Pandangan buram dipenuhi
kabut tebal di hadapan, hanya sedikit sekali aku dapatkan bayangan pohon jika
aku mendongak ke atas. Disekujur kaki ku terasa begitu dingin, tanah yang
lembab dengan rumput yang masih basah oleh embun membuat tapak ini semakin
sulit untuk melangkah. “dimana aku?” tanya ku sambil melempar pandangan ke
segala arah. Keadaan begitu sunyi, bahkan sampai suara angin pun tidak
terdengar oleh telinga.
“ugh!” kaki ku tak bisa
digerakan, berulangkali ku coba untuk mengangkat kaki ini tetapi tetap saja tak
mau terangkat. “sekarang kenapa lagi?” keluh ku sambil melihat kedua kaki yang
seolah tertancap kedalam tanah, “ugh! Ayolah! Aku harus segera pulang kerumah,
aku sudah lelah dengan semua ini!” keluh ku sambil mencoba mengangkat sebelah
kaki dengan kedua tangan. perlahan tapi pasti kaki ku kini bisa menjejaki
langkah yang maju, walau tetap harus dibantu oleh kedua tangan untuk
mengangkatnya silih berganti dari yang kanan hingga yang kiri.
Sambil terus bersusah payah ku terus berusaha untuk
berjalan, entah kemana aku harus pergi aku tak peduli, karena yang ada dikepala
ku saat ini hanyalah terus bergerak. Sebesit sengatan listrik kicil menyetrum
sepanjang tulang punggung yang membuat dada ini terasa sesak, ditambah pula udara
terasa begitu tipis, “ahh! Firasat ku tidak enak”, kurebahkan tubuh dan mulai merangkak
agar lebih cepat bergerak, tapi… aku tak mampu menggerakan kaki ini, bahkan
menyeretnya pun aku tak sanggup, “aarrrggh!!”.
“bagaimana?
Merasa putus asa? Ingin ku bantu memotong kaki mu?” sontak aku terkejut
mendengar suara yang bersumber dari balik punggung ku, padahal aku sudah
berusaha merayap diatas tanah ini agar terhindar dari firasat buruk, tapi
rasanya itu sia-sia, dengan sekejap ku balikan badan dan mencari siapa yang
berkata sedemikian kejamnya “siapa itu?!” bolak-balik ku periksa sekeliling ku
untuk memastikannya lagi, tidak satu pun ku dapatkan sosok yang ada didekat
sini.
“hati yang
lemah, mudah terpengaruh, tidak berpengalaman, kurang bijak, cenderung ceroboh
dan tidak berpikir panjang… malang nasib mu bertemu dengan ku” suara itu
tertangkap jelas pada gendang telinga sebelah kiri, dan dengan segera pula ku
putar kepala menghadap kearah yang sama dengan sumber suara tersebut, lalu ku
temukan lelaki berbaju besi tengah berjongkok sambil menghadap kearah ku.
“mau
apa kau?!”
“hooo… begitukah cara mu menyapa orang yang
baru bertemu?”
“bukan
urusan mu! Mau apa kau?!”
“seperti dugaan ku, kau pasti hanya ingin
langsung ke intinya, hahaha”
Orang
itu berdiri sambil mengelus helm besinya dengan keras, saking kerasnya aku
mampu mendengar suara gesekan besi antara helm dan sarung tangan besi yang dia kenakan.
“hmm baiklah, kalo begitu matilah disini,
sekarang juga”
“apa
kau gilaaa!!! Tidak akan!! Aku harus pulang kerumah!”
“tidak, kau tak akan pernah bisa mencapainya”
“apa
maksud mu?”
“selama kau masih hidup, kau tak akan bisa
kembali kerumah, karenanya, matilah disini”
Tubuhku
semakin membeku medengar kalimatnya barusan, aku merasakan tekanan yang dalam
dari suara dan kata-katanya. Dipikir berapakali pun kalimatnya sama sekali
tidak bisa ku percaya, tapi ada hal kecil dari dalam hati ku yang ingin
mempercayainya, namun tetap saja itu sulit ku terima, menyuruh ku mati?! Mana
mungkin aku mau membunuh diri ku sendiri.
“bagaimana? Butuh bantuan?”
“ada
yang ingin ku tanyakan. Bagaimana caranya ku tahu bahwa kau tidak berbohong? tidak
menutup kemungkinan bukan jika kau sedang mengelabui ku”
“aku adalah buktinya, karena itu matilah!”
“asal
kau tahu, aku sudah melalui masa yang menyakitkan beberapa waktu yang lalu, dan
sekarang kau datang menambah beban batin ku ini. Ketahuilah bahwa kau telah
masuk daftar orang yang kubenci dikepala ku”
“memang bukan niat ku untuk akrab dengan mu,
dan sudah menjadi keinginan ku sejak lama untuk membunuh mu suatu saat nanti
jika kita bertemu”
Kini tubuhnya telah tegap berdiri
menghadap ku, dan aku masih belum bisa melihta wajahnya seperti apa karena
hampir seluruh tubuhnya tertutup zirah besi yang tebal. Sedikit bercerita kalau
aku bisa merasakan hawa membunuh dari binatang buas atau manusia, hal itu telah
banyak diajarkan oleh ayah sewaktu kami berburu di hutan atau lautan, hawa itu
kurasakan seperti sengatan listrik kecil namun terjadi terus menerus, sehingga
membuat degup jantung ku semakin kuat memompa aliran darah keseluruh tubuh
dengan cepat sehingga panca indara ku semakin tajam terasa. Kembali kepada saat
ini, orang yang sedari tadi terdiam kini mengayunkan tangannya kirinya diudara
dengan pelan, namun gerakannya itu membuat bekas asap hijau di udara yang
semakin lama warna hijau itu semakin terang dan terlihat kilatan seperti petir
kecil di sekelilingnya.
“hei!
Mau apa kau?!!”
“mau apa? tentu saja membunuh mu disini!”
Tangan kanan dia masukan kedalam
gumpalan asap hijau tersebut, dan terlihat petir kecil itu menyengat zirah besi
disekitar tangan dan tubuh bagian kanannya, lalu dengan satu tarikan yang
sangat cepat bagai kilat terlihat tangannya sudah menggenggam sebuah pedang
dengan sangat kuat, pedang yang muncul entah dari mana itu masih teraliri
listrik yang terus menyambar zirahnya, sedangkan bentuk pedanng yang dia
genggam tersebut belum pernah ku lihat sebelumnya sehingga aku menduga jika orang ini bukanlah orang yang
tinggal di dekat sini.
“bisa
kau beritahu ku satu hal”
“baiklah”
“kenapa
kau ingin membunuh ku? Padahal ini kali pertama kita bertemu”
“kau benar, ini kali pertama kita beremu,
tapi, adanya dirimu adalah kesalah terbesar yang pernah ku buat, dan hal itu
tidak bisa ku hindari lagi”
“apa
maksud mu kesalahan terbesar?!!”
“….. selamat tinggal!”
---<o0o>---
“aaaaaaa!!!”
“ada
apa? katakan padaku.” Kata seorang wanita yang berada di dekat ku, sedang aku
masih sibuk meraba kepala dan leher yang masih menempel menjadi satu, “hei! Ada
apa?!” tanya wanita itu lagi, “aku baru saja bermimpi tentang sesuatu yang
sangat aneh! kau tidak akan percaya apa yang akan aku ucapkan” kata ku sambil
tergesah-gesah, derai keringat terus membasahi tubuh ku sejadi-jadinya,
“katakan saja, mungkin aku bisa membantu mu merasa lebih nyaman” lanjut wanita
itu.
“aku
terjepit diantara pohon besar dan akarnya, lalu ada badak raksasa yang mencoba
membunuh ku!, tetapi ada seekor burung raksasa yang bisa terbakar menolong ku,
tapi…”
“tapi
apa? Selesaikan ceritanya.” Kata wanita itu dengan cemas.
“aku
belum tau dimana aku sekarang, dan… siapa kau? Kenapa kau mau dengar mimpi ku?
Apa hubungannya dengan mu?” tanya ku dengan penasaran.
“hahaha,
kau tahu? kau tidak sedang bermimpi. Aku yang membawa mu kesini, semua itu
benar adanya, maaf aku belum
memperkenalkan diri ku, aku? Aku adalah burung raksasa yang terbakar dan
mencoba menyelamatkan mu itu, aku menemukan mu dan membawa mu kesini, kamu
tertidur sudah hampir satu hari penuh” kata wanita itu.
aku segera melihat tubuh ku yang penuh dengan
tumpukan dedaunan hijau, dan meraba-raba tubuh ku sambil melihat sekeliling ku.
Mendengar penjelasan gamblang dengan mimik wajah yang ceria membuat ku tak
lantas percaya begitu saja, lagipula siapa yang akan percaya begitu saja kepada
orang yang mengaku-ngaku bisa berubah menjadi burung raksasa? Melihat keadaan
fisiknya yang tidak ada keanehan sama sekali membuat ku semakin sulit untuk
percaya dengan kata-katanya. “Kau tidak mungkin bisa berubah menjadi seekor
burung raksasa, kau pasti hanya membual” kata ku sambil mencoba menjauh dari
wanita itu. “hahaha, terserah pada mu jika kau masih teteap tidak
mempercayainya, yang jelas aku sudah berkata jujur kepadamu” jawab wanita itu.
Wanita itu nampak muda dan cantik jelita, ditambah
bentuk tubuhnya yang anggun, tidak ada gangguan fisik sama sekali pada wanita
itu. Sepintas aku tidak percaya bahwa dia adalah seekor burung raksasa yang
bisa terbakar dengan sendirinya.
“hei,
terimakasih banyak sudah menolong ku, tapi aku masih punya beberapa pertanyaan
lagi yang membuat ku bingung”
“dengan
senang hati” jawab wanita itu dengan senyum manis di wajahnya, saat dia melirik
ke arah ku, aku melihat jika bola matanya besar dan kelopak matanya indah,
ditambah bulu matanya yang lentik, menambah anggun tatapannya.
“kenapa
kamu menolong ku? dari mana asal mu? Di pulau ini hanya ada aku dan keluarga ku
saja, lalu jika benar kau adalah burung raksasa itu, apa yang kau dan badak
raksasa itu perebutkan dari aku? Aku mendengar kalian menyebut ku si zirah, apa
maksudnya itu?” sambil mengerutkan kening penasaran.
“dari
mana aku harus menjelaskannya?” tanya wanita itu kepada dirinya sendiri.
aku melihat kepalanya tertunduk sehingga terlihat
rambutnya yang berwarna hitam kemerahan. Tampaknya pertanyaan ku membuatnya
kebingungan, sama seperti ku yang tidak mengerti kenapa ini semua harus
terjadi. “singkatnya, kamu memiliki potensi yang besar untuk mencegah hal yang
buruk terjadi. Dan aku ditugaskan untuk mendampingi mu dan membantu mu mencegah
hal buruk itu terjadi” jawab wanita itu dengan wajah yang dihiasi senyum
manisnya yang menggoda, bibir yang tipis berwarna merah itu terlihat begitu
mencolok diwajahnya.
“tidak masuk akal!, aku hanya manusia biasa,
kehidupan ku sudah sempurna bersama keluarga ku disini, lagi pula, bagaimana
kau tahu akan terjadi hal buruk” respon ku dengan cepat “dan, Aku tidak tahu kau!
Begitu juga kau tidak tahu aku!” ku lanjut dengan nada yang tegas. “kau pikir
begitu? manusia mana yang bisa bertahan
dengan tindihan pohon yang besar ditambah beban badak raksasa? Manusia mana yang
bisa bertahan ketika terhantam pohon besar?”, tanya wanita itu dengan
santainya.
Sejenak aku
memutar balikan kejadian itu, aku menghantam pohon besar ketika terjatuh dari
udara?, harusnya tubuh ku sudah terbelah menjadi dua bagian, lalu kenapa aku
masih hidup? Dan juga harusnya tubuh ku sudah hancur ketika terjepit diakar
pohon itu.
“bagaimana?
Apa kau bisa mempercayai ku?”
”Apa
yang membuat mu merasa yakin bahwa akulah orang yang memiliki potensi itu?”
“dari
kejadian itu, harusnya kau sudah mati, tapi potensi mu itu bekerja disaat kau
dalam keadaan terdesak, itu sebabnya kau tidak mati pada kejadian itu. Apa kau
sudah merasa yakin sekarang?”
“pertanyaan
mu menakutkan ku” jawab ku singkat sedangkan wanita itu malah tertawa kecil
sambil mengangkat bahunya,
“baiklah,
lalu bagaimana keadaan keluarga ku?”
“hmm…
pertama, kau harus tenangkan diri mu”
“sudah
jawab saja pertanyaan ku, aku tak butuh jawaban yang bertele-tele”
“baiklah
jika itu mau mu, harus kau ketahui bahwa kau tidak lagi tinggal di tempat yang
sama dengan keluarga mu”
“apa
maksud mu?!”
“tenang
dulu, aku belum selesai menjelaskannya. Kau sekarang berada pada dimensi yang
berbeda dengan kehidupan mu yang sebelumnya”
“hah?!”
“itu
kesimpulan yang bisa ku berikan pada mu saat ini”
“tunggu
dulu, dimensi yang berbeda? Apa maksudnya itu?”
“singkatnya,
tempat ini bukan lagi pulau yang kau tinggali sebelumnya, memang ini terlihat
serupa dengan pulau yang kau tinggali, tapi nyatanya berbeda”
“argh!”
“kau
kenapa?”
“kepala
ku sakit memikirkan penjelasan mu yang tidak masuk akal itu”
“hei,
mana ada manusia yang bisa melihat burung raksasa yang terbakar? Lalu badak
yang bisa melompat menembus awan? Binatang yang bisa bicara? Dari semua itu apa
kau masih tidak mempercai ku? Semua sakit dan derita yang kau alami sebelumnya
adalah nyata”
“tidak!
Itu hanya mimpi!”
“itu
nyata! Terima kenyataan itu! Kau harus hadapi kenyataan!!”
Aku masih bersikeras dengan anggapan bahwa semua ini
hanya sekedar mimpi, tapi dilain sisi, ingatan tentang rasa sakit itu sama
sekali tak bisa ku tutupi, aku sempat meneteskan air mata saat aku sadar di
dalam sela-sela akar aku terjeak disana.
“beritahu
aku bagaimana caranya aku bisa kembali ke dimensi ku yang awal?”
“…..”
“hei”
“jujur,
aku pun tidak tahu bagaimana caranya”
“apa
kata mu?!! Apa sekarang kau akan bilang jika aku akan terjebak disini
selamanya? Hah?!”
“aku
tidak tahu! tapi jika kau bersikeras untuk kembali aku bisa menunjukan mu
dengan seseorang yang mengetahui rahasia portal dimensi ini”
“baguslah,
kalau begitu ayo kita temui dia”
“tidak
semudah itu, dia adalah sosok yang sangat tidak bisa kita temui sembarangan,
karena dia mengetahui banyak rahasia tentang dimensi ini, jadi dia bisa dengan
mudah berpindah dari satu dimensi ke dimensi yang lain”
“lalu
bagaimana caranya untuk menemuinya?”
“tenang,
aku punya ide untuk menariknya keluar dari tempat persembunyiannya, dan kita
pasti bisa mendapatkannya, percayakan pada ku, hehehe”
“haaaaah,
baikalah, ku serahkan masalah itu
kepadamu”
Kruuuk! Bunyi itu muncul dari dalam perut ku yang telah
memecah keheningan sesaat “ngomong-ngomong aku lapar, apa kau tidak lapar?”
tanya ku, “iya aku juga lapar” jawab wanita itu dengan penuh semangat,
“baiklah, menu makan malam ini adalah daging bakar” kata ku sambil mencoba
untuk berdiri, “ayo kita buat menu makan malam ini tersedia dengan sempurna”
ajak ku sambil menyodorkan tangan kepadanya, “tapi kau masih belum sembuh
sepenuhnya” jawab wanita itu dengan raut wajahnya yang melas. Dengan raut wajah
seperti itu pasti orang-orang akan ikut luluh dengannya, “tidak apa-apa jika
aku terluka lagi atau aku mendapat luka yang baru lagi” kata ku sambil menatap
wajahnya yang masih murung itu, “apa kau bilang? Walaupun kau punya potensi
yang spesial, tapi potensi mu masih belum terasah dengan baik, bukan cara yang
baik dengan memaksakan tubuh mu sendiri, biar aku saja yang mencari makan” kata
wanita itu dengan cepat sambil menatap wajah ku, “jika tubuh ku terluka lagi
atau mempunyai luka yang baru, ada kau yang akan mengobati ku”, aku melihat
wajahnya yang mulai memerah padam, “dan, itu ku lakukan untuk melindungi mu dan
menjaga mu untuk tetap berada didekat ku”, kini wajah wanita itu makin memerah,
“hei, kamu baik-baik saja?” tanya ku panik, tak lama wanita itu meneteskan air
matanya, membuat ku semakin tidak bisa berbuat apa-apa, aku berharap aku tidak
menyakiti perasaannya.
“aku baik-baik saja, maaf jika membuat mu khawatir”
jawab wanita itu sambil mengusap air matanya, “belum ada yang mengucapkan
kata-kata itu kepada ku sebelumnya” kata wanita itu dengan wajah tertunduk
“dan, kau lah yang pertama mengucapkan kata-kata itu kepada ku” wanita itu
kembali tersenyum manis menatap ke arah ku “tapi kau terlambat!” wanita itu
kembali menundukan kepalanya, “terlambat?” aku benar-benar tidak mengerti
maksudnya, kata-kata itu mendengung di kepala ku seakan pukulan langsung ke arah
kepala, “iya benar, kau terlambat” jawab wanita itu singkat, mendengarnya
membuat ku mengalihkan pandangan ku ke arah yang lain, “aku tidak mengerti
kenapa kau berkata seperti itu, tapi yang terpenting untuk saat ini adalah kita
berdua harus makan sesuatu” kata ku mencoba memecah canggung, “hah? Hanya itu
yang bisa kau ucapkan? Hanya itu yang bisa kau perjuangkan?” tanya wanita itu
heran sambil mengerutkan keningnya “apa maksud kata-kata mu?” aku kembali
menatapnya dengan penuh pertanyaan.
“aku ini wanita, kenapa kau tidak berusaha membujuk
ku untuk ikut dengan mu? kau hanya memperdulikan dirimu sendiri!” jawab wanita
itu dengan suara yang lantang, aku melihat permukaan kulitnya yang sekarang
berubah menjadi merah. Sekejap aku terkejut karena aku belum pernah melihat ada
wanita yang bisa merubah warna kulitnya. Wanita itu menatap tajam ke arah ku
dengan penuh kerutan pada dahinya, dan aku mulai merasa tubuh ku seperti
dijemur dibawah terik matahari pada siang hari, panas sekali. Aku melihat
sekeliling untuk mencari apa yang telah terjadi, lalu perlahan timbul asap dari
dedaunan kering yang berada disekelilingku, tidak lama daun-daun yang dekat
wanita itu juga mulai terbakar denga api yang kecil, “apa yang terjadi disini?!”
aku penasaran dengan semua ini, “ini adalah salah mu dan karena mu!!”
jawabannya membuat telinga ku berdenging
terus menerus sampai aku merasa seperti semua rongga dikepala ku seperti
bergetar ditempatnya, “baik, baik, aku minta maaf” jawab ku sambil menutup
telinga rapat-rapat, rasanya seperti berada diruang tertutup, dan dikelilingi
oleh lepengan logam yang saling berbenturan, sehingga membuat gelombang suara
yang keras ditelinga sambil tubuh dibakar dalam ruangan, tubuh ini benar-benar
dibuat tidak bisa berkutik, “maaf, maaf, tolong hentikan ini semua, aku sudah
tidak kuat lagi!!” teriak ku karena tidak kuat lagi menahan ini semua, “baiklah, aku sudah maafkan mu, tapi tolong
jangan ulangi lagi” kata wanita itu sambil menutup matanya. Sekejap suasana
kembali seperti semula, udara kembali sejuk seperti sedia kala, denging ditelinga ku sudah menghilang. “hah,
hah, hah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa udaranya menjadi sangat panas dan
suara mu mendadak berdenging
ditelinga ku?” tanya ku sambil mengusap-usap telinga ku.
“maaf, tadi itu efek aura ku, jika aku merasa tersakiti
maka otomatis aura ku akan keluar dengan sendirinya untuk menutupi luka atau
sakit ku, atau bisa juga balik menyerang pada lawan yang menyakitiku” jawab
wanita itu singkat dengan senyum manis yang di pamerkan kepada ku, “jika
begitu, apa tadi kau merasa sakit atau ada yang menyakiti?” tanya ku dengan
hati-hati, pernyataan wanita itu membuat ku harus waspada kepadanya karena
wanita itu bukan wanita yang sembarangan. “aku merasa ada yang menyakiti ku, dengan
sikap dan kata-katanya” jawabnya dengan singkat. “oke, sepertinya aku tahu
siapa yang menyakitimu dengan sikap dan kata-katanya, bagaimana jika kau
memberikannya kesempatan untuk memperbaiki itu semua” jawab ku sambil menata
senyum diwajah ku, aku sadar akan pernyataan wanita itu yang mengarah kepada
ku. “tidak apa, lupakan saja, aku sudah bisa melewatkannya” jawabnya ringan,
tampak tidak terlihat ada masalah yang serius pada dirinya, padahal sebelumya
wanita itu hampir saja menghantarkan nyawa ku melayang lapas dari jasad.
“syukurlah kalau begitu, aku pikir kamu sudah kehilangan kesadaran” jawab ku sambil
mencoba membalikan badan, “tunggu dulu, tadi kau bilang kesadaran?” tanya dia,
“apa maksudmu kehilangan kesadaran?!” lanjutnya dengan nada yang kembali keras,
“katakan pada ku!!!”, uugghh tubuh ku
terpental hingga terguling diatas dedaunan kering, “jelaskan kepada ku!”
bentaknya lagi, telinga ku kembali berdenging.
Aku mencoba bangkit berdiri, tetapi seperti ada
sesuatu yang menindihi tubuh ku, “maksud ku kesabaran” jawab ku dengan suara
yang sesak, dengan satu hembusa nafas beban dan panas itu menghilang seperti
lenyap ditelan keheningan di hutan ini. “kenapa tidak bilang? Jangan buat aku
salah paham” kata waita itu dengan gayanya, “apa? Kau tadi hampir saja membuat
bola mataku keluar dari tempatnya, dan kau hanya bisa bilang seperti itu?”
tanya ku ketus, jika aku terus bersama wanita itu sama saja aku terus bersama
malapetaka, aku harus mencari cara untuk bisa jauh dari wanita itu. “kenapa kau
hanya diam saja? ada yang salah?” tanya dia lagi dengan paras wajah yang
menggoda, “bisa kau hentikan itu? Aku pusing melihatnya” jawab ku ketus, “oh
iya, tadi kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa aku terlamabat?” tanya ku
sambil mengerutkan dahi ku karena penasaran dengan jawaban itu “iya kau
terlambat” jawabnya sambil memasang ekspresi wajah yang sama seperti tadi,
“kamu terlamabat berkata seperti itu, karena...” dia berhenti dengan kalimat yang
menurut ku sangat menggantung.
Kressaak!, ada yang bergerak diatas pohon itu, aku
bersiap untuk hal buruk yang akan menimpa ku lagi, aku mengutarakan mata ku
kesegala arah untuk mendapatkan sesuatu. “hahahaha, itu bukan apa-apa, tenang
saja” katanya dengan nada mengejek, “hei, aku sudah mengalami hal-hal yang
buruk, aku tidak mau itu terulang lagi!” kata ku dengan nada yang sedikit
jengkel. “hahaha, dasar lelaki, selalu bertingkah sok kuat didepan wanita agar
bisa terlihat gagah berani” dengan nada mengejek. “arrgh, terserah pada mu
saja” kata ku yang sudah kesal. Aku beranjak berdiri dan membersihkan tubuh ku
dari dedaunan kering, melihat aku yang sudah berdiri, dia pun mengikutinya
sambil memasang senyum menggoda diwajahnya lagi. “ayo, kita harus pergi, aku
juga sudah mulai lapar” kata ku. Aku pun langsung beranjak pergi dan dia
mengikuti dari belakang. Dalam perjalanan, aku dan wanita itu tidak banyak
bercerita.
Aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya,
karena aku tahu akan berakibatnya fatal bagiku jika aku salah dalam mengucapkan
sesuatu. Diperjalanan aku mencari sesuatu yang bisa kami makan, seperti
dedaunan dan beberapa binatang yang ada dihutan ini. sesekali aku menyadari
bahwa wanita itu tengah memperhatikan aku dengan tatapan yang membuat ku bingung,
ada apa dengan dirinya yang selalu membuat ku curiga. Setelah semua sudah siap
untuk disantap, wanita itu hanya makan sedikit dan menyisakan banyak makanan
kepada ku dengan alasan “aku udah cukup, ga baik makan terlalu banyak” sambil
mengurai senyum diwajahnya. Aku melihatnya dengan tatapan yang heran tapi
sambil melanjutkan mengunyah makanan yang aku pegang, “aku baru tau, ternyata
perempuan itu takut makannya sedikit” kata ku sambil memalingkan wajah agar
tidak melihat kearahnya.
“se, sebentar, ka, kau bilang apa tadi?” katanya
terbata-bata sambil menggenggam sekepal tanah ditangannya, dan suasana kembali
panas, bahkan lebih panas dari sebelum-sebelumnya, “ugh! Aku tidak bilang
apa-apa” jawab ku sambil tertunduk menahan panas yang luar biasa ini, “bohong!!”
bentaknya, perlahan ku coba mengangkat kepala ku untuk menatapnya sejenak, “hah!”
mata ku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat dihadapan ku saat ini, betapa
terkejutnya aku melihat beberapa helai rambut wanita itu terbakar dan tanah
yang dia genggam mulai memancarkan cahaya kuning seperti besi yang sedang
dipanaskan. “tu, tunggu dulu, aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang wanita,
sungguh! Maaf kan aku!” pinta ku kepadanya karena sebagian pakaian yang ku
kenakan mulai terbakar dengan api kecil. Lagi-lagi dalam waktu sekejap udara
kembali seperti semula, kecuali sebongkah tanah yang dia genggam masih
menyala-menyala karena panasnya. “haaaaaah, kali keberapa aku berpikir bahwa
aku akan mati disini? Haaah~” kata ku sambil merebahkan tubuh diatas tanah yang
dingin. “janga sekali-kali kau ucapkan hal itu atau pun yang memiliki makna
yang sama dengan kalimat itu, kau mengerti?” tanya wanita itu sambil
menggenggam tanah yang menyala ditambah tatapan tajam yang jelas itu adalah
sebuah ancaman yang serius agar aku tidak mengulanginya lagi, “baik aku
mengerti” Wanita itu kembali tenang dan menjatuhkan bongkahan tanah yang dia
genggam sedari tadi,
“apa
kau masih ingin melanjutkan menghabiskan makanan mu?”
“tadinya
sih aku ingin, tapi setelah aku tertunduk karena tekanan dari aura mu itu, aku
melihat bahwa makanan ku ikut terbakar dan bisa kau tebak apa yang terjadi?”
“hah?
Aku membakar makanan mu? Kenapa kau tidak bilang?
“ck,
kalau aku bisa sudah aku katakana dari tadi, tapi… ahh sudah lupakan saja, aku
sudah tidak lapar lagi”
“maaf
kan aku”
“oh
iya, ngomong-ngomong, apa kau punya nama?”
“tentu
saja aku punya! Kau pikir aku apa sampai tak memiliki nama”
Sejujurnya aku ingin berkata bahwa dia adalah mahluk
hidup entah manusia atau burung raksasa yang bisa terbakar dan senang menyiksa,
tapi tak sampai hati ku berkata demikian karena aku pasti akan benar-benar mati
terbakar tanpa ada kesempatan untuk beralasan
kepadanya.
“lalu,
siapa nama mu?”
“sebelum
itu, perkenalkan diri mu terlebih dahulu”
“hah?
Bukannya kau sudah tau tentang aku? Lalu buat apa lagi aku harus memperkenalkan
diri kepada orang yang sudah tau siapa aku?”
“apa
sesulit itu memperkenalkan diri kepada orang lain bagi mu?”
“ck
baiklah! Nama ku Barrow, dan kau?
“haha,
singkat sekali dasar… perkenalkan, nama ku Ruby”
Komentar
Posting Komentar