untuk ditembakan, “lihatlah, aku akan menjatuhkan aura baru itu” katanya yang tengah membidik barrow dari jarak yang sangat jauh, ruby mengetahui betul kemampuan wies dalam memanah, wies yang memiliki kemampuan tak pernah meleset dari target menjadi mimpi buruk bagi musuh dan lawannya.

Anak panah telah terlepas dari busur, hembusan angin kencang bertiup saat anak panah itu melesat terbang dengan cepat, tatapan wies tak bergerak sama sekali dari satu titik, “hee, ini kali pertama aku melihat ada yang bisa mengelak dari tembakan ku” katanya sambil tersenyum tipis, terkejut bukan main, ruby masih tidak bisa percaya dengan ucapan wies yang tadi. Asap kuning kembali muncul di dekat wies, lalu tak lama anak panah mulai bermunculan menggantikan asap kuning yang perlahan menghilang, kembali wies menembakan anak panah itu berkali-kali ke arah barrow dengan jarak yang terus  bertambah panjang karena barrow terus berlari menjauh, ruby tidak memiliki penglihatan setajam dan sejauh wies, oleh karenanya ruby hanya bisa menebak hasilnya dari ekspresi wies yang dibuatnya, berkali-kalli tembakan diluncurkan, wies membuat senyum diwajahnya semakin terlihat jelas

Wies terlihat seperti menikmati perburuannya, lantas hal tersebut dimanfaatkan ruby untuk melarikan diri darinya, ini adalah kesempatan yang bagus jika dia ingin lari dari wies. Perlahan kaki mulai melangkah mundur namun tatapan masih tajam menatap wies yang terus menembak tak henti-hentinya, dalam usaha yang senyap untuk melarikan diri ruby melihat lapisan aura tipis milik wies membentuk dinding di hadapannya, dinding itu berlapis terbentuk didepannya, satu tembakan anak pahan yang meluncur melewati dinding itu akan membuat tiga anak panah, dan tiga anak panah yang meluncur melewati dinding kedua akan membuat enam anak panah dan begitu seterusnya. “dia adalah zirah?!” tanya wies dengan mata yang membesar, “haha, kau terkejut?” ledek ruby kepadanya.  “gawat! Ruby! Cepat kau hentikan dia!” perintah wies kepada ruby, terlihat dinding aura milik wies yang menebal dan terasa tembakan wies kali ini membuat hembusan angin yang lebih kencang dari sebelumnya, sepertinya wies serius ingin menghentikan barrow, kini wajah wies berubah panik. “aku tidak akan menghentikannya, sampai kau membiarkan kami pergi” balas ruby memberikan penawaran kepada wies yang masih memasang wajah panik sambil terus menembakan anak panahnya.

Perlahan tetes keringat membasahi kening wies, tembakan demi tembakan terus diluncurkan namun anak panah itu tidak dapat menembus zirah barrow. “apapun itu! Asal kau bisa menghentikannya! Jika tidak, tatanan dimensi ini akan semakin buruk! Keberadaannya tidak boleh sampai diketahui oleh para penyihir!” jawab wies dengan mata yang melotot menatap ruby yang masih berjaga disebelahnya, tidak lama kilatan cahaya yang sangat terang muncul dari tempat barrow dengan semburan listrik yang besar terus menyambar udara, “apa itu?!” tanya ruby sambil menyipitkan mata, matanya masih terkejut dengan cahaya yang menyilaukan. “sepertinya zirah kehilangan kendali atas auranya” jawab wies yang juga kesulitan melihat barrow. Ruby menelan ludah menatap kilatan listrik yang besar disekeliling cahaya itu “wies, bagaimana jika kita bekerja sama untuk menghentikannya, ini terlalu mustahil bagi ku jika harus bertindak sendiri” lanjut ruby yang sekarang sudah berdiri tegak menghadap kearah cahaya itu berada, “apa boleh buat, jika kita berhasil menghentikannya, pastikan keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain, terutama oleh para penyihir, kau mengerti?!” tanya wies yang mulai mengambil ancang-ancang untuk menembak barrow dengan anak panah yang lebih besar. “aku tidak bisa berjanji dengan hal itu, tapi akan aku usahakan” jawab ruby yang mendekatkan kedua telapak tangannya untuk membuat tekanan panas dari aura miliknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan