Langsung ke konten utama

AURA


Pandangan buram dipenuhi kabut tebal di hadapan, hanya sedikit sekali aku dapatkan bayangan pohon jika aku mendongak ke atas. Disekujur kaki ku terasa begitu dingin, tanah yang lembab dengan rumput yang masih basah oleh embun membuat tapak ini semakin sulit untuk melangkah. “dimana aku?” tanya ku sambil melempar pandangan ke segala arah. Keadaan begitu sunyi, bahkan sampai suara angin pun tidak terdengar oleh telinga.

“ugh!” kaki ku tak bisa digerakan, berulangkali ku coba untuk mengangkat kaki ini tetapi tetap saja tak mau terangkat. “sekarang kenapa lagi?” keluh ku sambil melihat kedua kaki yang seolah tertancap kedalam tanah, “ugh! Ayolah! Aku harus segera pulang kerumah, aku sudah lelah dengan semua ini!” keluh ku sambil mencoba mengangkat sebelah kaki dengan kedua tangan. perlahan tapi pasti kaki ku kini bisa menjejaki langkah yang maju, walau tetap harus dibantu oleh kedua tangan untuk mengangkatnya silih berganti dari yang kanan hingga yang kiri.

Sambil terus bersusah payah ku terus berusaha untuk berjalan, entah kemana aku harus pergi aku tak peduli, karena yang ada dikepala ku saat ini hanyalah terus bergerak. Sebesit sengatan listrik kicil menyetrum sepanjang tulang punggung yang membuat dada ini terasa sesak, ditambah pula udara terasa begitu tipis, “ahh! Firasat ku tidak enak”, kurebahkan tubuh dan mulai merangkak agar lebih cepat bergerak, tapi… aku tak mampu menggerakan kaki ini, bahkan menyeretnya pun aku tak sanggup, “aarrrggh!!”.

bagaimana? Merasa putus asa? Ingin ku bantu memotong kaki mu?” sontak aku terkejut mendengar suara yang bersumber dari balik punggung ku, padahal aku sudah berusaha merayap diatas tanah ini agar terhindar dari firasat buruk, tapi rasanya itu sia-sia, dengan sekejap ku balikan badan dan mencari siapa yang berkata sedemikian kejamnya “siapa itu?!” bolak-balik ku periksa sekeliling ku untuk memastikannya lagi, tidak satu pun ku dapatkan sosok yang ada didekat sini.

hati yang lemah, mudah terpengaruh, tidak berpengalaman, kurang bijak, cenderung ceroboh dan tidak berpikir panjang… malang nasib mu bertemu dengan ku” suara itu tertangkap jelas pada gendang telinga sebelah kiri, dan dengan segera pula ku putar kepala menghadap kearah yang sama dengan sumber suara tersebut, lalu ku temukan lelaki berbaju besi tengah berjongkok sambil menghadap kearah ku.

“mau apa kau?!”
hooo… begitukah cara mu menyapa orang yang baru bertemu?
“bukan urusan mu! Mau apa kau?!”
seperti dugaan ku, kau pasti hanya ingin langsung ke intinya, hahaha 

Orang itu berdiri sambil mengelus helm besinya dengan keras, saking kerasnya aku mampu mendengar suara gesekan besi antara helm dan sarung tangan besi yang dia kenakan.

hmm baiklah, kalo begitu matilah disini, sekarang juga
“apa kau gilaaa!!! Tidak akan!! Aku harus pulang kerumah!”
tidak, kau tak akan pernah bisa mencapainya
“apa maksud mu?”
selama kau masih hidup, kau tak akan bisa kembali kerumah, karenanya, matilah disini

Tubuhku semakin membeku medengar kalimatnya barusan, aku merasakan tekanan yang dalam dari suara dan kata-katanya. Dipikir berapakali pun kalimatnya sama sekali tidak bisa ku percaya, tapi ada hal kecil dari dalam hati ku yang ingin mempercayainya, namun tetap saja itu sulit ku terima, menyuruh ku mati?! Mana mungkin aku mau membunuh diri ku sendiri.

bagaimana? Butuh bantuan?
“ada yang ingin ku tanyakan. Bagaimana caranya ku tahu bahwa kau tidak berbohong? tidak menutup kemungkinan bukan jika kau sedang mengelabui ku”
aku adalah buktinya, karena itu matilah!
“asal kau tahu, aku sudah melalui masa yang menyakitkan beberapa waktu yang lalu, dan sekarang kau datang menambah beban batin ku ini. Ketahuilah bahwa kau telah masuk daftar orang yang kubenci dikepala ku”
memang bukan niat ku untuk akrab dengan mu, dan sudah menjadi keinginan ku sejak lama untuk membunuh mu suatu saat nanti jika kita bertemu

            Kini tubuhnya telah tegap berdiri menghadap ku, dan aku masih belum bisa melihta wajahnya seperti apa karena hampir seluruh tubuhnya tertutup zirah besi yang tebal. Sedikit bercerita kalau aku bisa merasakan hawa membunuh dari binatang buas atau manusia, hal itu telah banyak diajarkan oleh ayah sewaktu kami berburu di hutan atau lautan, hawa itu kurasakan seperti sengatan listrik kecil namun terjadi terus menerus, sehingga membuat degup jantung ku semakin kuat memompa aliran darah keseluruh tubuh dengan cepat sehingga panca indara ku semakin tajam terasa. Kembali kepada saat ini, orang yang sedari tadi terdiam kini mengayunkan tangannya kirinya diudara dengan pelan, namun gerakannya itu membuat bekas asap hijau di udara yang semakin lama warna hijau itu semakin terang dan terlihat kilatan seperti petir kecil di sekelilingnya.  

“hei! Mau apa kau?!!”
mau apa? tentu saja membunuh mu disini!

            Tangan kanan dia masukan kedalam gumpalan asap hijau tersebut, dan terlihat petir kecil itu menyengat zirah besi disekitar tangan dan tubuh bagian kanannya, lalu dengan satu tarikan yang sangat cepat bagai kilat terlihat tangannya sudah menggenggam sebuah pedang dengan sangat kuat, pedang yang muncul entah dari mana itu masih teraliri listrik yang terus menyambar zirahnya, sedangkan bentuk pedanng yang dia genggam tersebut belum pernah ku lihat sebelumnya sehingga aku  menduga jika orang ini bukanlah orang yang tinggal di dekat sini.

“bisa kau beritahu ku satu hal”
baiklah
“kenapa kau ingin membunuh ku? Padahal ini kali pertama kita bertemu”
kau benar, ini kali pertama kita beremu, tapi, adanya dirimu adalah kesalah terbesar yang pernah ku buat, dan hal itu tidak bisa ku hindari lagi
“apa maksud mu kesalahan terbesar?!!”
….. selamat tinggal!

---<o0o>---


“aaaaaaa!!!”
“ada apa? katakan padaku.” Kata seorang wanita yang berada di dekat ku, sedang aku masih sibuk meraba kepala dan leher yang masih menempel menjadi satu, “hei! Ada apa?!” tanya wanita itu lagi, “aku baru saja bermimpi tentang sesuatu yang sangat aneh! kau tidak akan percaya apa yang akan aku ucapkan” kata ku sambil tergesah-gesah, derai keringat terus membasahi tubuh ku sejadi-jadinya, “katakan saja, mungkin aku bisa membantu mu merasa lebih nyaman” lanjut wanita itu.

“aku terjepit diantara pohon besar dan akarnya, lalu ada badak raksasa yang mencoba membunuh ku!, tetapi ada seekor burung raksasa yang bisa terbakar menolong ku, tapi…”
“tapi apa? Selesaikan ceritanya.” Kata wanita itu dengan cemas.
“aku belum tau dimana aku sekarang, dan… siapa kau? Kenapa kau mau dengar mimpi ku? Apa hubungannya dengan mu?” tanya ku dengan penasaran.
“hahaha, kau tahu? kau tidak sedang bermimpi. Aku yang membawa mu kesini, semua itu benar adanya,  maaf aku belum memperkenalkan diri ku, aku? Aku adalah burung raksasa yang terbakar dan mencoba menyelamatkan mu itu, aku menemukan mu dan membawa mu kesini, kamu tertidur sudah hampir satu hari penuh” kata wanita itu.

aku segera melihat tubuh ku yang penuh dengan tumpukan dedaunan hijau, dan meraba-raba tubuh ku sambil melihat sekeliling ku. Mendengar penjelasan gamblang dengan mimik wajah yang ceria membuat ku tak lantas percaya begitu saja, lagipula siapa yang akan percaya begitu saja kepada orang yang mengaku-ngaku bisa berubah menjadi burung raksasa? Melihat keadaan fisiknya yang tidak ada keanehan sama sekali membuat ku semakin sulit untuk percaya dengan kata-katanya. “Kau tidak mungkin bisa berubah menjadi seekor burung raksasa, kau pasti hanya membual” kata ku sambil mencoba menjauh dari wanita itu. “hahaha, terserah pada mu jika kau masih teteap tidak mempercayainya, yang jelas aku sudah berkata jujur kepadamu” jawab wanita itu.

Wanita itu nampak muda dan cantik jelita, ditambah bentuk tubuhnya yang anggun, tidak ada gangguan fisik sama sekali pada wanita itu. Sepintas aku tidak percaya bahwa dia adalah seekor burung raksasa yang bisa terbakar dengan sendirinya.

“hei, terimakasih banyak sudah menolong ku, tapi aku masih punya beberapa pertanyaan lagi yang membuat ku bingung”
“dengan senang hati” jawab wanita itu dengan senyum manis di wajahnya, saat dia melirik ke arah ku, aku melihat jika bola matanya besar dan kelopak matanya indah, ditambah bulu matanya yang lentik, menambah anggun tatapannya.
“kenapa kamu menolong ku? dari mana asal mu? Di pulau ini hanya ada aku dan keluarga ku saja, lalu jika benar kau adalah burung raksasa itu, apa yang kau dan badak raksasa itu perebutkan dari aku? Aku mendengar kalian menyebut ku si zirah, apa maksudnya itu?” sambil mengerutkan kening penasaran.
“dari mana aku harus menjelaskannya?” tanya wanita itu kepada dirinya sendiri.

aku melihat kepalanya tertunduk sehingga terlihat rambutnya yang berwarna hitam kemerahan. Tampaknya pertanyaan ku membuatnya kebingungan, sama seperti ku yang tidak mengerti kenapa ini semua harus terjadi. “singkatnya, kamu memiliki potensi yang besar untuk mencegah hal yang buruk terjadi. Dan aku ditugaskan untuk mendampingi mu dan membantu mu mencegah hal buruk itu terjadi” jawab wanita itu dengan wajah yang dihiasi senyum manisnya yang menggoda, bibir yang tipis berwarna merah itu terlihat begitu mencolok diwajahnya.

“tidak masuk akal!, aku hanya manusia biasa, kehidupan ku sudah sempurna bersama keluarga ku disini, lagi pula, bagaimana kau tahu akan terjadi hal buruk” respon ku dengan cepat “dan, Aku tidak tahu kau! Begitu juga kau tidak tahu aku!” ku lanjut dengan nada yang tegas. “kau pikir begitu? manusia mana  yang bisa bertahan dengan tindihan pohon yang besar ditambah beban badak raksasa? Manusia mana yang bisa bertahan ketika terhantam pohon besar?”, tanya wanita itu dengan santainya.

 Sejenak aku memutar balikan kejadian itu, aku menghantam pohon besar ketika terjatuh dari udara?, harusnya tubuh ku sudah terbelah menjadi dua bagian, lalu kenapa aku masih hidup? Dan juga harusnya tubuh ku sudah hancur ketika terjepit diakar pohon itu.

“bagaimana? Apa kau bisa mempercayai ku?”
”Apa yang membuat mu merasa yakin bahwa akulah orang yang memiliki potensi itu?”
“dari kejadian itu, harusnya kau sudah mati, tapi potensi mu itu bekerja disaat kau dalam keadaan terdesak, itu sebabnya kau tidak mati pada kejadian itu. Apa kau sudah merasa yakin sekarang?”
“pertanyaan mu menakutkan ku” jawab ku singkat sedangkan wanita itu malah tertawa kecil sambil mengangkat bahunya,

“baiklah, lalu bagaimana keadaan keluarga ku?”
“hmm… pertama, kau harus tenangkan diri mu”
“sudah jawab saja pertanyaan ku, aku tak butuh jawaban yang bertele-tele”
“baiklah jika itu mau mu, harus kau ketahui bahwa kau tidak lagi tinggal di tempat yang sama dengan keluarga mu”
“apa maksud mu?!”
“tenang dulu, aku belum selesai menjelaskannya. Kau sekarang berada pada dimensi yang berbeda dengan kehidupan mu yang sebelumnya”
“hah?!”
“itu kesimpulan yang bisa ku berikan pada mu saat ini”
“tunggu dulu, dimensi yang berbeda? Apa maksudnya itu?”
“singkatnya, tempat ini bukan lagi pulau yang kau tinggali sebelumnya, memang ini terlihat serupa dengan pulau yang kau tinggali, tapi nyatanya berbeda”
“argh!”
“kau kenapa?”
“kepala ku sakit memikirkan penjelasan mu yang tidak masuk akal itu”
“hei, mana ada manusia yang bisa melihat burung raksasa yang terbakar? Lalu badak yang bisa melompat menembus awan? Binatang yang bisa bicara? Dari semua itu apa kau masih tidak mempercai ku? Semua sakit dan derita yang kau alami sebelumnya adalah nyata”
“tidak! Itu hanya mimpi!”
“itu nyata! Terima kenyataan itu! Kau harus hadapi kenyataan!!”

Aku masih bersikeras dengan anggapan bahwa semua ini hanya sekedar mimpi, tapi dilain sisi, ingatan tentang rasa sakit itu sama sekali tak bisa ku tutupi, aku sempat meneteskan air mata saat aku sadar di dalam sela-sela akar aku terjeak disana.

“beritahu aku bagaimana caranya aku bisa kembali ke dimensi ku yang awal?”
“…..”
“hei”
“jujur, aku pun tidak tahu bagaimana caranya”
“apa kata mu?!! Apa sekarang kau akan bilang jika aku akan terjebak disini selamanya? Hah?!”
“aku tidak tahu! tapi jika kau bersikeras untuk kembali aku bisa menunjukan mu dengan seseorang yang mengetahui rahasia portal dimensi ini”
“baguslah, kalau begitu ayo kita temui dia”
“tidak semudah itu, dia adalah sosok yang sangat tidak bisa kita temui sembarangan, karena dia mengetahui banyak rahasia tentang dimensi ini, jadi dia bisa dengan mudah berpindah dari satu dimensi ke dimensi yang lain”
“lalu bagaimana caranya untuk menemuinya?”
“tenang, aku punya ide untuk menariknya keluar dari tempat persembunyiannya, dan kita pasti bisa mendapatkannya, percayakan pada ku, hehehe”
“haaaaah, baikalah, ku serahkan masalah itu  kepadamu”

Kruuuk! Bunyi itu muncul dari dalam perut ku yang telah memecah keheningan sesaat “ngomong-ngomong aku lapar, apa kau tidak lapar?” tanya ku, “iya aku juga lapar” jawab wanita itu dengan penuh semangat, “baiklah, menu makan malam ini adalah daging bakar” kata ku sambil mencoba untuk berdiri, “ayo kita buat menu makan malam ini tersedia dengan sempurna” ajak ku sambil menyodorkan tangan kepadanya, “tapi kau masih belum sembuh sepenuhnya” jawab wanita itu dengan raut wajahnya yang melas. Dengan raut wajah seperti itu pasti orang-orang akan ikut luluh dengannya, “tidak apa-apa jika aku terluka lagi atau aku mendapat luka yang baru lagi” kata ku sambil menatap wajahnya yang masih murung itu, “apa kau bilang? Walaupun kau punya potensi yang spesial, tapi potensi mu masih belum terasah dengan baik, bukan cara yang baik dengan memaksakan tubuh mu sendiri, biar aku saja yang mencari makan” kata wanita itu dengan cepat sambil menatap wajah ku, “jika tubuh ku terluka lagi atau mempunyai luka yang baru, ada kau yang akan mengobati ku”, aku melihat wajahnya yang mulai memerah padam, “dan, itu ku lakukan untuk melindungi mu dan menjaga mu untuk tetap berada didekat ku”, kini wajah wanita itu makin memerah, “hei, kamu baik-baik saja?” tanya ku panik, tak lama wanita itu meneteskan air matanya, membuat ku semakin tidak bisa berbuat apa-apa, aku berharap aku tidak menyakiti perasaannya.

“aku baik-baik saja, maaf jika membuat mu khawatir” jawab wanita itu sambil mengusap air matanya, “belum ada yang mengucapkan kata-kata itu kepada ku sebelumnya” kata wanita itu dengan wajah tertunduk “dan, kau lah yang pertama mengucapkan kata-kata itu kepada ku” wanita itu kembali tersenyum manis menatap ke arah ku “tapi kau terlambat!” wanita itu kembali menundukan kepalanya, “terlambat?” aku benar-benar tidak mengerti maksudnya, kata-kata itu mendengung di kepala ku seakan pukulan langsung ke arah kepala, “iya benar, kau terlambat” jawab wanita itu singkat, mendengarnya membuat ku mengalihkan pandangan ku ke arah yang lain, “aku tidak mengerti kenapa kau berkata seperti itu, tapi yang terpenting untuk saat ini adalah kita berdua harus makan sesuatu” kata ku mencoba memecah canggung, “hah? Hanya itu yang bisa kau ucapkan? Hanya itu yang bisa kau perjuangkan?” tanya wanita itu heran sambil mengerutkan keningnya “apa maksud kata-kata mu?” aku kembali menatapnya dengan penuh pertanyaan.

“aku ini wanita, kenapa kau tidak berusaha membujuk ku untuk ikut dengan mu? kau hanya memperdulikan dirimu sendiri!” jawab wanita itu dengan suara yang lantang, aku melihat permukaan kulitnya yang sekarang berubah menjadi merah. Sekejap aku terkejut karena aku belum pernah melihat ada wanita yang bisa merubah warna kulitnya. Wanita itu menatap tajam ke arah ku dengan penuh kerutan pada dahinya, dan aku mulai merasa tubuh ku seperti dijemur dibawah terik matahari pada siang hari, panas sekali. Aku melihat sekeliling untuk mencari apa yang telah terjadi, lalu perlahan timbul asap dari dedaunan kering yang berada disekelilingku, tidak lama daun-daun yang dekat wanita itu juga mulai terbakar denga api yang kecil, “apa yang terjadi disini?!” aku penasaran dengan semua ini, “ini adalah salah mu dan karena mu!!” jawabannya membuat telinga ku berdenging terus menerus sampai aku merasa seperti semua rongga dikepala ku seperti bergetar ditempatnya, “baik, baik, aku minta maaf” jawab ku sambil menutup telinga rapat-rapat, rasanya seperti berada diruang tertutup, dan dikelilingi oleh lepengan logam yang saling berbenturan, sehingga membuat gelombang suara yang keras ditelinga sambil tubuh dibakar dalam ruangan, tubuh ini benar-benar dibuat tidak bisa berkutik, “maaf, maaf, tolong hentikan ini semua, aku sudah tidak kuat lagi!!” teriak ku karena tidak kuat lagi menahan ini semua,  “baiklah, aku sudah maafkan mu, tapi tolong jangan ulangi lagi” kata wanita itu sambil menutup matanya. Sekejap suasana kembali seperti semula, udara kembali sejuk seperti sedia kala, denging ditelinga ku sudah menghilang. “hah, hah, hah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa udaranya menjadi sangat panas dan suara mu mendadak berdenging ditelinga ku?” tanya ku sambil mengusap-usap telinga ku.

“maaf, tadi itu efek aura ku, jika aku merasa tersakiti maka otomatis aura ku akan keluar dengan sendirinya untuk menutupi luka atau sakit ku, atau bisa juga balik menyerang pada lawan yang menyakitiku” jawab wanita itu singkat dengan senyum manis yang di pamerkan kepada ku, “jika begitu, apa tadi kau merasa sakit atau ada yang menyakiti?” tanya ku dengan hati-hati, pernyataan wanita itu membuat ku harus waspada kepadanya karena wanita itu bukan wanita yang sembarangan. “aku merasa ada yang menyakiti ku, dengan sikap dan kata-katanya” jawabnya dengan singkat. “oke, sepertinya aku tahu siapa yang menyakitimu dengan sikap dan kata-katanya, bagaimana jika kau memberikannya kesempatan untuk memperbaiki itu semua” jawab ku sambil menata senyum diwajah ku, aku sadar akan pernyataan wanita itu yang mengarah kepada ku. “tidak apa, lupakan saja, aku sudah bisa melewatkannya” jawabnya ringan, tampak tidak terlihat ada masalah yang serius pada dirinya, padahal sebelumya wanita itu hampir saja menghantarkan nyawa ku melayang lapas dari jasad. “syukurlah kalau begitu, aku pikir kamu sudah kehilangan kesadaran” jawab ku sambil mencoba membalikan badan, “tunggu dulu, tadi kau bilang kesadaran?” tanya dia, “apa maksudmu kehilangan kesadaran?!” lanjutnya dengan nada yang kembali keras, “katakan pada ku!!!”, uugghh tubuh ku terpental hingga terguling diatas dedaunan kering, “jelaskan kepada ku!” bentaknya lagi, telinga ku kembali berdenging.

Aku mencoba bangkit berdiri, tetapi seperti ada sesuatu yang menindihi tubuh ku, “maksud ku kesabaran” jawab ku dengan suara yang sesak, dengan satu hembusa nafas beban dan panas itu menghilang seperti lenyap ditelan keheningan di hutan ini. “kenapa tidak bilang? Jangan buat aku salah paham” kata waita itu dengan gayanya, “apa? Kau tadi hampir saja membuat bola mataku keluar dari tempatnya, dan kau hanya bisa bilang seperti itu?” tanya ku ketus, jika aku terus bersama wanita itu sama saja aku terus bersama malapetaka, aku harus mencari cara untuk bisa jauh dari wanita itu. “kenapa kau hanya diam saja? ada yang salah?” tanya dia lagi dengan paras wajah yang menggoda, “bisa kau hentikan itu? Aku pusing melihatnya” jawab ku ketus, “oh iya, tadi kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa aku terlamabat?” tanya ku sambil mengerutkan dahi ku karena penasaran dengan jawaban itu “iya kau terlambat” jawabnya sambil memasang ekspresi wajah yang sama seperti tadi, “kamu terlamabat berkata seperti itu, karena...” dia berhenti dengan kalimat yang menurut ku sangat menggantung.

Kressaak!, ada yang bergerak diatas pohon itu, aku bersiap untuk hal buruk yang akan menimpa ku lagi, aku mengutarakan mata ku kesegala arah untuk mendapatkan sesuatu. “hahahaha, itu bukan apa-apa, tenang saja” katanya dengan nada mengejek, “hei, aku sudah mengalami hal-hal yang buruk, aku tidak mau itu terulang lagi!” kata ku dengan nada yang sedikit jengkel. “hahaha, dasar lelaki, selalu bertingkah sok kuat didepan wanita agar bisa terlihat gagah berani” dengan nada mengejek. “arrgh, terserah pada mu saja” kata ku yang sudah kesal. Aku beranjak berdiri dan membersihkan tubuh ku dari dedaunan kering, melihat aku yang sudah berdiri, dia pun mengikutinya sambil memasang senyum menggoda diwajahnya lagi. “ayo, kita harus pergi, aku juga sudah mulai lapar” kata ku. Aku pun langsung beranjak pergi dan dia mengikuti dari belakang. Dalam perjalanan, aku dan wanita itu tidak banyak bercerita.

Aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya, karena aku tahu akan berakibatnya fatal bagiku jika aku salah dalam mengucapkan sesuatu. Diperjalanan aku mencari sesuatu yang bisa kami makan, seperti dedaunan dan beberapa binatang yang ada dihutan ini. sesekali aku menyadari bahwa wanita itu tengah memperhatikan aku dengan tatapan yang membuat ku bingung, ada apa dengan dirinya yang selalu membuat ku curiga. Setelah semua sudah siap untuk disantap, wanita itu hanya makan sedikit dan menyisakan banyak makanan kepada ku dengan alasan “aku udah cukup, ga baik makan terlalu banyak” sambil mengurai senyum diwajahnya. Aku melihatnya dengan tatapan yang heran tapi sambil melanjutkan mengunyah makanan yang aku pegang, “aku baru tau, ternyata perempuan itu takut makannya sedikit” kata ku sambil memalingkan wajah agar tidak melihat kearahnya.

“se, sebentar, ka, kau bilang apa tadi?” katanya terbata-bata sambil menggenggam sekepal tanah ditangannya, dan suasana kembali panas, bahkan lebih panas dari sebelum-sebelumnya, “ugh! Aku tidak bilang apa-apa” jawab ku sambil tertunduk menahan panas yang luar biasa ini, “bohong!!” bentaknya, perlahan ku coba mengangkat kepala ku untuk menatapnya sejenak, “hah!” mata ku terbelalak tak percaya dengan apa yang kulihat dihadapan ku saat ini, betapa terkejutnya aku melihat beberapa helai rambut wanita itu terbakar dan tanah yang dia genggam mulai memancarkan cahaya kuning seperti besi yang sedang dipanaskan. “tu, tunggu dulu, aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang wanita, sungguh! Maaf kan aku!” pinta ku kepadanya karena sebagian pakaian yang ku kenakan mulai terbakar dengan api kecil. Lagi-lagi dalam waktu sekejap udara kembali seperti semula, kecuali sebongkah tanah yang dia genggam masih menyala-menyala karena panasnya. “haaaaaah, kali keberapa aku berpikir bahwa aku akan mati disini? Haaah~” kata ku sambil merebahkan tubuh diatas tanah yang dingin. “janga sekali-kali kau ucapkan hal itu atau pun yang memiliki makna yang sama dengan kalimat itu, kau mengerti?” tanya wanita itu sambil menggenggam tanah yang menyala ditambah tatapan tajam yang jelas itu adalah sebuah ancaman yang serius agar aku tidak mengulanginya lagi, “baik aku mengerti” Wanita itu kembali tenang dan menjatuhkan bongkahan tanah yang dia genggam sedari tadi,

“apa kau masih ingin melanjutkan menghabiskan makanan mu?”
“tadinya sih aku ingin, tapi setelah aku tertunduk karena tekanan dari aura mu itu, aku melihat bahwa makanan ku ikut terbakar dan bisa kau tebak apa yang terjadi?”
“hah? Aku membakar makanan mu? Kenapa kau tidak bilang?
“ck, kalau aku bisa sudah aku katakana dari tadi, tapi… ahh sudah lupakan saja, aku sudah tidak lapar lagi”
“maaf kan aku”
“oh iya, ngomong-ngomong, apa kau punya nama?”
“tentu saja aku punya! Kau pikir aku apa sampai tak memiliki nama”

Sejujurnya aku ingin berkata bahwa dia adalah mahluk hidup entah manusia atau burung raksasa yang bisa terbakar dan senang menyiksa, tapi tak sampai hati ku berkata demikian karena aku pasti akan benar-benar mati terbakar tanpa ada kesempatan untuk  beralasan kepadanya.

“lalu, siapa  nama mu?”
“sebelum itu, perkenalkan diri mu terlebih dahulu”
“hah? Bukannya kau sudah tau tentang aku? Lalu buat apa lagi aku harus memperkenalkan diri kepada orang yang sudah tau siapa aku?”
“apa sesulit itu memperkenalkan diri kepada orang lain bagi mu?”
“ck baiklah! Nama ku Barrow, dan kau?
“haha, singkat sekali dasar… perkenalkan, nama ku Ruby”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan