Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019
KSATRIA Banyak yang terusik dengan keberadaannya, mahluk terabaikan namun paling tegar perawakannya. Sentuhan lembut mampu membuatnya terbunuh, apalagi jika diinjak dengan kekuatan penuh. Kaki kecil yang terlihat rapuh menghujam ke bumi tanda mereka sudah siap bertaruh. Kenapa lah harus bertaruh jika hasilnya pun tidak mencapai separuh?. Kita tidak saling bertegur sapa, apalagi bertukar cerita, hanya senyap yang berhasil meyela tanpa kami beri kabar berita. "Buat apa mereka mengembara? sudah sana kembali saja, karena kalian bisa saja binasa jika aku tidak sengaja", akan tetapi lenggok langkah kecil merayap cepat seperti ninja membuat mata terus menatap kearahnya. Ternyata dalam langkah sudah terlapis asa, yang menguatkan jika harap tak mencapai rasa. Berkorban nyawa demi sesama, terjalin lingkar hidup tenggang rasa, membuat keyakinan mereka sulit sekali runtuh, walaupun sering sekali mencicipi yang namanya jatuh, mungkin itu sebabnya mereka tidak bisa merasa angkuh. Hid...
BUKA TUTUP Dari awal terasa amat galak, seperti kemerdekaan diri sudah berada dibawah telapak dan terus menerus dipijak, menganggap sudah paling bijak padahal cuma ingin menang banyak, berdalih untk mulai melanjak tapi malah jadinya di cap pembajak, ku hawatir jika ini akan rusak jadi ku putuskan untuk merangkak tidak peduli jika lutut terluka dan membengkak, sedang pandangan terus memperhatikan jarak walau tau bahwa garis finish tidak akan pernah bergerak, dan otak malah sibuk memikirkan sajak, seperti terjebak dalam sebuah kotak dan tak mampu untuk tetap menapak. katanya roda akan terus berputar dan menggilas siapa saja yang tidak pernah sadar, menarik mereka kedalam dasar supaya tetap belajar walau itu terasa amat sukar, karena ilmu yang tumbuh besar sudah pasti memiliki akar, layaknya jangkar yang mampu menahan perahu besar agar  tidak sembarangan berlayar. Berhentilah merasa kekar jika berjalan saja masih belum benar, karena hasil yang tergambar bisa-bisa menjadi hambar da...
PULANGNYA JIWA Keluar rumah tanpa mengatakan apapun sambil berlari. Namun aku malah sampai ditempat seperti ini. Bersama dengan mentari yang hendak pergi, aku mulai tak ingin kembali. Ketika ku sudah putus asa dan tangis tak lagi menjadi wacana. Kota dengan langit senja telah memberi tanda. Burung kakatua berkata bahwa aku sudah terlalu jauh berkelana. Bayangan tubuh ku yang memanjang dijalan. Menarik lengan bajuku untuk segera kembali pulang. Bau ikan bakar, ini bau wangi makan malam. Cacing dalam perut sudah terlalu lama berendam. Aku sudah lelah menjadi keras kepala. Sekarang juga ku harus minta maaf dan menyesali semuanya. Ah, aku ingin segera kembali kerumah. Dihadapan ku muncul anak kecil yang sedang berlari menjauh. Dia terisak dan tersedu-sedu. Tanpa melihat kanan dan kiri dia berlari menjauh seperti tak mau tau. Punggungnya lenyap dalam kegelapan. Seperti diri ku dikala harapan tak kunjung berpapasan. Ku berlari kembali sambil mengusap air mata. Mengejar b...
STRATA ASA Banyak hal yang ingin ku tiru darinya, dari hal yang paling sederhana hingga yang tak terlihat oleh kasat mata, tapi tak kunjung juga ku bisa beriringan dengannya, bahkan dari jalan saja ku tak bisa mengimbanginya. Penilaian orang terhadapnya menembus batas logika, padahal citranya dibangun apa adanya, lantas ko bisa? berperawakan sederhana namun berefek hiperbola, ku makin takjub dibuatnya. Pandangannya menembus zaman, membuat ku terus merasa heran, apakan hanya sekedar tebak-tebakan atau memang melalui panjangnya perhitungan. Jarang ku berselisih pendapat dengannya, mencari tau asas logikanya dan jawaban yang ku terima "memang ku berbeda level dengannya", seperti langit yang tak bertiang, bertabur gemerlap gugusan bintang, walau berperawakan sedang namun pemikirannya begitu panjang melintang. Ibu pernah berkata "jadilah sepertinya", tapi bagaimana caranya jika waktu saja sulit negonya, "ajaklah bicara, kamu akan temukan cerita dibalik senyuma...
CAKRAWALA Sewaktu semua berjalan dalam koridor yang nyaman, hampir segala hal terasa amat mudah digapai dengan usaha yang bisa dibilang kurang maksimal, paling tidak begitu pikir ku waktu itu. Terkadang diri ini heran mengapa terasa amat begitu mudah menggapai keinginan padahal waktu itu kondisi tidak amat buruk untuk memulai langkah baru lagi, seperti dinina bobokan oleh keadaan yang sudah terlajur tinggi. Beberapa kali datang teguran dari ibu dan ayah untuk melihat ke sekeliling diri agar bisa melunakan hati dan segera melakukan gerakan antisipasi sejak dini agar berguna bagi agama, bangsa negara, lingkungan, serta keluarga sendiri. Amat disayangi, itu hanya berfrekuensi kecil jadi tidak sampai bertegur sapa dengan gendang telinga sebelah kiri. Sampailah pada waktu remaja, dengan gejolak yang selalu membara dan menyala-nyala. Banyak sekat pada diri sejak usia dini, membuat pribadi haus akan informasi juga perkembangan teknologi yang erat berdampingan dengan inovasi, memang belum ...