Langsung ke konten utama

SILUET DIBALIK TIRAI


Penulis : Narator 

Kami adalah korban dari kebengisan cinta, banyak perlakuan yang tidak semestinya dilakukan atas dasar nama cinta yang tabu. Setiap luka dan derita yang kami rasa sangat membengkas dihati kami, tapi, kami tidak ingin berputus asa dari makna kemurnian cinta. Bagian pahit adalah penyedap bagi pembelajar kami untuk menjejaki jiwa yang dewasa. Penerimaan atas kelemahan, ketidak berdayaan, keterpurukan, dan pasrah akan kenyataan. Kami ingin menulis cerita yang berakhir dengan bahagia walau dalam prosesnya selalu ada derai air mata, sesak dalam dada, juga jeritan jiwa yang tak bersuara. 

Kami selalu bertanya apa artinya hidup jika tidak bisa menikmatinya, tapi, kami pun tak tau bagaimana caranya menikmatinya. Kenikmatan apa yang sebenarnya kami cari, kami pun tak tau seperti apa, mungkin kami hanya ingin menikmati mimpi indah yang selalu menemani kami dalam ketidak nyataan dunia. Jika hal itu terjadi, apakah bisa membayar lunas semua derai air mata yang sudah tak terhitung banyaknya?

Mereka bilang bahwa melupakan adalah bentuk lain dari kebahagiaan, membuat beban terasa tak memberatkan. benarkah begitu? Apa lupa bisa membuat kami bahagia? Tapi mengapa kami malah semakin tersiksa? Apa ini adalah bentuk lain dari cinta? Kami tak bisa memastikannya. Untaian mimpi terasa menjauhi kami, beragam luka yang begitu menyayat hati membuat kami semakin enggan untuk kembali berdiri.

“rangga, ada yang mau aku omongin sama kamu, ini serius”
“apa?”
“ini tentang rencana pernikahan kita”
“ooh, kenapa lagi? Kan kita udah sepakat”
“aku mau kita batalin rencana itu”
“..…”

Perasaan sunyi membungkus hatinya yang terlanjur beku, menatap wajah yang terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata.  Air mata sudah tertumpah ruah diwajah itu, begitu juga suara isak tangis masih terdengar lantang walau tangan sudah menutup seluruh wajah. Oh tunggu dulu, mungkin adegan ini terlalu jauh untuk memulai ceritanya, aku harus mundur lebih jauh lagi untuk bisa memulai kisah kami.

---<o0o>---

Penulis : Ari

Kami berempat adalah pasien di rumah sakit yang sama, pertemuan kita berempat bisa dibilang tak sengaja tapi terencana, hehehe… diantara kami berempat, hanya ada satu orang yang biasa menulis ataupun membaca, dan dialah yang menyarankan untuk menuliskan kisah kita masing-masing disebuah buku yang sama, hmm… mungkin caranya ini mirip dengan novel berantai, tapi bedanya kita bebas menuliskan berbagai hal didalmnya.

Tapi tunggu dulu, aku ragu kalau ini sama dengan novel berantai, karena kita bebas menuliskan apa yang kita mau, dan nantinya buku ini akan berpindah kepada giliran yang lain, pastinya tulisan ini juga akan dibaca oleh yang lainnya kan, hahaha… berarti aku ralat omongan aku yang sebelumnya, lebih tepatnya cara ini hampir mirip kaya surat-suratan buat kami berempat dengan dalih novel berantai.

Sekarang aku mau bahas sedikit tentang giliran kita nulis dibuku ini. Kami bertiga sepakat nentuin ururtan nulis dibuku ini dengan nyesuain ururtan siapa diantara kita berempat yang dirawat duluan dirumah sakit ini. Oke, tadi aku bilang yang sepakat dengan ide ini tiga orang, sedangkan kami berempat, berarti ada satu yang ga setuju dengan ide ini kan. Kalo kalian penasaran (tapi kayanya ga juga sih) yang ga setuju sama ide ini adalah aku, soalnya aku dapet giliran pertama. G iliran pertama  tuh bakal buat aku kurang maksimal, salah satu faktor yang paling dominannya sih karena deg-degannya itu, dan aku yakin untuk hal ini aku ga sendirian, pasti masih banyak orang lain dibelahan bumi yang ntah dimana pasti ngalamin hal sama juga.

Hmm… aku ga tau mau nulis apa lagi,



Oh iya, aku lupa jelasin. Jadi tuh kami berempat ada dikamar yang beda-beda, yaa ga semuanya beda sih, aku sama rangga sekamar soalnya, sedangkan priscilia sama adam beda ruangan, untuk lebih detailnya biar mereka aja nanti yang ngejelasinnya ya, hahaha…  sekarang aku mau bahas kamar aku sama rangga aja. Rumah sakit ini sama aja kaya rumah sakit pada umumnya, punya kamar yang dsesuaikan dengan kelas-kelasnya. Tapi yang buat rumah sakit ini sedikit beda ada di penempatan susternya, untuk kamar kelas 1 dan VIP, ada fasilitas tambahan yaitu punya 1 suster penanggung jawab kamar sekaligus pasien.

Karena aku ada di kamar kelas satu, kamar yang berkapasitas dua pasien ini, makannya aku bisa sekamar sama Rangga. Awalnya kamar ini terasa kaya kamar VIP, karena kasur sebelah aku ga pernah ada yang ngisi, sekalinya aku denger kabar ada pasien baru dateng, pasti dioper ke kamar yang lain. Jadi… kalo boleh jujur sebenernya aku ngerasa kesepian dikamar sendirian. 

Sebelum Rangga nginep di kamar ini, aku selalu ditemenin sama suster. Dia baik dan perhatian banget sama aku, selain itu dia juga lumayan iseng dan kelewat berani sih menurut aku. Dia pernah tidur dikasurnya rangga sebelum rangga nginep dikamar ini, aku sempet hawatir sama tingkah dia, tapi dia malah jawab “udah ga usah dipikirin” dengan entengnya.

Waktu yang aku lalui sama suster itu lumayan lama, dia juga pernah bilang kalo dia seneng ngurusin aku. Sampai deh waktu dimana rangga “join” dikamar ini, hehehe… (mohon maap ya kalo kalimat yang sebelumnya itu agak ambigu) Aku seneng banget pas denger kabar kalo akan ada pasien yang ditempatin dikamar ini, akhirnyaaa… setelah sekian lama penantian ku berbuah juga, hehehe. 

Pernah ga sih kalian berekspektasi atau berhayal tentang sebuah kondisi yang bisa membantu kalian buat keluar dari kalutnya pikiran? kalo aku sih sering. Nah balik lagi ngomongin mahluk itu, aku seneng banget akhirnya aku punya temen ngobrol dan diskusi bareng, yaa walaupun awalnya aku agak sedikit kecewa sih soalnya aku berharap kalo yang nempatin kasur disebelah aku perempuan. Kalo ada yang tanya seneng apa ga sekamar sama dia, aku bisa dibilang seneng- ga seneng sekamar sama rangga, soalnya dia itu beda banget sama yang aku pikirin, cuek, galak, susah diajak ngobrol, pokoknya parah deh, aku aja sampe jengkel ngobrol sama dia, tapi untungnya itu pas diawal aja, makin kesini rangga makin terbuka dan malah dia yang paling banyak ngomong dari pada aku, hehehe.

Aku pernah ngaduin rangga ke suster tentang kejengkelan aku pas awal ngobrol sama dia, terus suster itu malah marahin rangga. jahat ga sih kalo sesekali bales kejahatan orang lain dengan cara tidak langsung? sedikit doang gapapa lah ya, hahaha… kayanya aku cuma bisa nulis sampe sini dulu deh, cerita lanjutannya mungkin bisa diterusin sama yang lain nanti. Maap ya kalo berantakan. Semoga hari kalian bahagia, dan semoga aku ga diomelin sama rangga dan priscilia terkait tulisan aku yang berantakan. Hehehe… wasalamu’alaikum…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandangan ku menatap mu membuahkan banyak pertanyaan yang tak bisa ku selesaikan. Beragam kemungkinan dan ketakutan menjamah isi kepala yang tanpa pertahanan. Mengait, menarik, membesar, serta meresahkan. Dunia ini penuh dengan sesuatu diluar kendali ku sebagai insan yang tak pandai menerka. Perasaan abstrak yang tidak bisa ku terjemahkan dengan logika. Mengerakan hati ini kepada sesuatu yang tak pernah bersarang di dalam kepala. Penjahat seperti ku apa layak meraih Bahagia? Tangan ini dingin dan penuh dengan noda Aku adalah mahluk yang terlumur dosa juga hina. Melihat mu adalah keniscayaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Indah dan menenangkan. Tapi aku takut. Tuhan ku maha pencemburu. Aku tak mau menggantikan posisiNya dari yang pertama dalam hidupku. Tak sanggup ku suarakan perasaan yang Tengah membelenggu. Kedudukan mu dihadapan Tuhan ku sangatlah tinggi dan terpuji. Berbanding terbalik dengan ku yang hina, dina, serta nestapa. Maha terpuji...
Tidak mau mendekat kepada orang lain karena berujung pada masalah, namun bukankah hal itu normal terjadi jika perselisihan terjadi di dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, pekerjaan, asmara, dan keluarga. titik-titik yang saling berhubungan akan membentuk pola beragam tergantung respon setiap orangnya. Kebodohan terbesar adalah bertaruh sepenuhnya kepada seseorang, c elaka diri ini karena berdampingan dengan kekecewaan,  Dimabuk kepayang dengan angan yang terus mengambang dalam angan,  Tak mampu melihat dengan benar dalam kalap semunya sebuah harapan,  Mencumbu rasa tanpa membawa logika terasa begitu menyesatkan. Satu Langkah Banyak rasa yang tak bisa terucap dalam penjelasan singkat, berharap bisa menjelaskan secara gamblang tentang sebarapa besar luka dan derita yang selama ini di emban dalam menjalani hari-hari yang dipenuhi canda dan tawa. Tak ada hari yang dilewati tanpa penyesalan dan jeritan yang tak bersuara karena kebodohan yang pernah dilakukan di masa lalu...
Mahkota kecil Jangan menangis Mengarungi hiruk pikuk fatamorgana dengan lentera kecil kamu berusahan menerangi sisi gelap hatimu yang membeku semua orang menjauhi mu dari balik jendela terlihat ufuk yang berwarna jingga dengan siluet unggu sambil memeluk kedua lutut kamu berusaha membiarkannya berlalu deru angin memabawa harmoni seolah mengetuk pintu yang tertutup cukup lama dalam hati jangan bersedih mahkota kecil ingatkah kamu saat melukis garis dalam gemerlap bintang saat malam datang kamu tersenyum riang seolah langit berkilau gemilang gelapnya tidak menakuti mu karena kamu melihat pantulan dirimu yang terang saat itu kamu melihat sesuatu yang sempat tertinggal dari mu kini perlahan datang mahkota kecil kejamnya dunia sama sekali tidak menghancurkan mu gelapnya malam tidak meredupkan mu panasnya siang tak menghanguskan mu mahkota kecil berjanjilan kalau kamu tidak akan hilang karena senyuman itu seperti mahkota kecil yang terus kamu kenakan