Melubangi waktu
Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena perhatian hanya terfokus pada kesalahan semata, mencoba untuk terus mengorek luka untuk mencari tau penyebabnya agar hal serupa tidak terjadi di masa selanjutnya, hanya saja aku lupa bahwa yang ku lakukan justru membuat luka lama semakin sulit sembuhnya. Kegiatan ku hanya terpusat pada luka dan kesalahan di masa lalu, membuka lembaran baru hanya sekedar motif yang tabu.
Aku sadar bahwa sudah terlalu lama terjebak pada masa lalu, aku selalu bertanya pada diri ku kenapa sulit untuk melangkah maju, ingin rasanya meninggalkan dan membiarkannya begitu saja berlalu, memang apa baiknya untuk ku jika terus terjebak dengan masa lalu? Toh semuanya pasti berubah oleh waktu. Hanya derai luka dan derita yang terus menjamu membuat ku terus merasa sesak dan malu.
Cukup! Aku muak dengan lemahnya aku di masa itu! Terus menerus jatuh sambil menggumam pilu.
Tapi...
Biar begitu...
Aku selalu menemukan gambaran seberapa tegar diri ku berjibaku melawan waktu walau luka dan derai air mata selalu mewarnai perjuangan itu.
Deru alur selalu menggambarkan haru, akan tetapi tekad tetap bulat untuk melangkah maju.
Tubuh rapuh dan lemah itu perlahan sanggup melubangi dimensi waktu.
Hingga sekarang aku mampu menerima pesan diri ku di masa lalu yang perlahan tersampaikan pada ku.
Alangkah lucu mendapatkan kembali pesan-pesan itu.
Namun, bodoh sekali rasanya jika menertawakan perjuangannya melubangi waktu demi menyampaikan pesan itu pada ku.
Aku tidak ingin memaafkan diriku di masa lalu.
Namun, sepertinya aku telah keliru.
Justru aku lah yang harusnya meminta maaf pada diriku di masa lalu, hanya saja mustahil bagi ku melubangi waktu untuk mu diri ku di masa lalu.
Komentar
Posting Komentar