Ayah, kami ingin seperti diri mu.
Tulang punggung mu adalah pondasi utama rumah tangga.
Pandai menjaga keluh dan air mata.
Pundak kecil yang terasa begitu kuat.
Tubuh tegap yang selalu mengarahkan kami untuk tetap menghadap kiblat.
Pelukan mu yang sesaat terasa begitu hangat.
Perjuangan panjang dengan cucuran keringat.
Rasa tubuh meronta menuntut untuk istirahat, namun ayah lipat semua dihadapan kami yang tak pandai menebak.
Ayah, sosok mu menjadi inspirasi kami melanjak.
Ayah, kami tau kenapa selalu punggung yang ayah perlihatkan, pasti dibaliknya banyak luka dan duka yang tak ingin ayah tunjukan walau hanya sejenak.
Ayah, kami ingin menjadi seperti mu.
Bahkan, kami pula ingin melampaui mu.
Menggandeng kami dengan genggaman kuat.
Mengajarkan berhitung dengan akurat.
Ayah, layak kah kami tumbuh besar?
Ibarat bunga, mungkin kami sudah mekar.
Tapi, bunga diambil tidak bersama dengan akar.
Lalu, bagaimana jika kami akhirnya layu dan dibakar?
Ayah,
Pohon yang ayah tanam, justru kami yang nikmati.
Ayah, maafkan kami.
Apakah kami terlalu menyakiti?
Sebesar apapun tubuh kami.
Sepanjang apapun jalan yang telah kami lalui.
Setinggi apapun ilmu yang kami miliki.
Bagimu, kami adalah sosok yang harus selalu dilindungi dan disemangati.
Ayah, apa kami sanggup seperti mu?
Dengan segala cita dan cinta yang selalu ayah beri.
Komentar
Posting Komentar