Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020
Gerhana Kala sendiri dia selalu mencari kawan yang mampu menemani. Dia sangat benci sosok yang terlihat dicermin saat sendiri. Menatap tajam ke arahnya. Dan mulut tak kuasa menghujatnya. Pertengkaran selalu menjadi sarana untuk bisa menyapa. Sekedar berkata tanpa berbuah makna. Mereka saling menutup kebenaran kejadian. Karena salah satunya telah menjadi gerhana bagi sebuah pendirian. Berwujud sama namun saling bersebrangan. Apa yang pernah singgah pada angan kini telah menjadi sebuah kejadian. Tarik ulur kepentingan dengan kasar. Gerasak-gerusuk membuat gusar. Penerimaannya terhadap diri sendiri ternyata memakan waktu yang panjang. Berbagai rintangan harus terus diterjang. Tercebur, tenggelam, dia harus mampu tetap berenang. Walau suasana hati membuatnya tidak merasa senang. Namun itu adalah syarat agar menjadi pemenang.

AURA

Waktu terasa bergulir sangat lambat, awal aku tersadar dari mimpi buruk langit masih sangat gelap berhiaskan taaburan bintang, malam itu adalah malam dengan cahaya rembulan paling terang yang pernah aku lihat. Aku merasakan lembutnya angin membelai permukaan kulit juga dedanan di pohon-pohon dekat tempat kami terjaga, aku bangkitkan tubuh perlahan-lahan, terlihat ruby terus menatap ku dengan tajam, entah apa yang dia pikirkan, tapi tatapannya itu benar-benar mengganggu ku. Sesaat ku coba meraih daging yang sudah hangus terbakar, aku teringat dengan mimpi yang tadi sempat tak tuntas ku ceritakan padanya. “ruby, apa kau tahu tentang seseorang dengan zirah besi?”Terlihat mata ruby yang sedikit membesar dari sebelumnya. Mendapati hal tersebut aku menduga bahwa dia terkejut dengan pertanyaan ku tadi. “seseorang dengan zirah besi? Bisa kau ceritakan dengan detil?” ucapnya sambil menyondongkan tubuhnya sedikit kedepan, dalam benak aku mengira bahwa ruby tahu tentang hal tersebut, mungki...

AURA

Pandangan buram dipenuhi kabut tebal di hadapan, hanya sedikit sekali aku dapatkan bayangan pohon jika aku mendongak ke atas. Disekujur kaki ku terasa begitu dingin, tanah yang lembab dengan rumput yang masih basah oleh embun membuat tapak ini semakin sulit untuk melangkah. “dimana aku?” tanya ku sambil melempar pandangan ke segala arah. Keadaan begitu sunyi, bahkan sampai suara angin pun tidak terdengar oleh telinga. “ugh!” kaki ku tak bisa digerakan, berulangkali ku coba untuk mengangkat kaki ini tetapi tetap saja tak mau terangkat. “sekarang kenapa lagi?” keluh ku sambil melihat kedua kaki yang seolah tertancap kedalam tanah, “ugh! Ayolah! Aku harus segera pulang kerumah, aku sudah lelah dengan semua ini!” keluh ku sambil mencoba mengangkat sebelah kaki dengan kedua tangan. perlahan tapi pasti kaki ku kini bisa menjejaki langkah yang maju, walau tetap harus dibantu oleh kedua tangan untuk mengangkatnya silih berganti dari yang kanan hingga yang kiri. Sambil terus bersusah ...