Waktu terasa bergulir sangat lambat, awal aku tersadar dari
mimpi buruk langit masih sangat gelap berhiaskan taaburan bintang, malam itu
adalah malam dengan cahaya rembulan paling terang yang pernah aku lihat. Aku
merasakan lembutnya angin membelai permukaan kulit juga dedanan di pohon-pohon
dekat tempat kami terjaga, aku bangkitkan tubuh perlahan-lahan, terlihat ruby
terus menatap ku dengan tajam, entah apa yang dia pikirkan, tapi tatapannya itu
benar-benar mengganggu ku. Sesaat ku coba meraih daging yang sudah hangus
terbakar, aku teringat dengan mimpi yang tadi sempat tak tuntas ku ceritakan
padanya.
“ruby, apa kau tahu tentang seseorang dengan zirah
besi?”Terlihat mata ruby yang sedikit membesar dari sebelumnya. Mendapati hal
tersebut aku menduga bahwa dia terkejut dengan pertanyaan ku tadi. “seseorang
dengan zirah besi? Bisa kau ceritakan dengan detil?” ucapnya sambil
menyondongkan tubuhnya sedikit kedepan, dalam benak aku mengira bahwa ruby tahu
tentang hal tersebut, mungkin ini kesempatan yang bagus untuk menggeruk
informasi sebanyak mungkin darinya.
“saat sebelum aku
tersadar, aku sempat melihat seorang dengan zirah besi berada di dekat
ku”
“bisa kau jelaskan seperti apa zirah yang dia kenakan?”
“sulit sekali menjelaskannya karena aku belum pernah sekali
pun melihat zirah seperti itu, tapi, ada banyak lekukan yang membuatnya
terlihat tidak biasa pada zirah itu”
“lalu apa lagi?”
“dia bisa membuat asap hijau dengan petir kecil
disekelilingnya, dan dia juga bisa menggambil pedang dari kumpulan asap hijau
itu, pedangnya pun terlihat aneh, aku tidak pernah melihat pedang seperti itu
di pulau ini atau di kota seberang”
“mm… apa kau sempat berbicara dengannya?”
“iya sempat”
“dan apa yang dia katakan?”
“dia menyuruh ku untuk segera mati, dan dia juga sempat bilang
kalau aku adalah kesalahan terbesar yang pernah ada”
“dia bilang begitu?!”
“iya kurang lebih seperti itu”
“barrow, sepertinya aku harus segera mempertemukan mu dengan
seseorang”
“kepada pemegang kunci potal?”
“bukan dia, tapi yang lainnya”
“ahh, lain kali saja kalau begitu”
Ku kembali membaringkan tubuh ku di atas tanah, rasanya
malas sekali kalau harus bertemu orang yang belum dikenal, buang-buang waktu
saja.
“sebenarnya ada tugas lain yang harus aku kerjakan”
“ya sudah, pergi saja sana”
“kau harus iku dengan ku”
“aku tidak tertarik jika bukan si pemegang kunci portal”
Kepala ruby tertunduk perlahan, “dulu aku sempat bertemu
sosok yang mengenakan zirah lengkap, aku tak tahu apakah sosok itu sama dengan
sosok yang bertemu dengan mu di mimpi itu atau tidak” katanya yang mulai
memasang wajah serius, mendapati posisi dan raut wajah yang seserius itu
membuat suasana tiba-tiba berubah menegangkan bagi ku. “dalam pertemuan ku
dengannya, aku sama sekali tidak tahu seperti apa wajahnya karena zirahnya
selalu melekat padanya. Pertemua ku… tidak, perjalanan kami terasa singkat,
tapi banyak hal yang dia berikan pada ku, salah satu pemberian yang paling
berarga untuk ku adalah nama ku” lanjutnya sambil terus menatap tanah di bawah
kakinya. “tunggu dulu, jadi nama mu itu dia yang memberikannya?” tanya ku
dengan dahi sedikit tertekuk tak percaya, “iya, ruby adalah pemberian darinya”
sekarang dia menjawab sambil menatap ku dengan senyum yang sendu.
Ada beberapa hal yang mengganjal di kepala ku saat mendengar
penjelasannya, pertemuan dengan sosok berzirah
itu membengkaskan pertanyaan besar yang harus segera diluruskan.
Perlahan ku coba memutar kembali ingatan pahit kala bertemu dengannya dalam
mimpi, namun inti dari pembicaraan kita saat itu hanya terpaut dengan kesalahan
dan kematian ku saja. Tunggu dulu! Apa ruby akan membunuh ku juga seperti yang
sosok berzirah iu lakukan pada ku?
“ruby, apa kau akan membunuh ku?”
“apa maksud mu? Tentu saja tidak”
“sebelum aku tersadar, sosok berzirah itu telah membunuh ku
dalam mimpi. Mata ku menangkap jelas arah pedang itu tertuju, sabetan pedang
yang menyilang menembus bahu kiri sampai perut sebelah kanan ku”
“sungguh? Sungguh dia melakukan itu pada mu?”
“itu yang aku lihat saat dalam mimpi bertemu dengannya, aku
pun tida mengerti kenapa dia sebenci itu pada ku, padahal itu kali pertama aku
melihatnya”
Mata ruby terbelalak mendengar penjelasan ku, dia terdiam
seakan membatu menatap ku seolah tak percaya dengan penjelasan ku. Beberapa
kali aku menelan ludah menatap ruby yang tengah terdiam itu, begitu juga
telapak tangan ku mulai berkeringat. Jika ruby berbalik untuk membunuh ku, apa
yang harus aku lakukan? Dilihat dari sudut mana pun aku sama sekali tidak punya
kesempatan menang melawannya. Tak terasa tetes keringat mengalir turun dari
dahi membasahi pipi. Semakin lama ku pikirkan akan semakin samar
kemungkinannya, lebih baik jika ku pastikan sekali lagi apakah dia akan
membunuh ku atau tidak.
“ruby, aku tak tahu apa yang pernah kalian alami di masa
lalu, aku tak peduli dengan hal itu, tapi, katakana pada ku sekali lagi, apa
kau akan membunuh ku?” juju, berkata seperti itu sangat berat ku lakukan, aku
ingin memutar sedikit kalimat ku agar terdengar lebih halus olehnya, tapi keselamatan
hidup ku sekarang sedang terancam jika kepastian itu tidak segera ku dapatkan.
“sebenarnya aku masih terkejut dengan cerita mu itu, tidak ku sangka jika sosok
berzirah itu akan melakukan hal seperti itu pada mu” katanya dengan nada yang
pelan, mendengar penjelasan yang bertele-tele seperti itu membuat degup jantung
ini sulit sekali untuk tenang, “lalu?” tanya ku yang berusaha menerobos
langsung pada pokok jawabannya. “hehe, tenang saja, aku tidak akan membunuh mu”
senyum lebar terurai diwajahnya, ku hembuskan nafas panjang untuk mengembalikan
detak jantung yang sempat tak normal “ruby, asal kau tahu, aku sempat menahan
napas saat menunggu jawaban mu. Uwaaah, aku pikir aku akan mati diujung tangan
mu” balas ku yang tertunduk lemas sambil mengelap keringat yang telah membasahi
dahi dan telapak tangan.
“sekarang, barrow bisa kau ikut dengan ku?”
“kemana kita harus pergi? Hari masih terlalu gelap untuk
mulai beraktifitas”
“kita sudah melewati satu hari sejak pertempuran ku dengan
rhino, mungkin sekarang dia sudah mulai
dekat dengan kita, oleh karenanya kita tak bisa membuang waktu lagi, kita harus
segera pergi menjauh”
“rhino? Siapa dia?”
“badak yang tidak ingin kau temui”
“hmm, ku pikir hanya kau saja yang memiliki nama, ternyata
masih ada yang lain juga”
“sudah lah tak perlu kau perpanjang lagi, ayo kita harus
segera pergi”
“oh iya kau benar, maaf”
Aku bangkit dan langsung berlari sekencang mungkin menjauh
dari tempat awal, selagi berlari aku sempat mencari ruby yang tidak ada di
samping atau pun belakang ku. Cahaya redup yang menyelimuti hutan membangkitkan
suasana menegangkan kala aku berlari menerobos hutan semakin dalam, tunggu! Apa
arah ini sudah benar? “ruby, dimana kau?! Kau lupa memberi tahu kemana aku
harus berlari” kata ku sambil menghentikan langkah kaki, ku sapu pemandangan
gelap dan menakutkan di dalam hutan dengan mata ku untuk mencari ruby yang
sempat tertinggal. “ruby!” aku masih belum menemukannya, “ah sial” apa boleh
buat, ku berlari kembali ke tempat awal tadi. Tepat saat langkah mulai
mengudara kilatan cahaya terbang cepat ke arah ku, “weits!” reflek aku
mengelak, “tadi itu kilatan apa?” wajah ku berubah was-was, dalam nafas yang
masih terengah-engah muncul sengatan listrik kecil menyambar dari bahu sebelah
kiri sampai kepala, hal itu membuat ku lantas menoleh ke sebelah kiri dengan cepat,
dan dalam satu kedipan mata aku menangkap sebesit cahaya yang serupa meluncur
cepat ke arah ku, tanpa pikir panjang aku pun memutarkan tubuh untuk mengelak
sambaran itu. Stub! Sebuah anak panah
tertancap di atas tanah setelah aku mengelak. “anak panah? Sial” aku terpaku
menatap anak panah itu.
Sejenak ku terpaku menatap anak panah yang menancap,
sengatan listrik kembali menyambar tulang punggung ku, kali ini sengatan itu
terasa lebih menyakitkan, aku menduga jika serangan kali ini akan lebih
menyulitkan. Ku putar tubuh ku untuk melihatnya, benarlah dugaan ku barusan,
banyak kilatan cahaya yang tengah berterbangan menuju ke arah ku, “gawat! Ini
terlalu banyak” keluh ku sambil berlari sekencang mungkin . Stub! Stub! Stub! Anak panah terus
menancap tepat di sisi kanan, kiri, dan belakang ku dengan cepat. Ngiiing!terdengar dengung yang lumayan
keras di kedua telinga saat tengah berlari, “sekarang apa lagi?!” keluh yang
terlontar lantaran serangan datang silih berganti, ku terus berlari tanpa mau
menoleh ke belakang. Dengung semakin keras terdengar sehingga aku harus menutup
kedua telinga ku “argh! Kenapa bunyi ini tak mau berhenti?”. Fokus ku semakin
berantakan, Stub! dua anak panah
berhasil mengores kaki kanan yang membuat ku jatuh tersungkur, “ugh!, ah, aku tidak
boleh berhenti” kata ku mencoba kembali berlari. Sengatan listrik kembali
menyengat ku, “ah tidak” kali ini seluruh tubuh ku merasa sengatan itu,
“bagaimana ini?”, tidak lama kilatan cahaya bermunculan di sekeliling ku.
Darah terus mengalir keluar membasahi kaki ku yang mulai
terkulai lemas, “gawat, ini tidak bisa ku hindari lagi”, mata ku pejam
rapat-rapat, aku tak sanggup membayangkan setiap anak panah itu akan menancap
di tubuh ku. Sesaat suanan berubah tenang, dan perlahan terbayang sosok berzirah
itu tengah berdiri dihadapan ku dengan mengepalkan tangannya, aku melihat zirah
besi yang tebal dengan kemampuan diluar nalar, jika aku punya zirah sepertinya
mungkin tak ada lagi ketakutan yang menyelimuti ku. Setiap lekukan dan detil
goresan yang melekat pada zirah itu, memberi kesan intimidatif yang kuat secara
keseluruhan. “aku yang dikabarkan memiliki potensi yang spesial, harus bisa
melampauinya, setiap derita yang ku terima akan ku ubah menjadi kekuatan dalam
menutupi kelemahan tubuh ku yang rapuh ini” begitu bunyi gumam ku saat itu.
Kembali lagi, sengatan listrik kembali muncul dengan tekanan yang lebih besar,
aku merasakan betul listrik itu menyambar seluruh tubuh ku, rasa yang
menyakitkan itu ku rasakan hingga tulang-tulang ikut bergetar menahan sakitnya
sambaran listrik yang besar. Ugh! Aku
harus bisa menahan sakit dari sengatan ini! Zchip!
Zchip! Zchip!, aku bahkan sampai
bisa mendengar suara sengatan listrik yang sedang menyengat. Perlahan ku buka
mata untuk melihat apa yang sedang terjadi, Pltang!
Bunyi nyaring terdengar tepat di sebelah kepala, dengan cepat ku alihkan kepala
ku menghadap kearah bunyi tadi dan terlihat banyak sekali anak panah yang telah
melesat cepat kearah ku. Pltang! Pltang! Pltang!, anak panah itu terpental saat
menyentuh ku, “hah? Bagaimana bisa?”. Ku tengok ke bawah kaki yang telah muncul
sinar yang terang entah oleh sebab apa. Apa ini? Sarung tangan besi telah
terpasang dikedua tangan ku, tidak… ternyata tidak hanya tangan ku, seluruh
tubuh ku sudah terlapis zirah besi. Aku bolak-balikan kedua tangan dan tubuh ku
untuk memastikan keseluruhannya, terlihat kilatan petir kecil terus keluar dari
bawah tanah tempat aku berpijak, tak ku sangka aku bisa membuat zirah besi.
“hahahaha!! Lihat! Aku mengenakan zirah besi! Ahahaha!” dengan takjub aku
mendongakan kepala menatap angkasa. Pltang!
Pltang! Anak panah itu masih melesat kearah ku, “cih, mengganggu kesenangan
ku saja” dengan jengkel aku melirik ke arah anak panah itu berasal, “jika sudah
terlapisi zirah seperti ini, tak ada gentar lagi untuk membalikan keadaan,
sekarang giliran ku menghampiri mu” kata ku yang mulai tinggi hati.
Hmph! “loh? Aku tak bisa bergerak, hmph!, loh? Kenapa kaki
ku tak mau digerakan?” Pltang! Anak
panah itu muai menghujam bertubi-tubi, sedangkan petir kecil terus keluar dari
zirah saat anak panah itu terus mengenai ku. Apa yang salah dari ku? Tidak lama
ku bertanya, aku melihat anak panah yang datang seperti hujan yang lebat,
sangat banyak jumlahnya, membuat degup jantung lantas menggebu cepat. Aku bisa
melewatinya, tenang saja, karena sekarang aku telah mengenakan zirah yang
tebal, tak perlu hawatir. Satu persatu anak panah terpental saat menyentuh
zirah ku, aku puas, dan senang karena tak perlu hawatir lagi, senyum ku pun
terukir lebar di dalam helm besi yang sekarang ku kenakan. “hahahahaha!! Panah
mu tak mampu melukai ku! Lihat! Pertahanan kuat milik ku ini! Hahaha!!” lantang
ku berucap sambil menatap anak panah yang terus beterbangan. Perlahan bunyi
benturan anak panah itu semakin redup, hal itu membuat ku semakin kencang
tertawa karena permukaan zirah ini semakin tebal lapisannya, cahaya yang berada
dibawah kaki ku semakin terang bersinar, ditambah kilatan petir yang terus
menyambar semakin besar, saking besarnya sampai perukaan tanah tempat ku berpijak
ikut mengeluarkan petir yang menyambar dengan liar.
Ugh! Sekarang tubuh ku mulai tak bisa digerakan, rasanya
permukaan tanah ini mulai menarik keras kebawah. Ugh! “aarrggh!” teriak ku
sambil mencoba mengangkat kedua tangan yang perlahan mulai turun menyentuh
tanah. Tidak, argh!
---<o0o>---
Ruby terkejut dengan kecepatan barrow dalam berlari, dia
sama sekali tak menduga jika lelaki yang baru saja dia temukan memiliki gerakan
yang cepat secara alami, memang pada awalnya ruby sempat meragu jika barrow
adalah orang yang selama ini dicari setelah peperangan besar terjadi, tapi
setelah melihat barrow yang semakin menjauh membuat dia sedikit yakin akan
sosok itu.
“bagaimana bisa orang yang belum terasah auranya bisa
memiliki gerakan secepat itu?” katanya sambil berlari dengan nafas yang sudah
terengah-engah. Srakk! Mata dengan cepat melirik ke arah sumber suara, dia hentikan
langkah kakinya untuk memastikan dengan jelas apa yang dia lihat, wajah
terkejut sudah tak bisa dia tutupi lagi, mata terbelalak dengan mulut yang
terbuka sebagian memperkuat ekspresi terkejut itu. “aku tak mengira jika kita
akan bertemu disini” ucap pria yang tengah berjalan santai menghampiri ruby.
“apa yang membawa mu kesini?” tatapan tajam ruby mengarah pada pria tersebut, “aku
yang harusnya bertanya pada mu, bagaimana bisa kau mendapat informasi secepat
itu tentang kehadiran aura baru? Padahal tidak ada mengetahui sebelumnya.” Ucap
pria itu tegas. “hahaha! Kau terlalu lamban, sekarang aura baru sudah dalam
genggaman ku” jawab ruby sambil mengdongakan kepala menatap pria itu rendah. “cih,
dasar tak tahu diri, sadar lah posisi mu ruby, oh tunggu… haruskah aku
memanggil mu dengan solar? Itu nama asli mu bukan” balas pria itu dengan
tatapan yang tajam.
Dahi tertekuk, nama yang sudah lama ingin dia lupakan
kembali muncul membakar emosi yang terpendam lama, “jangan kau sebut nama itu
lagi di hadapan ku!” ancam ruby kepadanya. “baiklah, maafkan aku. Hmm… lalu, apa langkah mu selanjutnya setelah
mendapatkan aura baru?” tanya pria itu menatap lurus ke arah ruby, “bukan urusan mu wies!” jawab
ruby cepat sambil menyebutkan nama pria itu. Tangan terayun di udara membentuk
asap tipis berwarna kuning dengan hembusan angin yang kencang disekitarnya,
ruby menatap weis yang akan melakukan sesuatu. “maaf, tapi akulah yang akan membawa aura baru itu” katanya yang
sedang menoleh ke arah barrow berlari. “tungg…” omongan ruby terjegal,
sebongkah batu besar melesat cepat kearahnya dan menghantam tubuhnya dengan
keras, namun sebelum batu itu menghantam ruby sudah terlebih dahulu membungkus
dirinya dengan auranya sehingga tubuhnya terlindung dari cedera yang serius, batu
itu hancur dengan membengkaskan lelehan seperti magma saat berhasil menghantam
ruby.
Tubuhnya sempat terguling di atas tanah usai batu itu
terhantam ke arahnya, tapi dengan cepat ruby kembali berdiri dan bersiaga akan
serang berikutnya, balutan aura yang tipis membuatnya samar terlihat, ruby
memang sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi, namun dia tidak
mengira bahwa kejadian ini akan datang secepat ini. Asap kuning yang berada
dihadapan wies mulai hilang dan tergantikan oleh busur panah yang besar dengan
anak panah yang sudah siap untuk ditembakan, “lihatlah, aku akan menjatuhkan
aura baru itu” katanya yang tengah membidik barrow dari jarak yang sangat jauh,
ruby mengetahui betul kemampuan wies dalam memanah, wies yang memiliki kemampuan
tak pernah meleset dari target menjadi mimpi buruk bagi musuh dan lawannya.
Anak panah telah terlepas dari busur, hembusan angin kencang
bertiup saat anak panah itu melesat terbang dengan cepat, tatapan wies tak
bergerak sama sekali dari satu titik, “hee, ini kali pertama aku melihat ada
yang bisa mengelak dari tembakan ku” katanya sambil tersenyum tipis, terkejut
bukan main, ruby masih tidak bisa percaya dengan ucapan wies yang tadi. Asap
kuning kembali muncul di dekat wies, lalu tak lama anak panah mulai bermunculan
menggantikan asap kuning yang perlahan menghilang, kembali wies menembakan anak
panah itu berkali-kali ke arah barrow dengan jarak yang terus bertambah panjang karena barrow terus berlari
menjauh, ruby tidak memiliki penglihatan setajam dan sejauh wies, oleh
karenanya ruby hanya bisa menebak hasilnya dari ekspresi wies yang dibuatnya,
berkali-kalli tembakan diluncurkan, wies membuat senyum diwajahnya semakin terlihat
jelas
Wies terlihat seperti menikmati perburuannya, lantas hal
tersebut dimanfaatkan ruby untuk melarikan diri darinya, ini adalah kesempatan
yang bagus jika dia ingin lari dari wies. Perlahan kaki mulai melangkah mundur
namun tatapan masih tajam menatap wies yang terus menembak tak henti-hentinya, dalam
usaha yang senyap untuk melarikan diri ruby melihat lapisan aura tipis milik
wies membentuk dinding di hadapannya, dinding itu berlapis terbentuk
didepannya, satu tembakan anak pahan yang meluncur melewati dinding itu akan
membuat tiga anak panah, dan tiga anak panah yang meluncur melewati dinding
kedua akan membuat enam anak panah dan begitu seterusnya. “dia adalah zirah?!”
tanya wies dengan mata yang membesar, “haha, kau terkejut?” ledek ruby
kepadanya. “gawat! Ruby! Cepat kau
hentikan dia!” perintah wies kepada ruby, terlihat dinding aura milik wies yang
menebal dan terasa tembakan wies kali ini membuat hembusan angin yang lebih
kencang dari sebelumnya, sepertinya wies serius ingin menghentikan barrow, kini
wajah wies berubah panik. “aku tidak akan menghentikannya, sampai kau
membiarkan kami pergi” balas ruby memberikan penawaran kepada wies yang masih
memasang wajah panik sambil terus menembakan anak panahnya.
Perlahan tetes keringat membasahi kening wies, tembakan demi
tembakan terus diluncurkan namun anak panah itu tidak dapat menembus zirah
barrow. “apapun itu! Asal kau bisa menghentikannya! Jika tidak, tatanan dimensi
ini akan semakin buruk! Keberadaannya tidak boleh sampai diketahui oleh para
penyihir!” jawab wies dengan mata yang melotot menatap ruby yang masih berjaga
disebelahnya, tidak lama kilatan cahaya yang sangat terang muncul dari tempat
barrow dengan semburan listrik yang besar terus menyambar udara, “apa itu?!”
tanya ruby sambil menyipitkan mata, matanya masih terkejut dengan cahaya yang
menyilaukan. “sepertinya zirah kehilangan kendali atas auranya” jawab wies yang
juga kesulitan melihat barrow. Ruby menelan ludah menatap kilatan listrik yang
besar disekeliling cahaya itu “wies, bagaimana jika kita bekerja sama untuk
menghentikannya, ini terlalu mustahil bagi ku jika harus bertindak sendiri”
lanjut ruby yang sekarang sudah berdiri tegak menghadap kearah cahaya itu
berada, “apa boleh buat, jika kita berhasil menghentikannya, pastikan
keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain, terutama oleh para penyihir, kau
mengerti?!” tanya wies yang mulai mengambil ancang-ancang untuk menembak barrow
dengan anak panah yang lebih besar. “aku tidak bisa berjanji dengan hal itu,
tapi akan aku usahakan” jawab ruby yang mendekatkan kedua telapak tangannya
untuk membuat tekanan panas dari aura miliknya.
Komentar
Posting Komentar