Langsung ke konten utama

 Melubangi waktu


Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena perhatian hanya terfokus pada kesalahan semata, mencoba untuk terus mengorek luka untuk mencari tau penyebabnya agar hal serupa tidak terjadi di masa selanjutnya, hanya saja aku lupa bahwa yang ku lakukan justru membuat luka lama semakin sulit sembuhnya. Kegiatan ku hanya terpusat pada luka dan kesalahan di masa lalu, membuka lembaran baru hanya sekedar motif yang tabu.

Aku sadar bahwa sudah terlalu lama terjebak pada masa lalu, aku selalu bertanya pada diri ku kenapa sulit untuk melangkah maju, ingin rasanya meninggalkan dan membiarkannya begitu saja berlalu, memang apa baiknya untuk ku jika terus terjebak dengan masa lalu? Toh semuanya pasti berubah oleh waktu. Hanya derai luka dan derita yang terus menjamu membuat ku terus merasa sesak dan malu.

Cukup! Aku muak dengan lemahnya aku di masa itu! Terus menerus jatuh sambil menggumam pilu.

Tapi...

Biar begitu...

Aku selalu menemukan gambaran seberapa tegar diri ku berjibaku melawan waktu walau luka dan derai air mata selalu mewarnai perjuangan itu.

Deru alur selalu menggambarkan haru, akan tetapi tekad tetap bulat untuk melangkah maju.

Tubuh rapuh dan lemah itu perlahan sanggup melubangi dimensi waktu.

Hingga sekarang aku mampu menerima pesan diri ku di masa lalu yang perlahan tersampaikan pada ku.

Alangkah lucu mendapatkan kembali pesan-pesan itu.

Namun, bodoh sekali rasanya jika menertawakan perjuangannya melubangi waktu demi menyampaikan pesan itu pada ku.

Aku tidak ingin memaafkan diriku di masa lalu.

Namun, sepertinya aku telah keliru.

Justru aku lah yang harusnya meminta maaf pada diriku di masa lalu, hanya saja mustahil bagi ku melubangi waktu untuk mu diri ku di masa lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan